Virginia Woolf: Perempuan Harus Memiliki Uang dan Ruangnya Sendiri |
Gadis Arivia
Staf pengajar Jurusan Filsafat dan Kajian Wanita Universitas Indonesia dan Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan.
Bagaimana para penulis menggoreskan tintanya tentang kehidupan Virginia Woolf? Mereka menulis dengan judul-judul seperti ini: "Virginia Woolf mengalami kekerasan seksual ketika masih kecil" (de Salvo); "Apakah Virginia Woolf terganggu pikirannya?" (Roger Poole); "Apakah Virginia Woolf pernah gila?" (Stephan Trombley), "Siapa takut dengan Virginia Woolf?" (Edward Albee dalam karya dramanya). Untuk judul yang terakhir, Hermione Lee menulis buku biografi Woolf dengan judul netral, Virginia Woolf (1999), mengungkapkan bahwa ia telah mengalami ketakutan sekian kali saat menulis tentang Virginia Woolf. Ketakutannya ini terjadi karena karakter Virginia Woolf sungguh kuat dan ia luar biasa pintar. Lee menulis dalam bukunya, "Mungkin saya akan takut bila bertemu dengannya, saya takut tidak menjadi cukup pintar untuknya." (hlm. 1)
Padahal Virginia Woolf sering digambarkan lebih sebagai seorang seniman ketimbang seorang pemikir/intelektual. Berulang kali pendapat ini ditegaskan oleh dua orang laki-laki yang paling dekat dengannya, Leonard Woof, suami Virginia Woolf, dan Quantin Bell, keponakan Virginia Woolf, dua orang yang menjadi narasumber primer buku-buku biografi Virginia Woolf di kemudian hari. Dengan demikian, penggambaran Virginia Woolf sejak awal telah dicanangkan sebagai bukan seorang pemikir, melainkan cukup sebagai seniman saja.
Woolf memang belajar secara autodidak karena ia tidak memiliki pendidikan formal. Namun, lingkungannya mendukungnya. Ia memang dilahirkan sebagai anak seorang sastrawan dan sejarawan terkenal, Sir Leslie Stephan, dengan istri keduanya, Julia. Ia dibesarkan dalam atmosfer sastra karena para budayawan Eropa sering datang menghadiri diskusi-diskusi di rumah ayahnya. Setelah ayah dan ibunya meninggal, ia bersama dua saudara kandungnya membentuk komunitas Bloomsbury, sebuah komunitas yang mendiskusikan filsafat, seni, musik, dan sastra secara intens. Di dalam komunitas inilah ia bertemu dengan suaminya, Leonard Woolf, seorang penulis, politikus, ekonom, pendek kata seorang "intelektual" yang sesungguhnya. Mereka menikah pada tahun 1912.
Para pemikir perempuan beranggapan bahwa Virginia Woolf merupakan sosok penulis politik dan teoretisi yang andal, walaupun pemberian label itu ditentang suami Virginia Woolf sendiri dan Quantin Bell. Berenice Caroll (1978) secara spesifik menggugat Quantin Bell, yang menulis buku biografi Virginia Woolf setebal 400 halaman dengan dua volume yang hanya mendiskusikan karya Virginia Woolf sebagai karya yang "indah". Annette Kolodny (1981) merasa bahwa penggambaran Quantin Bell tidak mengherankan. Sebab, sepanjang masa, para novelis perempuan hanya diapresiasi sebatas cara penulisan yang "elegan", "feminin", "keelokan rupa", dan novel-novel mereka tidak pernah secara serius dipertimbangkan sebagai karya yang dapat mengubah dunia dengan ide-idenya atau memiliki signifikansi universal. Karya yang bisa mengubah dunia umumnya telah direservasi untuk penulis lelaki, yang dianggap sebagai pemikir serius.
