Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Luar Negeri

Di Antara Aroma Kebab di Hamburg

Hamburg mencuat dalam peta teroris di Eropa. Tapi sikap curiga dan anti-Islam berkurang. Koresponden TEMPO menyusuri kampung muslim di Hamburg.

MOUNIR el-Motassadeq tak mampu mengucap satu kata pun beberapa menit setelah majelis hakim yang dipimpin Hakim Albrech Mentz menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara, Februari lalu. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa pun. Tatapan matanya kosong. Mahasiswa Universitas Teknik Hamburg asal Maroko ini harus meringkuk di penjara Jerman selama 14 tahun setelah menjalani masa penahanan satu tahun. "Motassadeq terbukti merupakan anggota aktif sel Al-Qaidah di bawah pimpinan Muhammad Atta, tersangka teroris yang berada di balik serangan 11 September di New York dan Washington," ujar Hakim Mentz. Dalam persidangan sebelumnya, Motassadeq menolak semua tuduhan jaksa. Tapi, menurut Mentz, bukti menunjukkan Motassadeq mengetahui rencana serangan itu.

Motassadeq, 29 tahun, adalah orang pertama yang dihukum berkaitan dengan serangan 11 September 2001 terhadap gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York dan gedung Pentagon di Washington. AS sebenarnya meminta agar Motassadeq diekstradisi untuk menghadapi ancaman hukuman mati. Tapi pemerintah Jerman menolak. Bahkan kini kejaksaan federal Jerman sedang menyiapkan tuduhan terhadap Abdelghani Mzoudi, 29 tahun, dengan dakwaan mendukung sel Hamburg Al-Qaidah. Sama dengan Motassadeq, Mzoudi dituduh sebagai teman akrab Muhammad Atta dan mengirim uang ke rekening bank Zakariya Essabar, salah seorang pembajak pesawat yang ditabrakkan ke gedung WTC.

Hubungan pertemanan telah menyeret ketiganya ke sel Al-Qaidah di Hamburg. Perkara kenal dengan seseorang rupanya bisa menjadi rumit setelah AS mengobarkan perang terhadap teroris.

Karena soal itu pulalah polisi Jerman bersenjata lengkap menyerbu apartemen Muhammad bin Naser Belfas di kawasan Ham, Hamburg Timur, tiga hari setelah peristiwa 11 September. Mendadak foto pegawai kantor pos (Deutsche Post) ini terpampang menghiasi media massa internasional dengan dugaan sebagai salah satu anggota sel Al-Qaidah. Polisi mengusung puluhan dus barang milik Belfas, termasuk baju dan kamera. Sebagian dikembalikan, tapi sebagian lagi disita. Bujang berdarah Arab Saudi kelahiran Sawah Besar, Jakarta, 57 tahun silam ini terpaksa tiga kali bolak-balik ke kantor polisi gara-gara mengenal Motassadeq. Belfas mengaku mengenal Motassadeq karena sering bertemu di masjid, sebagaimana imigran Arab lainnya di Hamburg. Tapi, katanya, ia baru tahu nama Al-Qaidah setelah serangan 11 September. "Mereka memang tidak bisa membuktikan bahwa saya terlibat," kata Belfas kepada TEMPO.

Belfas hanya satu dari 100 orang keturunan Arab di Jerman yang terpaksa berurusan dengan polisi pada akhir 2001 hingga awal 2002. Dan sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa di Hamburg. Setelah serangan 11 September, Hamburg menjadi sorotan mata dunia karena kota pelabuhan yang terletak di utara Jerman ini diduga menjadi basis sel Al-Qaidah di Eropa, yang dikenal dengan istilah Hamburg Connection. Maklum, Muhammad Atta, pemimpin pembajak pesawat pada serangan 11 September, pernah menetap di Hamburg.

Di kota berpenduduk 1,7 juta ini terdapat 10 ribu warga muslim Arab dan 40 masjid. Bagi perantau muslim, masjid tidak sekadar menjadi tempat beribadah, tapi juga menjadi tempat pergaulan sosial. Cuma, jangan bayangkan masjid di Hamburg bak masjid pada umumnya dengan kubah dan kumandang suara azan lima kali sehari dari pengeras suara. Warga muslim dengan mudah menyulap bangunan biasa menjadi masjid yang disewa warga keturunan Arab dan Turki. Kebanyakan hanya berupa ruang persegi yang terbuka luas, tapi hanya beberapa masjid yang menyediakan mimbar untuk khatib. Suara muazin mengumandangkan azan pun hanya bergema di dalam ruang masjid karena pemerintah melarang menggunakan pengeras suara. Hanya ada dua masjid yang memiliki arsitektur Arab dengan kubah besar dan interior yang dihiasi kaligrafi Arab, yakni Masjid Ali milik warga Iran, yang didirikan pada 1960-an, dan masjid milik warga Turki.

Sebagian besar warga muslim Arab menetap di kawasan Steindamm, sekitar 2 kilometer dari Hamburg Hauptbahnhof (stasiun pusat kereta api). Suasana lingkungan Arab muslim sangat terasa di Steindamm meski tidak semua penduduk Steindamm keturunan Arab. Bahasa Arab banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Wajah Arab dan perempuan berkerudung berseliweran di sepanjang jalan yang diapit toko bahan makanan dan restoran halal bagi warga muslim. Beberapa restoran Arab menebar aroma mengundang selera masakan kebab ayam, sapi, dan kambing. Ada juga kantor urusan pemakaman warga muslim (Bestattung Institut).

