Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Obituari

Napasnya Adalah Tugas

Tak setuju "petrus" dan bisnis anak-anak Soeharto.

SUATU sore, pertengahan Februari 1983. Jenderal Purnawirawan Umar Wirahadikusumah sedang merenung di rumahnya ketika mendapat telepon dari ajudan Presiden Soeharto. Ia diminta segera ke Istana Negara. Sesaat, ia sempat terkesiap—ada apa?

"Mungkin karena saya sudah dua periode jadi Ketua BPK, jadi Pak Harto akan menyudahi tugas saya di situ. Kamu tidak perlu kecewa," ujarnya kepada sang istri, Karlinah, yang juga tampak kaget. Saat itu, ia memang sudah menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan selama sepuluh tahun.

Umar bergegas ke Istana. Ia kaget ketika ternyata Soeharto memintanya menjadi wakil presiden. Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat akhirnya memang menetapkan namanya untuk jabatan itu.

Tugas yang diembannya sebagai wakil presiden, antara lain mengawasi pelaksanaan pembangunan nasional, membuatnya banyak melakukan kunjungan mendadak ke daerah. Inspeksi mendadak (sidak) mewarnai kepemimpinan Umar saat itu.

Ia juga tak segan-segan memberikan saran—kalau tidak dibilang mengkritik. Ia, misalnya, seperti dikutip dari biografi Karlinah, Bukan Sekadar Istri Prajurit (2000), sempat menyarankan agar tindakan "petrus" (penembakan misterius) dihentikan. Ia juga menyatakan keberatannya terhadap anak-anak Soeharto yang terlalu banyak berbisnis. Seperti bisa diduga, Soeharto merasa tidak senang. Soeharto pun "mendiamkan" Umar selama beberapa hari. Tapi Umar tetap teguh pada prinsipnya dan dengan lapang dada menerima perubahan sikap Soeharto sebagai sebuah risiko pekerjaan.

Segala kisah itu akan menjadi kenangan. Jumat pagi pekan lalu, setelah dirawat selama dua minggu di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, akibat penyakit jantung yang dideritanya, wakil presiden keempat RI (1983-1988) itu mengembuskan napas terakhirnya pada usia 79 tahun. Selain meninggalkan seorang istri, ia meninggalkan dua anak angkat, Rina Ariani dan Nila Shanti.

Di antara para pelayat tampak mantan presiden Soeharto, yang datang ke RSPAD didampingi mantan menteri-sekretaris negara Saadilah Mursjid serta putrinya, Siti Hardijanti Rukmana dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Presiden Megawati Soekarnoputri tiba di rumah duka di Jalan Teuku Umar 61 sekitar pukul 15.00 WIB. Sebelumnya, Wakil Presiden Hamzah Haz dan mantan presiden B.J. Habibie juga datang melayat. "Sampai akhir hayatnya, saya tidak pernah mendengar yang jelek tentang beliau," kata Hamzah. Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono menyebutnya, "seseorang yang mampu menempatkan diri sebagai negarawan."

Pada pukul 16.08 WIB, ditandai dengan salvo dan diiringi lagu Gugur Bunga, jenazah Umar dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Upacara pemakaman yang dipimpin mantan wakil presiden Try Sutrisno itu dihadiri banyak pejabat dan mantan pejabat negara.

Umar masuk rumah sakit pada 5 Maret lalu dan dua hari kemudian menjalani perawatan di intensive care unit (ICU) karena kondisi kesehatannya semakin turun. Pada saat pertama kali masuk, Umar mengalami keluhan pada bagian jantungnya seperti sesak napas. "Kakinya juga membengkak," ujar Dokter Christ Yohannes. Sebelumnya, Umar sempat dirawat karena mengalami kelainan pada jantungnya.

Lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada 10 Oktober 1924, karier Umar cukup cemerlang. Pada 1 Desember 1965, ia menjabat Panglima Kostrad menggantikan Mayjen Soeharto. Kariernya menanjak lagi menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1969. Jabatan KSAD dilepasnya pada 1973. Kemudian ia diangkat sebagai Ketua BPK, lalu menjadi wakil presiden.

Menurut Karlinah, pertemuannya dengan sang pujaan hati sangat unik. Waktu itu, hari Natal tahun 1956, "Seorang famili saya datang dengan seorang tentara," tuturnya. Tentara itu adalah Letnan Kolonel Umar Wirahadikusumah, Komandan Resimen 10 Siliwangi, yang berkedudukan di Garut. Tidak sampai dua bulan Karlinah mengenal overste itu, pada 2 Februari 1957 keduanya menikah. "Baru ketemu, terus minta," ujarnya. Tak ubahnya sebuah serangan kilat—blitzkrieg.

Lelaki penggemar sepak bola, tenis, dan golf itu juga tidak suka memilih-milih jabatan atau pekerjaan. Semua dilakoninya dengan baik. "Napas Umar adalah tugas," ujar Karlinah.

Tugasnya usai begitu ia mengembuskan napasnya yang terakhir.

Budi Putra, Tempo News Room


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
26/XXXVII/18 - 24 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Ketinggian Pohon Punya Batas - 21 Ags 2008 | 22:57 WIB
Polisi Jawa Barat Ingatkan Pelaku Pembajakan - 21 Ags 2008 | 22:56 WIB
Susyana Rebut Perunggu - 21 Ags 2008 | 22:43 WIB
Kontras Desak Semua Saksi Peradilan Muchdi Dihadirkan - 21 Ags 2008 | 21:43 WIB
Terlibat Pidana, 15 Polisi Terancam Dipecat - 21 Ags 2008 | 21:25 WIB
Kualitas Laporan Keuangan Daerah Makin Buruk - 21 Ags 2008 | 21:19 WIB
Rio Tinto Tunggu Persetujuan Pemda dan DPR - 21 Ags 2008 | 21:18 WIB
Partai Politik Segera Dapat Dana Bantuan Pemerintah - 21 Ags 2008 | 21:12 WIB
Polisi Cokok Dua Jaringan Narkoba Afrika - 21 Ags 2008 | 21:06 WIB
KPU Tak Punya Aturan Tentang Kepala Desa yang Jadi Calon Legislator - 21 Ags 2008 | 20:59 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data