Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Kesehatan

Mengenali SARS

AKSI virus paramyxoviridae menyulut SARS memang belum terang-benderang. Namun penjelasan berikut ini bisa berguna sebagai bekal.

Profesor Endang Sutariningsih Soetarto, ahli mikrobiologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menerangkan bahwa keluarga paramyxoviridae memiliki semacam alat kait yang digunakan untuk memasuki sel inang. Dalam kasus SARS, sindrom pernapasan yang akut dan parah, virus menyerang sel-sel lendir di dalam paru-paru. Begitu masuk, kawanan virus berkembang biak hebat sehingga sel-sel inang rusak, pecah, menggumpal, dan terjadilah peradangan paru-paru (pneumonia).

Lalu bagaimana mendeteksi orang yang terkena SARS?

"Harus diakui, ini soal rumit," kata Dokter Tjandra Yoga Aditama, ahli paru-paru yang bertugas di Rumah Sakit Umum Persahabatan, Jakarta.

Berdasarkan pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO), Anda bisa dicurigai menyandang SARS jika demam 38 derajat Celsius atau lebih dan mengalami satu atau dua problem pernapasan seperti batuk dan susah bernapas. Persoalannya, ini bukan suatu gejala yang khas. "Flu biasa juga ditandai dengan gejala tadi," katanya.

Karena itu, analisis mesti berlanjut dengan pertanyaan: apakah Anda baru saja bepergian ke wilayah yang rawan SARS? Pernahkah Anda berkontak intensif, merawat, tinggal bersama, dan bertukar cairan tubuh dengan kawan kerabat yang terkena SARS atau baru pulang dari kunjungan ke wilayah rawan SARS?

Jika jawabannya "tidak," Anda boleh tenang. Namun jawaban "ya" pun mesti diklarifikasi lebih lanjut dengan foto rontgen. Dugaan SARS baru sahih bila ada gambaran paru-paru yang meradang tidak lazim sesuai dengan rujukan WHO.

Yang penting, agar tidak kecolongan, jalan yang paling utama adalah meningkatkan stamina supaya virus bisa dilawan. Juga, "Jangan remehkan flu yang terus memburuk," kata Tjandra. Bila Anda kena flu lebih dari tiga hari, dan flu itu tidak mempan digusur obat bebas, segeralah bergegas mengunjungi dokter terdekat.

Mardiyah Chamim, Heru C. Nugroho


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data