Sindrom SARS Mengguncang Bumi WHO menyerukan agar dunia waspada terhadap sindrom radang paru akut dan parah. Indonesia termasuk yang harus bersiaga. |
Zaman modern bukan sekadar ditandai dengan kesanggupan manusia melancong ke delapan penjuru angin. Kini jutaan jenis kuman dan virus ikut serta bebas pelesir ke seluruh sudut dunia.
Jessica Nash, 25 tahun, warga Maidenham, kota kecil di Inggris, telah membuktikan betapa gesit mobilitas kuman dan virus menebar di dunia. Usai bepergian, Jessica memanen SARS (severe acute respiratory syndrome), sindrom pernapasan yang akut dan parah. Inilah sekumpulan gejala misterius dan menggegerkan jagat kedokteran. Tak kurang dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) melansir siaran pers tentang perlunya dunia mewaspadai ancaman SARS, awal pekan lalu.
Pada 12 Desember 2002, Jessica berlibur selama empat hari ke New York, Amerika Serikat. Dalam perjalanan pulang, di pesawat lintas Lautan Atlantik, Jessica duduk di samping penumpang perempuan yang terus-menerus batuk dan meludah. "Dia baru saja pulang dari Hong Kong," tutur Jessica kepada BBC News Health.
Sepuluh hari berikutnya, Jessica merasakan tubuhnya diterjang demam. Obat flu ataupun antibiotik resep dokter tidak mempan. Gadis ini terus panas-dingin, tenggorokan sakit, batuk hebat, dan susah bernapas (lihat, Mengenali SARS).
Pada 16 Januari 2003, Jessica jatuh pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit Wexham Park, Slough, Inggris. Para dokter di rumah sakit kebingungan. Jessica dinyatakan terinfeksi virus ganas tak dikenal dan langsung dikarantina. Semua pembesuk dan perawat yang menemuinya harus berpakaian khusus: jaket, sepatu plastik, dan masker penangkal penularan.
Tubuh Jessica kian gering. Di ujung Januari 2003, hasil foto rontgen menunjukkan dia terkena radang paru-paru (pneumonia) yang cukup parah. Peradangan bahkan sudah meluas ke selaput jaringan otak, yang membuat dia kehilangan sebagian memori. Dokter pun bergegas menggenjot dosis dan menambah jenis antibiotik. "Syukurlah, saya berangsur membaik meskipun masih amat lemah," kata Jessica.
SARS, menurut siaran pers WHO, beraksi pertama kali di Provinsi Guangdong, Cina, November tahun lalu. Sedikitnya 350 warga terkena SARS di wilayah ini, dan sebagian dari mereka adalah perawat dan petugas kesehatan. Lima pasien tewas.
Sementara itu, bibit SARS melanglang ke Hong Kong melalui seorang dokter yang baru pulang dari Guangdong. Sang dokter menginap di Hotel Metropole, Kowloon, dan menularkan SARS pada enam orang tamu hotel yang tinggal di lantai yang sama. Belakangan, sang dokter dan satu pasien lain dilaporkan meninggal gara-gara SARS. Sindrom ini terus merangsek dan laporan resmi menyebutkan ada 123 warga Hong Kong yang terkena.
Selanjutnya, menumpang mobilitas manusia, bendera SARS makin berkibar. Dia menyebar ke Vietnam (57 kasus), Kanada, Amerika Serikat (11 kasus), Inggris, Jerman, Spanyol, Swiss, Australia, Thailand, dan Singapura. Sampai tulisan ini diturunkan, tercatat 10 korban meninggal dan banyak lainnya berada dalam kondisi parah dan harus dibantu dengan alat pernapasan atau respirator.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sejauh ini memang belum ada laporan tentang kasus SARS di negeri kita. Tapi bukan berarti negeri ini aman seratus persen. Maklum, mobilitas masyarakat kita sudah sedemikian tinggi. Penggunaan pesawat terbang, tempat para penumpangnya berbagi udara di ruangan yang sama, turut mendukung laju penyebaran penyakit.