Lebih penting lagi, di kawasan ini terdapat empat masjid. Salah satunya Masjid Al-Quds, di tepi jalan raya Steindamm, yang bertetangga dengan restoran Cina dan pusat kebugaran. Masjid Al-Quds sempat menjadi sorotan karena beredar rumor bahwa masjid ini ditutup pemerintah gara-gara digunakan sebagai tempat berkumpul anggota sel Al-Qaidah. Padahal, kata Belfas, ada tujuh masjid yang ditutup, tapi itu pun hanya karena pengurusnya tak mampu membayar uang sewa. "Karena sumbangan berkurang, terpaksa masjid ditutup," ujar Belfas.

Tragedi 11 September yang kemudian diikuti terbongkarnya sel Al-Qaidah oleh polisi rahasia (Bundes Kriminal Amt dan Landes Kriminal Amt) tak mengubah ritme hidup warga muslim di Steindamm. Restoran Arab tetap sesak pengunjung. Tak tampak warga membicarakan secara serius persidangan Mounir el-Motassadeq. Bahkan Kaddura Bassam, sarjana tekstil asal Palestina lulusan HBK Braunschweig yang sudah 13 tahun tinggal di Hamburg, menganggap tuduhan terhadap Motassadeq hanya fitnah belaka. Bagi Bassam, yang berasal dari Palestina, istilah Hamburg Connection diciptakan untuk menakut-nakuti dan untuk menumbuhkan kecurigaan terhadap imigran Arab. "Tidak ada yang berubah. Pengajian berjalan terus dan kami bahkan menyelenggarakan perayaan 1 Syawal bersama masyarakat muslim Indonesia di Hamburg," kata Mukhsin Syawi, Ketua Masyarakat Muslim Indonesia, yang kebetulan keturunan Arab.

Bagaimana sikap warga Jerman asli? Seorang mahasiswa doktoral di Fakultas Sosial Universitas Hamburg menyatakan tak takut dan tak menaruh curiga terhadap mahasiswa Arab di kampusnya. "Mereka baik. Kenapa harus takut?" ujarnya. Bahkan Christian Fleming, pengusaha yang bertetangga dengan Belfas, tidak yakin warga Arab terlibat dalam serangan 11 September. Fleming mengaku mengenal Belfas sebagai orang baik. Ia menghuni apartemen di lantai satu, sedangkan Belfas di lantai tiga, sehingga Fleming dengan mudah tahu Belfas sering dikunjungi kawannya sesama keturunan Arab pada malam hari. Menurut Fleming, tak ada yang salah dengan kunjungan itu karena Belfas bekerja tiga kali sepekan pada malam hari. "Saya tak curiga dan tak punya pikiran jelek," kata Fleming. Tapi Fleming mengakui bahwa penghuni apartemen yang umumnya sudah berusia lanjut takut jika apartemen mereka menjadi sarang teroris. Apalagi setelah peristiwa kedatangan serombongan polisi ke apartemen Belfas.

Sikap tak bermusuhan sejumlah wangsa Aria terhadap imigran muslim Arab juga terlihat dari keputusan Matthias Grohman dan David Capelle beralih menjadi pemeluk Islam. Grohman, yang menyandang nama Muhammad Nadeem setelah menjadi mualaf pada 1999, bekerja sebagai ahli komputer di perusahaan percetakan di Braunschweig. Orang tuanya sempat khawatir karena Islam sering dikaitkan dengan kegiatan terorisme. "Mereka (orang tua Grohman) melihat saya melakukan salat. Dan saya katakan, 'Lihat saya muslim, tapi saya tidak akan menjadi teroris'," katanya.

Akan halnya David Capelle, mahasiswa Medical School of Hanover, justru memutuskan masuk Islam pada 2001, saat kampanye perang terhadap teroris sedang gencar-gencarnya, termasuk di Jerman. Capelle mendukung sikap warga muslim yang curiga terhadap komentar Presiden Bush tentang perang salib melawan terorisme. "Saya kira AS melakukan kesalahan besar dengan memusuhi Islam," ujar Capelle. Tapi, sebagai mualaf, Capelle mengaku masih malu dan takut secara terbuka menyatakan kepada temannya bahwa ia kini menganut agama Islam. "Di Jerman, Islam masih dianggap sebagai makhluk asing," katanya.

Jelas, ekspresi sikap bermusuhan juga muncul terhadap imigran muslim Arab yang kebetulan mengenakan atribut keislaman. Terkadang itu muncul dalam bentuk sikap sinis atau dengan cara memandang dari ujung kaki hingga kepala seorang perempuan yang mengenakan kerudung. Tak berlebihan kalau koresponden TEMPO dan temannya yang berkerudung juga mengalami perlakuan yang tak menyenangkan dari seorang sopir taksi di Hamburg. Sang sopir terus merepet di sepanjang perjalanan hanya karena penumpangnya yang berkerudung salah menyebutkan alamat. "Saya harap masyarakat Jerman yang melihat Islam bak alien akan berubah di masa depan," ujar David Capelle.

Raihul Fadjri (Deutsche Welle), Sri Pudyastuti Baumeister (Hamburg)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data