Saling Tuding Pasukan Misterius Dua penduduk tewas, belasan kendaraan dibakar. Masyarakat melakukan sweeping. Takengon pun kian mencekam. |
TAKENGON, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, sepi senyap hingga akhir pekan lalu. Para sopir angkutan umum memarkir kendaraannya di terminal pusat kota, tak sudi mengangkut penumpang ke daerah kecamatan, juga ke kota kabupaten lain. Akibatnya, pasokan kebutuhan pokok mampet, harga naik mencekik. Seliter bensin melambung ke Rp 3.500 hingga Rp 4.000, padahal sebelumnya cuma Rp 1.900. Sebutir kelapa—sebelumnya Rp 1.000—tiba-tiba meroket ke Rp 3.000. Kebutuhan pokok lain seperti garam, cabe, indomie, ikut melambung.
Adalah aksi sweeping warga yang marak di sejumlah ruas jalan menuju kota itu yang menakutkan para sopir. Dari terminal Takengon mereka menuturkan, belakangan ini mereka kerap dicegat sekelompok orang yang mengenakan sebu—semacam topeng. Malah ada yang bersenjatakan pentung, panah beracun, bahkan senjata rakitan. "Daripada mati, lebih baiklah di sini saja," kata seorang sopir angkutan luar kota.
Aksi sweeping ini disulut oleh serangan sekelompok orang bersenjata di Gunung Lintang, Kecamatan Pegasing, Sabtu dua pekan lalu. Pada sekitar pukul 15.00 hari itu, kawanan bersenjata tersebut mencegat sejumlah angkutan dan mobil pribadi yang lewat di Jalan Pegasing, ruas yang menghubungkan Takengon dengan Kutacane, ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara. Di bawah todongan bedil, penumpang dipaksa keluar dari mobilnya, disuruh tiarap, lalu satu per satu diperiksa KTP-nya.
Siapa nyana, nahas menimpa dua penumpang. Keduanya dipaksa berlutut menghadap jurang, lalu... ditembak mati! Mayatnya ditendang ke jurang. Kawanan itu kemudian menggasak harta penduduk, membakar sebelas mobil, juga empat sepeda motor. Setelah api menjilat langit, kawanan itu kabur ke belantara Gunung Lintang. Selanjutnya, daerah ini sunyi senyap, malah terkesan mencekam. Ketika TEMPO menyusuri lokasi itu Kamis pekan lalu, tak ada kendaraan yang lewat, kecuali satu truk yang ditumpangi belasan anggota Brigadir Mobil (Brimob) dari kepolisian Takengon.
Begitu bersiaganya para Brimob ini, sehingga moncong senjata langsung diarahkan begitu berpapasan dengan mobil yang ditumpangi TEMPO. Bedil itu baru diturunkan setelah mereka diacungi kartu wartawan. Toh, hingga akhir pekan lalu, aparat kepolisian setempat belum berhasil mengidentifikasi, apalagi menangkap, kawanan bersenjata itu. Di Jakarta, Kepala Kepolisian Indonesia, Jenderal Da'i Bachtiar, cuma bisa berjanji bahwa pihaknya serius mengusut kasus ini.
Walau sejumlah saksi mata di lapangan menuturkan bahwa pelakunya anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Da'i tampaknya tak mau gegabah. "Pelaku serangan belum tentu anggota GAM," katanya kepada wartawan, Senin pekan lalu. Berbeda dengan aparat kepolisian, para petinggi TNI cepat tanggap menunjuk hidung. "Pelakunya adalah kelompok separatis Aceh Merdeka," kata Letnan Kolonel Amrin, Komandan Militer Aceh Tengah, kepada TEMPO. Kesimpulan itu, Amrin melanjutkan, didasarkan pada kesaksian sejumlah korban di lapangan: lima di antara penyerang menggunakan baju loreng dengan atribut GAM.
Keterangan Amrin diperkuat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Soesilo Bambang Yudhoyono. Menurut Soesilo, para penyerang jelas-jelas kelompok Gerakan Aceh Merdeka. "Dari akal sehat saja bisa dilihat, pelakunya pasti GAM," kata Menteri Soesilo kepada wartawan, Senin pekan lalu. Tragedi itu, menurut dia, telah membuka mata masyarakat bahwa warga justru menjadi sasaran kebrutalan pihak GAM. Serangan itu bertujuan mengacaukan sejumlah kesepakatan perdamaian yang sudah diteken kedua pihak.
GAM, sebaliknya, malah menuding tentara Indonesia di belakang aksi brutal itu. "Pelaku kerusuhan adalah warga sipil bersenjata yang dibina TNI," kata juru bicara GAM, Sofyan Daud. Selama ini, kata Daud, pasukan GAM cuma mengincar tentara dan polisi Indonesia, bukan warga. Nah, dari puluhan warga yang dicegat kawanan bersenjata Sabtu pekan lalu itu, terdapat dua polisi, yaitu Briptu Muhammad dan seorang lagi bernama Kasman. Logikanya, kata Daud, jika kawanan itu pasukan GAM, kedua polisi itu pasti tewas terbunuh. "Faktanya, mereka selamat," ujarnya. Menurut Daud, aksi itu bertujuan membubarkan Joint Security Committee (JSC)—komite keamanan bersama yang merepresentasikan GAM, TNI, dan PBB untuk mengawasi proses perdamaian di Aceh—dari Bumi Tanah Rencong.
Sebetulnya bukan kali ini saja kawasan Aceh Tengah diserbu kelompok misterius. Pada 26 Februari lalu, tiga warga Aceh Tengah diculik oleh sekelompok orang tak dikenal. Dua hari kemudian, seorang juragan kopi dirampok, juga oleh sekelompok orang tak dikenal. Hasil investigasi JSC menyimpulkan bahwa sejumlah rangkaian aksi kekerasan itu saling berhubungan. Ketika kejadian ini dikonfirmasi kepada Ketua JSC, Thanongsuk Tuvinum, ia enggan berkomentar panjang. "Kami telah meminta pihak Indonesia untuk berkoordinasi dengan kepolisian dan menyampaikan hasil investigasi yang telah dilakukan," katanya.
Karena para pengacau itu tak kunjung ditangkap, warga terus dirundung cemas, lalu memilih menjaga diri. Setelah insiden di Gunung Lintang tersebut, sejumlah warga Aceh Tengah memperketat penjagaan di permukiman masing-masing. Hampir setiap kampung memberlakukan ronda malam. Sejumlah pos ronda malah dibentengi dengan pasir dan papan setinggi satu meter—laiknya bersiaga menghadapi perang.
Wenseslaus Manggut dan Yuswardi, Zainal Bakri (Takengon)
|