Walhasil, pada 16 Maret lalu, Menteri Kesehatan RI Achmad Suyudi menetapkan travel alert, waspada perjalanan, untuk warga negara Indonesia yang berkunjung ke lima wilayah: Cina (khususnya Provinsi Guangdong), Hong Kong, Thailand, Vietnam, dan Singapura. Siapa pun yang merasakan gejala mirip SARS selama atau setelah berkunjung ke lima wilayah tersebut dianjurkan segera berobat ke dokter setempat.
Sujudi melanjutkan, pemerintah juga menyediakan layanan kesehatan bagi warga asing yang datang dari wilayah yang rawan itu. Mereka yang terbukti mengalami gejala SARS akan dikarantina guna mencegah penularan lebih lanjut.
Namun, memastikan seseorang menyandang SARS bukanlah perkara gampang. Soalnya, pemahaman para ahli tentang asal-muasal SARS masih amat terbatas. Penyelidikan sementara, seperti diumumkan WHO, menunjukkan biang keladi SARS adalah virus dari famili paramyxoviridae—satu keluarga dengan virus penyebab campak, gondongan, dan beberapa jenis influenza. Riset lebih lanjut sedang digelar guna memastikan spesies virus yang beraksi dan menentukan obat yang lebih cocok.
Biarpun begitu, jangan buru-buru panik. Pelacakan riwayat pasien di berbagai negara menampakkan cara penularan SARS relatif perlahan. Sifat penularan yang lamban ini pula yang meredam kerisauan bakal terulangnya tragedi wabah flu tahun 1968—wabah yang menelan 700 ribu korban jiwa.
Berdasar penjelasan WHO, hanya mereka yang berkontak intensif dengan pasienlah yang berisiko tertular SARS. Tak perlu khawatir tertular jika Anda hanya berkontak secara biasa-biasa saja. "Virus keluarga paramyxoviridae memang punya ciri khas bergerak dan berkembang lambat," kata Profesor Endang Sutariningsih Soetarto, ahli mikrobiologi dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Hanya, biarpun lamban, akibat yang ditimbulkan paramyxoviridae sama sekali tidak enteng. Pengobatan yang telat atau kurang tepat, karena banyak dokter belum paham, membuat kekebalan tubuh pasien makin lemah. "Kondisi ini bakal mengundang infeksi lanjutan," kata Endang. Jutaan bakteri dengan leluasa akan bergabung dengan virus dan berpesta merusak sel-sel lendir dalam sistem pernapasan. Akibatnya, muncul radang paru-paru dan bronkitis yang bisa berdampak mematikan.
Sementara itu, Profesor Agus Sjahrurachman, ahli virologi dari Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengingatkan pentingnya upaya pencegahan. Soalnya, sampai kini belum tersedia obat jitu pembasmi paramyxoviridae. Obat yang ada saat ini paling-paling hanya berfungsi melemahkan tetapi tidak sampai membunuh virus sampai tuntas.
Jadi, kata Agus, ada dua hal yang penting kita lakukan. Pertama, genjot daya tahan dengan gizi, olahraga, dan istirahat memadai sehingga tubuh sanggup menggempur virus. Rajin cuci tangan dengan sabun juga tergolong ampuh untuk mengusir virus sebelum memasuki tubuh.
Langkah yang kedua, "Cegah kontak yang intensif dengan orang yang dicurigai terkena SARS," katanya. Percikan ludah dan cairan tubuh si pasien wajib dijauhi, minimal dengan mengenakan masker. Poin ini, Agus menekankan, patut jadi perhatian dokter, perawat, dan paramedis lainnya. Merekalah jajaran yang riskan tertular SARS karena harus melakukan kontak langsung dengan pasien.
Jangan sampai terjadi, lantaran bertindak kurang profesional, para petugas layanan kesehatan justru menjadi agen yang memperpanjang rantai perjalanan SARS.
Mardiyah Chamim, Heru C. Nugroho (Yogyakarta)
|