Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Kesehatan

Penyakit Haji dan Hajah Baru

Oleh-oleh dari Tanah Suci bukan cuma kurma dan air zamzam. Berbagai penyakit ikut terangkut.

SUDAH tiga minggu ini tenggorokan Giwangkara, 43 tahun, terasa kering dan gatal. Ia juga didera batuk yang membuat dadanya sesak dan suaranya serak, tanda pita suaranya terkena serangan. Itu semua "bingkisan" yang didapatnya setelah ia kembali dari Tanah Suci. Bersama 200 anggota jemaah haji yang tergabung dalam rombongan yang dipimpinnya, eksekutif sebuah perusahaan perjalanan haji ini baru saja menunaikan rukun Islam yang kelima.

Giwangkara tidak sendirian. Di sebuah rumah sakit di Kota Solo, sepulang berhaji, Nyonya Untari—sebut saja begitu—juga tergeletak tak berdaya. Selama tiga hari, ibu dua anak dan nenek tiga cucu ini terpaksa mondok di rumah sakit. Pasalnya, dua hari setelah mendarat di kota tempat tinggalnya tersebut, ia jatuh sakit. "Suhu badannya panas dan terus-menerus batuk," ujar Ary, putra keduanya. Bahkan beberapa kali batuknya disertai dahak berdarah.

Penyakit musim haji ini kemungkinan besar juga menyerang ratusan ribu anggota jemaah yang lain. Batuk, sesak napas, demam, dan mata terasa perih adalah gejala yang umumnya diderita jemaah setelah musim haji usai. Biasanya penderita baru mengeluh begitu mereka kembali ke Indonesia.

Menurut Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Tjandra Yoga Aditama, ada beberapa faktor yang menyebabkan tubuh mudah sakit. Di antaranya perubahan cuaca serta kelelahan lantaran padatnya jadwal ibadah. Interaksi dengan jutaan manusia di lokasi yang sama juga memudahkan lalu lintas kuman untuk hinggap ke manusia.

Selain itu, saat kondisi lemah seperti ini biasanya penyakit bawaan seperti pneumonia ataupun penyakit lain yang selama ini ngumpet akan kembali menampakkan diri. Akibatnya bahkan bisa lebih fatal dan memerlukan penanganan yang berbeda.

Pendapat serupa diungkapkan oleh Pradnya Paramita. Dokter spesialis penyakit paru-paru dari Rumah Sakit Persahabatan ini mengatakan bahwa berbagai penyakit—termasuk gangguan saluran pernapasan—yang kerap menyerang jemaah haji disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya perubahan lingkungan dan pola hidup. Selain itu, tingkat stres yang tinggi memicu tubuh menjadi lebih rentan. "Mereka yang tidak pernah ke luar negeri biasanya akan lebih mudah shocked," ucap Pradnya. Ketakutan akan perbedaan budaya dan bahasa yang mencolok menyebabkan banyak anggota jemaah haji kerap terserang stres berat. Kalau sudah begini, pertahanan tubuh menjadi lebih rapuh.

Udara kering dan berdebu adalah faktor lain yang ikut menurunkan kekebalan tubuh. Untuk itu, Pradnya menyarankan agar para anggota jemaah tidak alpa menggunakan masker pelindung selama di sana. Untuk menjaga kelembapan udara, masker tersebut semestinya digunakan setiap saat, bahkan sejak jemaah masih berada di dalam pesawat terbang.

Untuk penyakit yang masuk kategori berat, jemaah juga harus waspada terhadap bahaya meningitis. Sebab, lemahnya daya tahan tubuh akan menyebabkan virus ini mudah menemukan rumah yang nyaman di dalam tubuh. Padahal bahaya yang ditiupkan oleh virus penyebab radang selaput otak ini tidak main-main. Jika si penderita terlambat ditangani, biasanya bahaya itu akan berakhir pada kematian.

Tak peduli termasuk dalam kelompok ringan atau berat, sebetulnya penyakit yang timbul selama dan setelah musim haji bisa diantisipasi sejak dini. Dua minggu sebelum jemaah berangkat, biasanya diwajibkan suntik imunisasi dengan vaksin influenza dan meningitis. Sayangnya, vaksin influenza, menurut Pradnya, tidak banyak membantu. Sebab, ketika daya tahan sedang lemah, virus ini mudah kembali mengganggu.

Meski terdengar klise, baik Pradnya maupun Tjandra menganjurkan resep yang sama. Cukup istirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi adalah jalan terbaik untuk menghindari serangan penyakit. Jika telanjur sakit, menurut Tjandra, harus cepat diobati. Sebab, tipe kuman yang beredar di Mekah berbeda dengan yang ada di Indonesia. Antibiotik yang diberikan juga biasanya berbeda, yaitu yang termasuk dalam kelompok kuinolon atau sefalosporin. Pradnya juga mewanti-wanti agar imunisasi dilakukan saat tubuh jemaah haji dalam kondisi yang benar-benar sehat. Jika tidak, alih-alih ingin sehat, yang terjadi malah sebaliknya. Sebab, kuman yang sebelumnya telah dinonaktifkan bisa berubah status. Kuman itu jadi aktif dan berbalik menyerang sistem pertahanan, bukannya melindungi tubuh dari gempuran penyakit.

Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data