|
Win Tamba—bukan nama sebenarnya—salah satu korban kekerasan Sabtu dua pekan lalu itu. Kepada TEMPO yang menemuinya di Pegasing, Aceh Tengah, pria berusia 48 tahun ini menuturkan kesadistisan kawanan bersenjata itu. Penuturannya:
Seperti biasa, setiap Sabtu bersama istri saya berjualan pakaian di Pasar Jagung, Pegasing. Anak saya berusia lima tahun juga dibawa serta. Selepas pasar ditutup, sekitar pukul 15.00, kami pulang ke rumah. Dari pasar menuju rumah sekitar 45 menit. Karena jalannya cukup baik, saya memacu kecepatan pada 65 kilometer per jam. Semuanya aman tenteram, seperti hari-hari pasar sebelumnya.
Setelah melewati sebuah tikungan, kami melihat belasan mobil berhenti di tengah jalan. Mengira ada mobil mogok, saya menekan rem lalu berhenti. Saya melihat puluhan orang bertiarap di pinggir jalan. "Kok, aneh," pikirku.
Tiba-tiba sejumlah orang bersenjata menyerbu, menodongkan senjata ke arah kami sembari membentak, "Keluar dari mobil." Sejumlah orang lainnya memukul-mukul kaca mobil. Beberapa di antara mereka mengenakan baju loreng, seperti yang biasa dipakai oleh TNI dan GAM. Tapi tidak ada atribut apa pun. Tidak ada logo TNI, tidak juga logo GAM.
Saya benar-benar takut, juga istri dan anak saya yang masih kecil itu. Dalam ketakutan itu saya keluar dari mobil. "Tiarap," bentak seorang dari kawanan itu. Saya langsung tiarap. Anak saya menangis dan berlari ke arah saya. Si kecil ini juga dipaksa tiarap.
Tapi istri saya kesulitan keluar dari mobil sebab kakinya sakit. Karena ia tak keluar-keluar, seorang dari kawanan itu menariknya ke luar, lalu menyuruhnya berlari ke timur, bergabung dengan sejumlah wanita lainnya. Rupanya mereka memisahkan laki-laki dengan perempuan.
Kawanan ini memaksa semua orang di situ menyerahkan KTP. Sembari terus tengkurap, saya menyerahkan KTP itu. Saya hanya bisa mengintip, sejumlah orang lainnya juga menyerahkan KTP-nya. Tiba-tiba mereka menyeret dua warga. Keduanya meronta-ronta dan menangis sekeras-kerasnya. Dua orang ini dipaksa berlutut menghadap jurang, lalu kepalanya ditembak. Mati. Kedua mayat itu langsung dibuang ke jurang. Aku merinding ketakutan.
Dari puluhan warga yang tiarap itu, juga terdapat dua orang anggota polisi, yaitu Briptu Muhammad dan seorang bernama Kasman. Ketika Muhammad mengaku sebagai polisi, seorang kawanan itu kontan mengarahkan bedil ke kepala polisi itu. Tapi seorang kawanan lainnya mencegah. Dua polisi itu selamat.
Kawanan bersenjata ini menguras habis isi dompet kami. Uang satu juta milikku, hasil dagang di pasar, digasak habis, lalu dompetnya dikembalikan. Setelah itu, mereka membakar semua mobil yang ada di situ, tak ada satu pun yang lolos.
Setelah api berkobar, handy talky yang dipegang oleh orang yang berdiri di samping saya berbunyi. Terdengar ada perintah dari seberang dengan bahasa Gayo, "Nge ya ulakmi." Artinya, ya sudah, pulangkan saja mereka.
Tak lama kemudian mereka memaksa kami lari ke barat. Karena kakinya sakit, istri saya tak bisa lari. Dalam ketakutan yang luar biasa, saya menggendong istri saya dan terus lari mengikuti rombongan lainnya. Anak saya yang masih kecil itu terseok-seok berlari di depan saya. Para pelaku kemudian lari ke atas bukit.
|