Virginia Woolf: Sebuah Sosok dan Citra Selama berpuluh-puluh tahun sastrawan dan feminis Inggris terkemuka Virginia Woolf sering digambarkan sebagai seniman yang produktif, brilian, tapi "terganggu".
Dalam film The Hours, yang dinominasikan sebagai film terbaik Academy Awards tahun ini, Woolf tampil pada saat-saat murung dalam kehidupannya. Siapa sesungguhnya Woolf? Mengapa ia selalu mencoba mengakhiri hidupnya? Ikuti napak tilas wartawan TEMPO di London, tempat Woolf menjalani hidupnya yang paling produktif dalam dunia sastra. |
Ia mengantongi sebuah batu lebih dari sekepal tangan di mantel bulunya. Arus Sungai Ouse mengalir deras. Selama ini para penduduk desa sering melihat ia berjalan sendirian membawa tongkat menyusuri sungai bersama Sally, anjingnya. Siang itu, akhir Maret 1941, John Hubbard, buruh peternakan setempat, sempat menyaksikannya turun ke tepi kali, tapi ia tak bersyak wasangka apa pun.
Pada 18 April, sekelompok remaja bersepeda berhenti makan siang di pinggir sungai dekat Ashelham, beberapa kilometer dari situ. Mereka melihat sebatang kayu aneh hanyut. Makin mendekat, ternyata itu mayat seorang wanita mengambang. Polisi datang. Di saku jenazah membeku tersebut ditemukan arloji berhenti pukul 11.45.
Mengapa Virginia Woolf menenggelamkan diri?
Secarik kertas beramplop biru di atas meja Monk's House (rumah Virginia dan Leonard Woolf) yang ditujukan Virginia kepada Leonard Woolf, sang suami, yang dikutip harian Guardian saat itu, bertulis demikian: "Sayang, sepertinya aku kembali menjadi gila
. Aku mendengar suara-suara. Aku tidak bisa melawannya lagi. Aku tak bisa berkonsentrasi lagi menulis
. Aku melakukan ini karena tampaknya inilah yang terbaik
. Kamu telah memberikan kebahagiaan terindah untukku
. Aku tak bisa mengganggu hidupmu lebih lama lagi."
Potret Virginia Woolf yang mengalami gangguan mental itu juga ditampilkan film The Hours, yang kini beredar di Jakarta. Film yang disutradarai Stephen Daldry (Virginia diperankan oleh Nicole Kidman) adalah nominasi Oscar tahun ini. Kalah atau menang, seperti ditulis The New York Times, film ini bisa saja tak memuaskan bagi para ahli Virginia, terutama soal tafsiran kegilaan yang dianggap terlalu menyederhanakan problematika kehidupan dan kreativitas Virginia.
Bunuh diri para sastrawan konon tidak bisa didekati secara klinis semata. Sylvia Plath dan Anne Sexton, sastrawan generasi sesudah Woolf, juga mengakhiri hidupnya secara tragis. Plath, dari Boston pindah ke Inggris, tewas di London pada 12 Februari 1963. Saat itu baru 30 tahun dan masa kepenyairannya tengah memuncak. Ia menyungkupkan kepala ke kompor, menghirup gas sampai sesak napas. Anne Sexton, penyair Amerika, sahabat Plath penerima hadiah Pulitzer 1967, juga mengakhiri hidupnya sendiri.
Para biografer Plath maupun Sexton mencatat penyebab pilihan maut itu adalah pergumulan tanpa ujung antara depresi, imajinasi, konflik kebebasan sebagai istri atau ibu. Sejak umur 28 tahun Sexton kejangkitan alkohol dan obat tidur. Kematian Plath, seperti ditulis Diane Wood dalam buku Anne Sexton: A Biography, merangsang Sexton. "Bunuh diri menjadi sesuatu yang atraktif, saya kecanduan," katanya. Profesor puisi di Universitas Boston ini pada 4 Oktober 1974, dalam usia 46 tahun, lalu mengenakan mantel bulu milik ibunya, masuk ke mobil Cougar merahnya, menghidupkan mesin, menghirup udara sampai ia tak bisa bernapas lagi.