Lalu, apa kata para kritikus tentang dua karya politis Virginia Woolf, A Room of One's Own dan Three Guineas ? Para "pemikir serius" laki-laki kala itu mengatakan bahwa apa yang ditulis oleh Virginia Woolf lebih merupakan propaganda! (Dale Spender, hlm. 674)
Buku A Room of One's Own merupakan karya Virginia Woolf berbentuk esai yang dihimpun dari kuliah-kuliah yang ia berikan di Universitas Cambridge pada tahun 1928. Di dalam esainya, ia bergumul dengan pemikiran-pemikiran tentang perempuan. Pertanyaan sentral yang hendak ia jawab adalah apakah seorang perempuan dapat memproduksi seni dengan prima seperti Shakespeare. Dalam upayanya menjawab pertanyaan sentral tersebut, ia memeriksa pengalaman sejarah perempuan dan perjuangan perempuan sebagai seniman. Ia tidak memuat teori-teori abstrak dalam memaparkan pemikirannya, akan tetapi lebih memasukkan pengalaman-pengalaman pribadinya. Misalnya fakta bahwa keluarganya, yang keadaan ekonominya cukup lumayan, toh tidak memberikan Virginia Woolf kesempatan untuk kuliah karena dana yang tersedia telah diserap oleh saudara-saudara laki-lakinya. Kejengkelan lainnya adalah terhadap sebagian besar perpustakaan di zaman itu, yang tidak bersedia memberi izin kepada perempuan untuk berlama-lama membaca. Ia mengerti sekali artinya diisolasi, didiskriminasi dari keinginannya untuk menulis dan mengekspresikan diri. Karena berbagai pengalaman dan perasaan-perasaan inilah ia bertekad menulis Women and Fiction, yang berkembang judulnya menjadi A Room of One's Own. Semula, ia ragu apakah tulisan-tulisan yang memuat pengalaman-pengalaman seorang perempuan akan dibaca, apalagi apa yang ia ungkapkan sangat dekat dengan kehidupan keseharian pembaca. Ia takut kebenaran yang ia ungkapkan akan menelanjangi dirinya dan publik itu sendiri. Karena ketakutan-ketakutan manusia untuk menghadapi kebenaran kehidupan, karyanya akan diremehkan dan dianggap sebagai karya feminis yang isinya "omelan-omelan" melulu. Pada Rabu, 23 Oktober 1929, Virginia Woolf tampak gelisah memikirkan bukunya dan menulis di dalam catatan hariannya: "
Aku tidak bisa mengerjakan apa-apa lagi, otakku terus berputar
. Morgan mengatakan bahwa ia tidak akan mau meresensi bukuku, kelihatannya ia keberatan dengan unsur feminin di dalamnya
. Teman-teman penulis yang dekat tidak begitu menyukainya, tidak serius katanya
, terlalu memakai logika feminin
, buku yang hanya pantas digenggam oleh anak-anak perempuan. Pedulikah aku?" (A Writer's Diary, hlm. 147)
Kelihatannya Virginia Woolf tidak peduli. Ia terus membombardir berbagai pertanyaan perempuan dan terus menegaskan keharusan perempuan untuk independen secara ekonomi; "
Seorang perempuan harus mempunyai uang dan ruang kamar sendiri bila ia ingin menulis." Pada karya-karya berikutnya, seperti dalam Three Guineas, 1938, ia menulis: "
Kita tetap saja harus menyembunyikan apa yang kita lakukan dan pikirkan karena ada harga-harga tertentu yang harus dibayar bila kita terus mengkritik sang tuan besar." Salah satu harga yang harus dibayar oleh Virginia Woolf adalah permusuhannya dengan Katherine Mansfield, sama-sama penulis perempuan yang sama-sama memiliki perhatian terhadap masalah perempuan. "Divide and rule!" merupakan slogan yang tidak diketahui Virginia Woolf, tapi yang selalu digunakan oleh para penerbit ataupun pers untuk memecah belah para perempuan dalam bidang yang sama. Bara permusuhan yang terus-menerus diembuskan dan diciptakan oleh para penerbit dan pers berlangsung hingga suatu hari Virginia Woolf mulai menyadari bahwa mereka memang sengaja dipecah belah untuk keuntungan berita dan gosip pers.
