|
|
| |
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
|
Sehari dalam Kehidupan Virginia Woolf (dkk.) Sebuah film yang bersaing dengan Chicago untuk meraih gelar film terbaik tahun ini. Dibintangi tiga aktris besar dan ternama, penggambaran sastrawan besar Virginia Woolf menjadi persoalan. |
THE HOURS
Sutradara: Stephen Daldry
Skenario: David Hare
Pemain: Meryl Streep, Julian Moore, dan Nicole Kidman
Produksi: Miramax Film dan Paramount Pictures
Ini saatnya untuk mati. Air Sungai Ouse di Richmond itu berdesir sederas arus darahnya. Menggelegak. Virginia Woolf berkata kepada pohon-pohon dan kepada dirinya: isi saatnya untuk menutup hidup ini.
Sutradara Stephen Daldry membuka film ini dengan sebuah kematian: adegan seorang sastrawan dan pemikir besar Virginia Woolf (diperankan oleh Nicole Kidman) yang memutuskan hidupnya dengan sekumpulan batu di kantong jasnya dan segenap tekad untuk menyatu dengan arus air sungai yang memanggil-manggilnya.
Mengapa ia menutup usianya—dengan cara yang begitu tragis—setelah menghasilkan karya-karya yang bersinar abadi dan menembus ruang dan waktu (antara lain To the Lighthouse, Orlando, Mrs. Dalloway, The Waves, A Room of One's Own) bukanlah topik utama dalam film The Hours yang diangkat dari novel pemenang Pulitzer, Michael Cunningham. Adapun novel Cunningham sendiri terinspirasi dari novel Woolf berjudul Mrs. Dalloway, yang judul aslinya pun adalah The Hours—yang kemudian menjadi rujukan dasar dari novel Cunningham, baik dari segi cerita, penamaan tokoh, maupun berbagai simbol dan pengungkapan rasa.
Inilah sebuah cerita tentang tiga perempuan yang terbentang dalam kurun waktu tiga periode yang berbeda. Yang pertama adalah Virginia Woolf di Richmond pada tahun 1922 ketika ia dalam proses menulis novel Mrs. Dalloway, dan tahun 1941 saat-saat ia memutuskan untuk bunuh diri. Cerita kedua adalah kisah Laura Brown, seorang ibu rumah tangga di kawasan suburban di Los Angeles yang asyik membaca buku Mrs. Dalloway, yang merasa terganggu karena harus mengisi rutinitas sehari-hari dengan menyiapkan kue ulang tahun suaminya bersama putranya si kecil Richard. Sedangkan cerita ketiga adalah kisah sehari kesibukan Clarissa Vaughan, seorang penerbit—yang tengah mencoba menerbitkan kembali novel Mrs. Dalloway—yang tengah mempersiapkan sebuah makan malam besar untuk menghormati kawannya, bekas kekasihnya, Richard, yang menerima sebuah penghargaan sastra.
Ketiga kisah ini, seperti di dalam bukunya, disajikan hanya dengan beberapa helai benang merah yang menyatukan seluruh cerita: novel Mrs. Dalloway, kematian atau upaya bunuh diri para tokohnya, dan adegan persiapan bunga di pagi hari dan perasaan dan luapan ketiga tokoh yang tak terkatakan.
Seperti upaya Cunningham dalam novelnya untuk berbicara seperti novel-novel Virginia Woolf, sutradara Daldry menyajikan film ini tanpa plot konvensional, bak lukisan impresionistis yang bukan menyodorkan kesimpulan melainkan goresan-goresan emosi. Ketiga aktris besar ini menampilkan emosi tiga perempuan dalam tiga periode yang berbeda tanpa harus menjelaskan sebab-akibatnya. Nicole Kidman—dinobatkan sebagai nomine aktris terbaik Academy Awards tahun ini—menampilkan seorang Woolf yang serius, menerawang, dan cerdas. Dengan hidung palsunya, penampilan Kidman kemudian menjadi persoalan bagi para pencinta fanatik Woolf.
Woolf, seorang wanita brilian, penulis yang produktif dan pemikir yang kritis terhadap politik dan kehidupan sosial di masyarakat Eropa, sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari adalah wanita yang sangat humoris—meski humor-humornya tak mudah dimengerti—witty, cerdas, dan seorang feminis yang teguh pada komitmennya. Film ini memang hanya menampilkan "sehari" dalam hidup Woolf di tahun 1941, dan sehari dalam hidup Woolf saat ia tengah bergulat menciptakan novelnya. Namun, celakanya jika memunculkan seorang tokoh nyata, Woolf yang tampil adalah seorang Kidman dengan hidung palsu dan berupaya menjadi seorang "sastrawan Inggris" yang "nyeniman", aneh, dan slebor dalam berdandan. (Woolf dalam kehidupan sehari-harinya, seperti juga wanita Inggris lainnya, sangat memperhatikan penampilannya.)