Bisakah kita menyangkal Woolf tak menjadi inspirasi kematian mereka?
Plath maupun Sexton sama-sama mengagumi kumpulan esai Woolf: A Room of One's Own. Seperti dicatat Anne Stevenson dalam Bitter Fame: A Life of Sylvia Plath, bahkan Plath pernah mengatakan, "Saya harus lebih baik daripada Virginia."
Virginia Woolf, sepanjang hidupnya, mencoba bunuh diri lima kali. Tapi di antara para penulis sejarahnya belum ada kesepakatan apa tepatnya yang dialami oleh Woolf saat ia mengalami "gangguan mental". Dari buku hariannya, dapat kita baca adanya kesakitan fisik luar biasa, perasaan melankoli, putus asa, denyut nadi cepat, kehilangan nafsu makan, hingga berat badan yang turun secara drastis. "Sakit kepala menghantam saya terus-menerus," demikian tulisnya.
Lahir pada 25 januari 1882 bernama Adeline Virginia Stephen, Virginia Woolf tumbuh dalam keluarga kelas atas pada akhir era Victorian. Ia seorang yang cantik, anggun. Ayahnya, Leslie Stephen, dan ibunya, Julia, sudah pernah kawin sebelumnya. Leslie memiliki anak bernama Laura, sementara Julia mempunyai Gerard, Stella, dan George Duckworth. Ketika mereka kawin, lahirlah Vanessa, Tobby, Virginia, dan bungsu Adrian. Usaha bunuh diri pertama Virginia adalah tahun 1895, tak lama setelah ibunya meninggal. Ia mencoba melompat dari jendela.
Selama 1905-1912, Virginia tinggal berpindah-pindah di kawasan Bloomsbury, London. Ia wanita terpandang, memiliki lingkaran teman "literari". "Ratu Bloomsbury" ini seorang jenius. Di sini ia bertemu dengan Leonard Woolf, yang menikahinya pada 1912. Kemudian Virginia aktif menulis kritik anonim di Times Literary Supplement, lalu produktif menulis novel The Years, Voyage Out, Night and Day, Mrs. Dalloway, The Waves. Bersama suaminya ia mendirikan penerbitan buku Hogarth Press.
Tokoh-tokoh wanita dalam novelnya yang memiliki hubungan emosional sesama wanita seperti Rachel dan Helen dalam The Voyage Out, Katharine dan Mary dalam Night and Day, Sally dan Clarissa dalam Mrs. Dalloway, Lily dan Mrs. Ramsay dalam To The Lighthouse, membuat banyak spekulasi bahwa Virginia memiliki kecenderungan lesbian. Tapi itu manifestasi dari penderitaan psikologisnya mengarungi bahtera perkawinan. Sebelum menerbitkan The Years, ia menulis dalam diarinya: "Aku tak bahagia! Tak bahagia! Tuhan, saya ingin mati
!"
Virginia Woolf pernah menulis: novel-novelnya sesungguhnya adalah persiapan kepada sastra sejati. Novel adalah kulit luar, yang harus dikelupas. Hanya otobiografi yang sejatinya sastra. Itulah sebabnya, untuk mengetahui hal-hal tersembunyi, banyak penulis biografinya membaca ulang surat-surat serta catatan pribadinya, terutama Sketch of the Pastotobiografi yang ditulis Virginia pada April 1939. Di situlah dia mengingat perasaan-perasaan masa kecilnya. Membeberkan sejarah keluarganya dari perspektifnya sendiri, termasuk sedikit hal-hal gelap yang sangat tabu di era Victorian.
