Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Kolom

Memutar Rekaman Ingatan Perang Irak

Yuli Ismartono
Wartawan TEMPO

Anda di sini menjemput keluarga, atau mungkin Anda gila?" Pertanyaan itu dilontarkan petugas imigrasi Bagdad kepada saya lima hari menjelang penyerangan pasukan Amerika Serikat ke Bagdad pada 1991 silam. Kehadiran saya memang mengundang tanda tanya pada satu-satunya petugas imigrasi yang masih ada di bandar udara. Tampaknya, ia bertanya karena berupaya meringankan suasana pada hari yang dingin dan mencekam itu, menjelang meletusnya kekacauan. Saat itu, semua orang justru tengah sibuk berbondong-bondong ke luar Bagdad, sehingga kedatangan saya menjadi sangat aneh.

Pekan yang lalu, ketika bom mulai berjatuhan, saya dilanda perasaan déjà vu, seolah mengalami kembali kejadian di masa lalu: serangan udara yang dahsyat yang dilakukan pesawat pengebom Amerika, perlawanan Saddam Hussein di hadapan kekuatan militer yang demikian hebat, serta kesengsaraan rakyat Irak yang tiada akhirnya. Semua itu pernah terjadi di masa lalu, pada Januari 1991, dalam perang yang kini disebut Perang Teluk Pertama. Ketika itu, saya menyaksikan sendiri dan meliput perang itu dari Bagdad. Dan kini, menyaksikan peristiwa perang yang sudah begitu lama dirancang itu, saya seperti menyaksikan sebuah siaran ulangan dengan tema yang berbeda.

Saya ingat betapa anehnya saya menjadi satu-satunya penumpang pada penerbangan Iraq Air dari Amman, Yordania, menuju ibu kota Irak, lima hari menjelang serangan udara Amerika yang pertama. Siapa yang tertarik untuk "berlibur" ke negara yang sudah pasti dihantam bom? Saya pun satu-satunya penumpang yang tiba di bandara hari itu, berjalan di tengah ruang keberangkatan yang penuh dengan penumpang yang menanti penerbangan keluar. Pada saat yang bersamaan, di daratan tengah terjadi pergerakan massal ke luar negara itu melalui jalan daratan: pengungsi berdesakan menumpang bus menuju perbatasan Yordania pada jarak sekitar 550 kilometer.

Di Hotel Al-Rashid, tempat saya menginap selama penugasan di Irak, wartawan asing sibuk kian kemari memburu wawancara terakhir dengan para pejabat ataupun rakyat biasa. Sesungguhnya, bagi sebagian besar dari mereka, hal itu merupakan tugas terakhir sebelum angkat kaki. Tepat dua hari menjelang dimulainya serangan, kebanyakan wartawan tersebut telah check out, digantikan rombongan-rombongan keluarga Irak berpakaian rapi, tampaknya cukup berada, yang check in. Selagi sebagian besar penduduk Bagdad mencari perlindungan dari bom di luar kota, kelompok yang berduit menuju suaka di hotel-hotel, tempat tersedianya ruangan perlindungan bawah tanah yang sangat luas yang dilengkapi makanan dan selimut serta keperluan mendasar lainnya.

Ketika saya berkeliling kota sehari sebelum bom mulai berjatuhan, saya merasakan bagaimana sikap masyarakat Irak yang sedih tapi tetap menantang. Tak tebersit sedikit pun keberanian untuk mengecam pemerintah atau presiden yang mengimbau rakyatnya agar bertempur dan menang dalam "ibu dari segala pertempuran". Di jalanan terdengar teriakan penuh gertakan ketika demonstrasi digelar untuk menghujat operasi militer yang dilancarkan pihak Amerika. Para pengunjuk rasa menggotong poster-poster yang mengagung-agungkan Saddam.