Jika kelompok pencinta dan pengamat sastra Woolf yang tergabung dalam International Virginia Woolf Society menjerit menyaksikan penampilan Woolf, tak perlu heran. "Ada bagian dari sejarah sastra yang sibuk mempresentasikan Woolf sebagai seorang yang neurotik, suicidal (cenderung ingin bunuh diri), dan untuk waktu yang lama para pakar ahli Woolf yang memahaminya sibuk menangkis citra itu," tutur Brenda Silver, dosen Sastra Inggris Dartmouth University dan penulis buku Virginia Woolf Icon, seperti yang dituturkannya kepada International Herald Tribune.
Bukan hanya sekali Woolf tampil dengan "murung" dan "agak terganggu". Dalam film Tom and Viv, yang menceritakan kehidupan penyair besar T.S. Eliot dan istrinya, Vivian, Woolf juga ditampilkan—sebagai kawan dekat Tom dalam kelompok Bloomsbury—sekilas sebagai penulis yang menjengkelkan dan aneh.
Film The Hours ini menampilkan satu episode hari-hari murung dalam hidup Woolf yang membenci kesunyian Richmond—dan segala alasan suaminya untuk membawa dia ke sana. "Aku mencintai London dengan segala keriuh-rendahannya…." Bunyi-bunyian yang tak kunjung mati di Jalan Strand, London, kehidupan lingkaran intelektual Bloomsbury tempat dia bersosialisasi dengan kawan sesama penulis dan pemikir seperti T.S. Eliot, Lytton Strachey, semuanya itu absen dari kehidupan yang senyap di Richmond. Tak aneh jika sutradara Daldry merasa harus menampilkan hari-hari murung dan gelisah Woolf dalam film ini; dan tak mengherankan pula jika pencinta Woolf merasa gambaran itu bisa menimbulkan asumsi yang salah bagi sastrawan dan pemikir brilian ini.
Bagaimanapun, seperti juga Julian Moore dan Meryl Streep, aktris Nicole Kidman—yang pasti akan bertarung berat melawan Renee Zeelweger dalam Chicago—telah memberikan sebuah performa yang penuh perhitungan. Kidman sebagai penulis yang tengah mendidih dan ingin meledak dengan sebuah karya dahsyat; Streep yang tiba-tiba menyadari bahwa selama puluhan tahun dalam hidupnya—dan 15 tahun hidup bersama kekasihnya dalam hubungan lesbianisme—ia juga tetap mencintai mantan kekasihnya, Richard. Moore, yang berperan sebagai Nyonya Laura Brown, yang belakangan menemukan jalan buntu dalam kehidupan keluarga dan memilih meninggalkan suami dan anak-anaknya.
Hubungan antara sosok Woolf, Clarissa Vaughan, dan Laura Brown, yang ternyata memiliki pertautan, dijalin dengan cerdas sembari tetap menyembunyikan daya kejut pada akhir cerita. Penyuntingan yang dahsyat (perhatikan semua adegan simbol seikat kembang di pagi hari; dan air sungai yang deras di Richmond dan di bawah tempat tidur Hotel Los Angeles pada saat Laura ingin bunuh diri) dan musik lirih yang menekan (siapa lagi jika bukan Philip Glass) menjadi kontribusi terbesar terhadap keberhasilan film yang layak diganjar penghargaan Academy Awards ini.
Harus diakui, film ini—dengan berbagai kritik tentang penampilan hidung palsu Kidman itu—tampil sebagai lukisan impresionis yang jauh lebih berhasil daripada novel Cunningham yang mencoba muncul sebagai sebuah karya "pseudo-Woolf". Jika Anda ingin membaca karya-karya Woolf, Anda harus membaca karya Woolf, bukan membaca epigonnya atau penulis yang berpretensi sebagai pengagumnya. Mungkin karena Cunningham akan bisa lebih dihargai—terlepas dari Pulitzer di tangannya—jika dia sekadar menggunakan karya Woolf sebagai sumber inspirasi sembari tetap mencari sebuah bahasa baru, ketimbang mencoba berupaya menyalin gaya Woolf. Sebuah gaya bisa ditiru, tapi tak akan pernah sama, Bung.
Leila S. Chudori
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

|
|
| |
|
|
|
|