Louise DeSalvo, penulis buku Virginia Woolf: The Impact of Childhood Sexual Abuse on Her Life and Work, misalnya, menganggap keberanian utama Virginia adalah saat ia mengungkapkan pelecehan seksualitas di keluarganya. Virginia kagum pada Ethel Smyth, sahabatnya yang dapat menulis dengan enteng tentang masturbasi dan seks, sesuatu yang diakuinya berat dan ia sendiri tak berani melakukannya
. Tapi, dalam otobiografinya, ia blak-blakan menceritakan pada umur enam tahun ia digerayangi seluruh tubuhnya oleh saudara tirinya, Gerald Duckworth, hingga selaput daranya pecah. Itu diulangi Duckworth lagi saat Virginia berumur belasan tahun.
"... Saya ingat tangannya menggerayangi makin ke bawah, makin ke bawah, saya tak bisa menyetopnya, tubuh saya kaku, merinding, sampai bagian terlarang saya
." Menurut Louise, sejak itu tertanam trauma dan perasaan bersalah luar biasa. Ia malu dan takut melihat tubuhnya sendiri. Selalu tak mau melihat tubuhnya di kaca, lantaran itu mengingatkan pada sebuah kaca besar yang tergantung di ruang makan Talland House, rumah masa kecilnya, saat Duckworth menodainya. Otobiografi Virginia pada hakikatnya adalah usaha mengerti sejarah depresinya sendiri, sejarah tubuhnya sendiri.
Seluruh niatan bunuh diri Virginia bisa jadi berangkat dari kenangan mendadak tentang Duckworth. Pada 1922, misalnya, ia menulis suatu kali di tempat tidur Bloomsbury. Antara terjaga dan tidak, tiba-tiba ia merasa mendengar, burung-burung di halaman melafalkan koor Yunani. Para penafsirnya menganggap, saat itu ia ingat tatkala Duckworth meraba-raba, dirinya tengah belajar bahasa Yunani. Bukankah burung bulbul bernama Philomena dalam mitologi Yunani sering menyenandungkan lagu-lagu pedih pemerkosaan? Pada tahun 1936, Virginia kembali mencoba membunuh diri. Menurut The Savo, itu terjadi setelah 20 tahun tak bertemu dengan Gerald Duckworth. Ia berjumpa pada 1 April 1936"Seperti bertemu dengan aligator di tangki...," demikian tulis Virginia.
Walau tak ada indikasi, Leslie Stephen, ayahnya, juga melakukan pelecehan seksual terhadap Virginia. Dalam Voyage Out dan Night and Day Virginia melukiskan seorang tokoh ayah yang memiliki hasrat inses menakutkan. Dalam catatan hariannya sendiri ia pernah menceritakan (dianggap keluarganya halusinasi) suatu malam, ia tergeragap bangun dan melihat seorang lelaki tua berteriak parau dan menggumamkan kalimat-kalimat cabul
.
Menurut Louise Salvo, kebanyakan korban inses suka menggunakan metafora terseret ke air. Berkali-kali dalam otobiografinya Virginia juga memakai kata sungai untuk menyimbolkan kematian ayah dan ibunya. Bahkan invasi Hitler ke Inggris diimajinasikan seperti deras sungai. Pada musim gugur 1940, perasaan Virginia seperti terdampar. Bom meledak di pinggiran Sungai Ouse. Angin kencang, sungai pasang meluap. Seluruh lembah Ouse banjir. Dari jendela rumahnya ia menyaksikan suatu pemandangan menggetarkan sekaligus menakutkan. Padang rumput, rawa, paya-paya, rerumputan, karang, pohon-pohon ranggas terbenam dengan lanskap Gunung Caburn, kawanan camar laut. Seolah-olah panorama "awal penciptaan dunia". Ledakan bom itu dibarengi kabar bahwa tentara Nazi akan memperkosa siapa pun penduduk Inggris. Ini mengingatkannya pada Duckworth.
