Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Layar

Dari 'The Hours' hingga 'Mrs. Dalloway'

Kesuksesan The Hours menerbangkan popularitas Virginia Woolf. Buku-buku karyanya kembali diserbu.


Di tengah ingar-bingar musik rock 'n roll, sepasang mata seorang bocah remaja berumur 15 tahun terpaku pada sebuah buku di hadapannya. Diiringi lengkingan gitar dan suara parau Jimi Hendrix, ia melahap kata demi kata dalam buku Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf hingga tandas. Butuh waktu lama bagi pikiran remajanya untuk memahami isi cerita. "Saya berusaha keras untuk mengerti Virginia Woolf," ujarnya.

Tiga puluh lima tahun berselang, remaja yang tak lain adalah Michael Cunningham itu menjelma jadi seorang novelis. Dalam satu karyanya, ia menghidupkan kembali tiga karakter wanita dalam Mrs. Dalloway. The Hours, karya itu, bercerita tentang detik-detik terakhir dalam hidup Virginia Woolf (1941), kisah sehari Laura Brown (1951), serta Clarissa Dalloway (2001) pada satu jalinan cerita sekaligus.

Kerja keras Cunningham tak sia-sia. Lelaki yang telah menelurkan empat novel ini tahun lalu diganjar Pulitzer Prize, penghargaan karya tulis terbaik di Amerika Serikat, untuk karya terbarunya itu. Sukses ini sekaligus juga menarik hati seorang produser film Hollywood, Scott Rudin, untuk mengangkat cerita tersebut ke layar lebar. Naluri Rudin ternyata benar. Meski awalnya Cunningham tak terlalu yakin The Hours bakal menangguk sukses—lantaran tidak dibumbui adegan seks—film yang dibintangi oleh Nicole Kidman dan Meryl Streep ini terpilih sebagai salah satu film yang dinominasikan untuk memperoleh Piala Oscar.

Tapi bukan sukses film The Hours yang menyebabkan jumlah penjualan bukunya melambung. Seperti dikutip dari surat kabar USA Today jauh sebelum filmnya diputar, novel Cunningham sudah lebih dulu laris manis. Di Amerika Serikat, misalnya, saat natal tahun lalu buku ini "hanya'" terjual sekitar 200 ribu eksemplar. Sebulan kemudian, jumlahnya meningkat hingga tiga kali lipat. Dan bulan lalu angka penjualannya menembus hingga 700 ribu buah untuk paperback dan 200 ribu untuk hardcover.

Sukses novel The Hours juga diikuti dengan naiknya penjualan buku-buku klasik garapan Virginia Woolf yang lain. Masih menurut harian yang sama, sepanjang Januari lalu di Negeri Abang Sam sekitar 56 ribu buku Mrs. Dalloway dalam kemasan paperback ludes di pasaran. Angka tersebut jauh di atas rata-rata penjualan tahun sebelumnya, yang hanya mampu menembus angka 53 ribu buah sepanjang tahun 2002 lalu.

Permintaan juga meningkat untuk buku-buku Virginia Woolf yang lain. Sepanjang Januari lalu, beberapa karyanya seperti A Room of One's Own terjual 8.400 buah dan To the Lighthouse hingga 9.000 buah dalam kemasan paperback.

Seperti wabah, fenomena ini juga menular hingga ke Indonesia. Di Toko Buku Aksara, misalnya, novel The Hours ikut laku keras sejak film dengan judul yang sama terpilih sebagai kandidat kuat untuk nominasi Oscar. Menurut catatan salah satu pemiliknya, Winfred Hutabarat, dari 18 buah buku yang dipajang di sana, seluruhnya telah laku terjual hanya dalam waktu satu bulan. Padahal sebelumnya angka penjualannya tak lebih dari hitungan sepuluh jari tangan saja. Ada beberapa pelanggan yang bahkan terpaksa harus memesan lebih dulu lantaran tidak kebagian. Angka ini, kata Winfred, bakal terus naik seiring dengan diputarnya film besutan sutradara Stephen Daldry tersebut di bioskop-bioskop Jakarta. Untuk antisipasi, toko buku yang sebagian besar menjual buku-buku impor ini telah memesan ulang sebanyak 30 buah.

Begitu juga dengan Toko Buku QB. Menurut asisten direkturnya, Paramastuty Iswara, sejak awal tahun ini The Hours telah laku terjual sebanyak 30 buah. Sama seperti Winfred, kata Tuty—demikian sapaannya—jumlahnya bakal terus bertambah dalam pekan-pekan mendatang. Sebab, berkaca pada pengalaman, popularitas film biasanya ikut mendongkrak jumlah penjualan novelnya.

Sayangnya, nasib baik belum menghampiri buku-buku karya Virginia Woolf yang dijual di dua toko buku ini. Dalam hitungan Winfred, angka penjualannya tak terlalu spektakuler seperti di luar negeri. Selain termasuk dalam karya sastra yang lumayan berat, biasanya penggemarnya juga terbatas di seputar kalangan tertentu saja. Maklum, tak banyak orang Indonesia yang mau merelakan sekitar dua lembar seratus ribuannya untuk sebuah buku novel.

Tapi bukan berarti sepi peminat. Menurut Winfred, buku-buku seperti Mrs. Dalloway, Jacob's Room, ataupun The Light House selalu laku terjual kendati hanya lima biji per bulannya. Begitu pula Toko Buku QB, yang menurut Tuty selalu menyediakan buku-buku klasik karya Virginia Woolf untuk penggemar setianya. Virginia Woolf memang membicarakan sesuatu yang tetap "hidup" hingga sekarang: kematian.

Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data