Cara yang agresif, memecah belah dan mementingkan kekuasaan, adalah cara laki-laki yang sepenuhnya disadari Virginia Woolf . Di dalam A Room of One's Own, ia berupaya mengkonstruksikan nilai-nilai perempuan, simbol-simbol perempuan yang menghendaki perdamaian. Sebagai pencinta damai, Virginia Woolf sangat aktif menentang perang. Pada Januari 1915, ia menulis sebuah buku yang menampilkan seorang heroin (pahlawan perempuan) bernama Effie, seseorang yang menentang segala bentuk aktivitas perang. Pada masa-masa itu ia mengakui bahwa sikap feminismenya semakin kental dan ia menganggap segala bentuk perang merupakan upaya laki-laki untuk membuat dunia menjadi dunia maskulin (Surat untuk Margaret Llewelyn Davies, 23 Januari 1916). Perang Dunia Pertama yang melanda Eropa membayangi novel-novel Virginia Woolf. Novel Jacob's Room, 1922, menceritakan kebrutalan perang, kematian, kenestapaan yang dihasilkan. Gambaran hidup tentang perang sekaligus menggambarkan dunia Jacob yang menjadi gelap-gulita. Novel Mrs. Dolloway, 1925, merupakan novel yang memadukan sejarah dan autobiografi, mengisahkan manusia-manusia yang hendak membangun Dunia Baru setelah perang tapi apa yang didapatkan adalah timbunan jenazah manusia dan masyarakat yang kehilangan kehormatan diri dan mencari untung dari kehancuran orang-orang di sekelilingnya.
Semasa hidupnya, Virginia Woolf telah menikmati status sebagai penulis yang amat disegani dan tokoh masyarakat yang didengar pendapatnya. Namun, seperti layaknya perempuan lain yang "kuat", Virginia Woolf selalu ditempa gosip yang berupaya menghancurkan dirinya, dari kalangan perempuan, apalagi dari kalangan laki-laki. Sikapnya yang dicap elitis disebabkan ia dianggap cenderung berada dalam kalangan sosial menengah-atas dan lebih tertarik menggeluti pemikiran-pemikiran filsafat dan sastra ketimbang advokasi secara langsung. Karena ia dianggap tidak memperhatikan isu-isu buruh, serta tidak mengikuti gerakan feminis radikal di jalanan, ia menjadi sosok yang mudah dipojokkan. Padahal setiap pemikiran Virginia Woolf yang sangat radikal sudah dituangkan dalam pelbagai hasil karya tulisnya. Sikapnya yang terbuka tentang hubungan homoseksual, termasuk pernah menjalin hubungan lesbianisme dengan Vita Sackville-West, merupakan sikap yang pemberani. Namun, karena konstruksi yang dibuat tentang Virginia Woolf (dan konstruksi ini dibuat oleh masyarakat patriarkal), gambaran Virginia Woolf menjadi: apolitik, seniman terisolasi, dan neurotik (karena berulang kali mencoba bunuh diri). Gambaran ini diperkuat lagi oleh para penulis laki-laki yang bereputasi seperti Wyndham Lewis, yang memberi cap pada berbagai tulisan Virginia Woolfterutama berhubungan dengan topik-topik feminisme dan perang sebagai "penakut, artifisial, lemah, introverted matriarch". (Wyndham Lewis, Men Without Art, 1934)
Badai yang begitu keras menyinggung perasaannya sebagai seorang penulis, termasuk serangan mencaci-maki terhadap kelompoknya yang amat ia banggakan, Bloomsbury, membuat spiritnya mencapai titik terendah, hingga akhirnya depresi menyambutnya lagi dan kali ini ia menenggelamkan diri. Catatan harian Virginia Woolf yang terakhir adalah hari Minggu, 8 Maret 1941, (hari perempuan internasional). Di situ ia menulis:
"Baru kembali dari ceramah Leonard di Brighton.
Hari pertama musim semi, perempuan duduk-duduk, ada topi yang cantik di jendela toko.
Hari ini saya mengutip kata-kata Henry James: observasi terus-menerus. Observasi zaman yang akan datang. Observasi keserakahan. Observasi semangat saya yang sedang patah. Dengan cara begitu semua ini akan ada manfaat. Saya harapkan begitu. Saya akan menggunakan sisa waktu ini dengan sebaik-baiknya. Kalaupun saya jatuh, saya akan jatuh tanpa penyesalan.
(A Writer's Diary, 1978, hlm. 345)
|