Namun, di daerah perumahan, tanpa banyak bersuara, para keluarga sibuk memasukkan barang-barang ke dalam kendaraan yang siap membawa mereka menuju daerah yang lebih aman di luar kota. Prajurit yang belum lama berselang dikenai wajib militer bergerombol di sekitar stasiun bus, seraya siap menggantikan orang-orang yang diperkirakan segera kembali dalam keadaan tewas atau terluka dari garis depan di perbatasan Kuwait. Pasar-pasar dengan cepat mulai kosong ketika pembeli berbondong-bondong menimbun makanan dan minuman. Di semua rumah sakit Bagdad—yang sebelumnya memang sudah mengalami kelangkaan obat-obatan dan perlengkapan akibat gerakan pemblokiran yang dipimpin Amerika menyusul serbuan Irak terhadap Kuwait beberapa bulan sebelumnya—suasana terasa suram. Semua toko, rumah makan, dan perkantoran di kota itu telah tutup. Di mana-mana terlihat tanda-tanda putus asa yang membisu.

Suasana pun sarat dengan ketidakpastian. Terbiasa dengan cara berperang konvensional, tak ada yang bisa menduga bagaimana pertempuran bakal berlangsung. Beberapa saat lewat pukul 2.30 dini hari, kami mendapat jawabannya. Tiba-tiba langit menjadi terang-benderang ketika peluru kendali (rudal) jelajah laut yang ditembakkan dari kapal dan pesawat tempur Stealth AS mengawali serangan udara besar terhadap sasaran strategis di seluruh kota. Bunyi artileri pertahanan udara yang berasal dari penembak Irak menggeretak bagaikan petasan yang dinyalakan di hari raya. Namun, kami tahu, ini bukan sebuah perayaan, melainkan kehancuran.

Kini kita semua menyaksikan kehancuran yang kedua kalinya, bahkan dalam skala yang lebih besar. Kali ini serbuan terhadap Irak merupakan serangan serentak yang dilancarkan dari daratan dan udara, disertai sebuah sapuan psikologis dan propaganda secara besar-besaran yang tujuannya mengikis semangat tentara Irak. Berbeda dengan yang terjadi pada 1991, seluruh dunia—kecuali segelintir pihak—menganggap serbuan kali ini tidak bisa dibenarkan, bahkan legitimasinya dipertanyakan. Misi dari Perang Teluk Pertama adalah mengusir tentara penyerbu Irak dari Kuwait. Karena itu, dengan mudah tindakan tersebut bisa menarik dukungan dari negara-negara besar Timur Tengah—Arab Saudi, Yordania, dan negara-negara Teluk lainnya—serta sebagian besar warga dunia dan Dewan Keamanan PBB. Perang yang dilancarkan saat ini tidak memperoleh seluruh beking itu.

Sebagian besar pemerintah negara Arab tidak mendukungnya dan dunia penuh dengan gelombang demonstrasi antiperang. Hal itu tidak banyak terlihat pada 1991. Dalam sambutannya sebelum perang dilancarkan, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menyayangkan kegagalan diplomasi dalam mencegah tindakan AS. Dengan kekuatan yang nyaris terkuras, tentara Irak tampaknya tak akan bisa memberikan perlawanan yang berarti. Yang mengenaskan, menurut para analis, justru kekuatan pasukan Irak tersebut sudah jauh berkurang dibandingkan dengan tahun 1991. Bahkan kepala inspeksi senjata PBB, Hans Blix, menyimpulkan bahwa sebagian besar persenjataan Irak tengah dimusnahkan.

Pertanyaan yang perlu dikemukakan: sebenarnya perlukah AS melancarkan serbuan habis-habisan itu terhadap negara yang gertakannya jauh melebihi sengatannya? Motivasi AS untuk menyingkirkan Saddam Hussein yang dianggap merupakan ancaman tetap terhadap perdamaian dunia terdengar sumbang di hadapan semua kenyataan ini. Kalaupun Saddam Hussein dibidik mengingat penindasan yang dilakukan rezimnya selama lebih dari 50 tahun, perlukah melibatkan begitu banyak orang tak berdosa—anak-anak dan wanita Irak—yang sudah pasti ikut dijadikan sasaran?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data