Bagaimana pun, Hermione Lee, yang menulis biografi Virginia Woolf setebal hampir 900 halaman, memiliki analisis lain tentang halusinasi Virginia. Pada September 1913, saat Virginia hampir direnggut ajal lantaran menelan veronal melebihi dosis, Leonard menyerahkan istrinya pada Dokter George Savage untuk mendapat perawatan pribadi. Selama itu ia dipaksa mengkonsumsi obat-obatan penenang nyeri seperti chloral hydrate, veronal, adalin, paraldehyde, potassium bromide, dan digitalis. Obat-obatan ini memiliki efek yang sama dengan valium dan mogadon, bila dikonsumsi berlebihan akan menimbulkan igauan para pemakainya.
Menurut Hermione Lee, halusinasi Virginia bisa jadi akibat dari obat-obatan. Selama ini tak ada data apa pun yang mencatat apa yang dikatakan Virginia saat ia meracau, hingga kita tak bisa memvonis itu betul-betul kegilaan yang alamiah. Yang ditulis Leonard, menurut Hermione Lee, adalah tanda-tanda halusinasi umumnya seperti suara Virginia yang berubah, emosinya naik, berbicara tanpa henti-hentinya selama dua-tiga hari. Kegilaan dalam pandangan dunia medis akhir abad ke-19 dipercayai berhubungan dengan gangguan urat saraf. Neurosis adalah hancurnya sistem urat saraf, bisa menimbulkan efek histeris seperti penyusutan badan, kegandrungan pada masturbasi, atau eksentrisitas.
Apalagi George Savage, sang dokter, berpendapat bahwa faktor keturunan berperan besar pada "kegilaan" Virginia, dan itu memaksa mereka mengisolasi Virginia, istirahat total, diet daging dan susu, di daerah yang tenang dan segar. Virginia dilarang berhubungan dengan siapa pun, mengirim surat kepada siapa pun, tak boleh menghadiri pesta, atau tidur terlalu malam. Sungguh prosedur dan otoritas dokter yang menekan psikologi Virginia. Film The Hours menampilkan sebuah adegan saat Virginia Woolf menolak semua instruksi dokter.
Virginia adalah pengagum Freud. Di tahun 1939, ia pernah bertemu dengan Freud yang telah renta. Ia sepakat akan analisis Freud tentang mimpi, halusinasi, tapi tak setuju bahwa seseorang harus diserahkan untuk dianalisis. Virginia berontak diposisikan sebagai pasien. Ia menjadi dokter bagi dirinya, menganalisis kecemasan-kecemasan dirinya sendiri melalui novel dan otobiografinya. Itu yang membedakan dia dengan Sylvia Plath dan Anne Sexton, yang terus-menerus berhubungan dengan psikiater untuk mendapat terapi. Bahkan mereka merasa lebih aman hidupnya setelah mendapat terapi.
Mengarungi dunia Virginia adalah menyelami sebuah sungai tanpa muara. Dalam lingkungan Bloomsbury, ia dikenal sebagai seorang perempuan cerdas, tangkas, hangat, pendengar yang baik. Seseorang yang juga tampil anggun, menawan di depan umum. Tapi, saat ia diserang "kesakitan", ia bisa berbalik seratus delapan puluh derajat. Tahun 1904, saat Clive Bell (suami Vanessa, kakaknya) mengajak Virginia mengunjungi studio pematung Rodin, ada kejadian yang sedikit "memalukan". Saat itu Rodin membungkus semua patungnya, siapa pun tak boleh memegang. Tapi tiba-tiba secara impulsif Virginia merobek bungkusannya, Rodin langsung memukul Virginia. Selanjutnya memang dunia Virginia lebih terbenam dalam dunia sunyi, lorong-lorong kekhawatiran, ia lebih percaya terhadap kertas-kertas dan tintanya daripada suami atau Tuhan.
Apa yang dipikirkan Virginia pada detik-detik saat ia mulai menenggelamkan tubuhnya? Apa yang dialami Sylvia Plath dan Anne Sexton pada detik-detik saat napas mereka mulai tersengal-sengal? Agar tokoh novel abadi, konon sang pengarang harus "mati", begitukah?
Seno Joko Suyono
|