|
AKSI virus paramyxoviridae menyulut SARS memang belum terang-benderang. Namun penjelasan berikut ini bisa berguna sebagai bekal.
Profesor Endang Sutariningsih Soetarto, ahli mikrobiologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menerangkan bahwa keluarga paramyxoviridae memiliki semacam alat kait yang digunakan untuk memasuki sel inang. Dalam kasus SARS, sindrom pernapasan yang akut dan parah, virus menyerang sel-sel lendir di dalam paru-paru. Begitu masuk, kawanan virus berkembang biak hebat sehingga sel-sel inang rusak, pecah, menggumpal, dan terjadilah peradangan paru-paru (pneumonia).
Lalu bagaimana mendeteksi orang yang terkena SARS?
"Harus diakui, ini soal rumit," kata Dokter Tjandra Yoga Aditama, ahli paru-paru yang bertugas di Rumah Sakit Umum Persahabatan, Jakarta.
Berdasarkan pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO), Anda bisa dicurigai menyandang SARS jika demam 38 derajat Celsius atau lebih dan mengalami satu atau dua problem pernapasan seperti batuk dan susah bernapas. Persoalannya, ini bukan suatu gejala yang khas. "Flu biasa juga ditandai dengan gejala tadi," katanya.
Karena itu, analisis mesti berlanjut dengan pertanyaan: apakah Anda baru saja bepergian ke wilayah yang rawan SARS? Pernahkah Anda berkontak intensif, merawat, tinggal bersama, dan bertukar cairan tubuh dengan kawan kerabat yang terkena SARS atau baru pulang dari kunjungan ke wilayah rawan SARS?
Jika jawabannya "tidak," Anda boleh tenang. Namun jawaban "ya" pun mesti diklarifikasi lebih lanjut dengan foto rontgen. Dugaan SARS baru sahih bila ada gambaran paru-paru yang meradang tidak lazim sesuai dengan rujukan WHO.
Yang penting, agar tidak kecolongan, jalan yang paling utama adalah meningkatkan stamina supaya virus bisa dilawan. Juga, "Jangan remehkan flu yang terus memburuk," kata Tjandra. Bila Anda kena flu lebih dari tiga hari, dan flu itu tidak mempan digusur obat bebas, segeralah bergegas mengunjungi dokter terdekat.
Mardiyah Chamim, Heru C. Nugroho
|