Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Luar Negeri

Reformis Lain untuk Serbia

Parlemen Serbia memilih perdana menteri baru, Zoran Zivkovic. Dia berjanji memburu pembunuh pendahulunya, Zoran Djindjic, dan melanjutkan kebijakan reformasinya.

AIR mata rakyat Serbia belum begitu kering setelah terbunuhnya pemimpin mereka, Zoran Djindjic. Tapi hidup harus diteruskan. Demikian juga pemerintahan. Selasa lalu, parlemen Serbia memutuskan Zoran Zivkovic, wakil Djindjic di Partai Demokratik, sebagai perdana menteri baru Serbia. Zivkovic mengantongi dukungan 128 suara, dibanding 100 yang menentang.

Langsung galak, perdana menteri baru ini berjanji akan memburu pembunuh Djindjic hingga titik darah penghabisan. "Hal yang paling penting bagi pemerintah Serbia adalah menemukan para pembunuh atau siapa pun yang menjadi dalang pembunuhan Zoran Djindjic, dan memerangi kejahatan terorganisasi," kata Zivkovic. Dia juga berjanji akan melanjutkan reformasi yang telah dilakukan pendahulunya.

Dalam masalah pembunuhan Djindjic, Zivkovic yakin itu bukan semata-mata urusan mafia, "Tapi lebih dengan latar belakang politis," ujarnya. Ketua penuntut pengadilan terhadap kejahatan perang PBB, Carla del Ponte, setuju dengan pendapat Zivkovic. Beberapa minggu sebelum pembunuhan, Djindjic bilang kepada Del Ponte bahwa dia akan dibunuh karena gerakan reformasinya, termasuk kerja samanya dalam penyerahan para mantan pemimpin Serbia, Slobodan Milosevic dan Radovan Karadzic, ke pengadilan internasional di Den Haag.

Tak aneh, sejak pembunuhan Djindjic pekan lalu, polisi Serbia melakukan operasi besar-besaran. Di hadapan parlemen, Zivkovic melaporkan bahwa polisi telah menangkap lebih dari 750 tersangka yang terlibat dalam pembunuhan Djindjic. Tersangka utama tetap Milorad Lukovic, komandan paramiliter yang aktif dalam kampanye perang Milosevic pada Perang Balkan yang lalu. Tersangka lain adalah Dusan Spasojevic dan Dejan Linekovic, anggota Klan Zemun, kelompok bawah tanah.

Langkah lainnya, Beograd juga telah meminta 35 hakim, termasuk tujuh hakim Mahkamah Agung, supaya mundur. Ada juga hakim dan jaksa yang akan dipecat karena mengizinkan pembebasan tersangka pelaku upaya pembunuhan terhadap Djindjic bulan lalu.

Tugas berat sudah menghadang perdana menteri baru kelahiran Nis, 42 tahun lalu, ini. Namun, pengalaman dan kedekatannya dengan mendiang Djindjic membuatnya tinggal meneruskan jalannya. Zivkovic adalah sekutu utama Djindjic di Partai Demokratik. Seperti pendahulunya, pria lulusan College of Economics di Beograd ini juga dikenal pro-Barat.

Awalnya, Zivkovic adalah pengusaha biasa. Kemudian dia terjun ke dunia politik dan memulai karier politik yang serius di Partai Demokratik di Nis pada 1983. Karier politiknya terus berkembang. Dewan Partai Demokratik lima kali memilihnya menjadi wakil presiden partai.

Seperti Djindjic, Zivkovic juga pragmatis. Reputasi ini yang justru membuatnya duduk di kursi Wali Kota Nis setelah serangan NATO di Yugoslavia pada 1999. Zivkovic mengeluarkan keputusan yang kontroversial. Nis merupakan kota pertama yang menerima bantuan dari Uni Eropa. Ini ditentang karena anggota UE adalah juga anggota NATO yang membombardir Yugoslavia untuk menghentikan perang Balkan. Zivkovic dengan tegas menyatakan Yugoslavia tak bisa menunggu 15 tahun untuk melupakan masa lalunya.

Karier Zivkovic terus meningkat saat kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri Yugoslavia. Kedudukan ini berakhir saat Federasi Yugoslavia menjadi persatuan yang longgar, Serbia dan Montenegro, bulan lalu.

Jalan politik Zivkovic naik lagi dengan pengangkatannya pekan lalu. Namun, dia juga sudah mulai menuai hujan kritik. Segera setelah pembunuhan, pemerintah mengumumkan negara dalam keadaan darurat. Pemerintah juga memberikan wewenang kepada polisi untuk menahan tersangka selama 30 hari tanpa ada tuduhan. Yang lebih parah lagi, pemerintah melarang media melaporkan hal-hal yang mengganggu jalannya investigasi. Hingga kini sudah ada beberapa media yang dilarang beredar, di antaranya koran Nacional di Beograd dan Dan, yang terbit di Montenegro. Sekitar 15 polisi memasuki kantor Nacional dan meminta para staf redaksi menghentikan kerjanya. Polisi menganggap editorial Nacional menimbulkan sentimen anti-Djindjic. Polisi juga menuduh mereka terkait dengan nasionalis Milosevic.

Namun, sang perdana menteri baru pantang mundur. Jalan Zivkovic memang tampaknya tak akan mulus. Apalagi sekutu koalisi Partai Demokratik pimpinan mantan Presiden Yugoslavia, Vojislav Kostunica, mulai menjauhkan diri. Untuk mempertahankan dukungannya, Zivkovic mempertahankan kabinet koalisi yang ada. Hanya, dia menunjuk sekutu Djindjic lainnya, Cedomir Jovanovic, sebagai deputi perdana menteri. Mereka berdua bahu-membahu membawa Serbia ke arah yang diimpikan Djindjic.

Purwani Diyah Prabandari (BBC, CNN, Reuters, AP)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data