Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Indikator

Premanisme, Cukup Sampai di Sini

Setujukah Anda aksi massa dan premanisme untuk memprotes media massa?
(14 - 21 Maret 2003)
Ya
13.2%255
Tidak
85.3%1.451
Tidak tahu
1.5%25
Total100%1.701


Zulvan Lindan punya kata-kata bijak. Sambil menggebrak meja, anggota DPR ini menantang taipan Tomy Winata agar bersikap ksatria. ”Tomy Winata, Anda boleh dekat dengan Mega, Hamzah, atau siapa saja. Tapi kami tidak takut dengan Anda,” ujarnya. Pernyataan heroik itu terlontar saat rapat dengar pendapat antara Komisi I DPR—yang membidangi pertahanan-keamanan dan hubungan luar negeri—Majalah TEMPO, dan Tomy Winata pekan lalu.

Pertemuan mahapenting itu, yang dilakukan saat DPR sedang reses, merupakan buntut penyerbuan terhadap kantor Majalah TEMPO oleh ratusan orang. Para demonstran, yang mengaku sebagai kaki tangan Tomy Winata, memprotes berita di Majalah TEMPO yang berjudul Ada Tomy di ’Tenabang’?. Masalahnya, aksi massa itu berujung pada kekerasan dan premanisme. Pemimpin Redaksi TEMPO Bambang Harymurti dan beberapa wartawan lain menjadi korban pemukulan dan penghinaan yang di luar batas kesopanan.

Aksi orang-orang Tomy Winata itu langsung menuai protes. Wartawan, kalangan LSM, pekerja seni, Komisi I DPR, dan Kepala Kepolisian RI mengutuk. Penolakan terhadap kekerasan dan premanisme juga datang dari responden yang mengeklik situs www.tempointeraktif.com. Dari 1.701 responden, 1.451 (85,3 persen) menolak premanisme untuk memprotes pemberitaan media massa. Sedangkan yang setuju hanya 225 responden (13,2 persen). Sisanya, 25 responden (1,5 persen), tak memiliki sikap yang jelas.

Tomy Winata, dan ”Tomy-Tomy” yang lain, harus belajar dari kasus penyerbuan kantor Majalah TEMPO. Pemberitaan media massa memang tak selamanya menyenangkan. Tapi aksi kekerasan dan premanisme bukanlah cara beradab untuk memprotes sebuah karya jurnalistik.





Indikator Pekan Ini:
Amerika Serikat kembali berulah. Tanpa mandat resmi dari Dewan Keamanan PBB, Amerika dan sekutunya menyerbu Irak. Akibatnya, jutaan orang di dunia memprotes perang tak berdasar ini. Bahkan, dari dalam negeri, muncul suara yang meminta pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika. Soalnya, negeri itu dinilai telah melakukan kejahatan perang.

Untuk menyuarakan sikap Anda, silakan kunjungi situs berita kami di www.tempointeraktif.com. Dalam rubrik Indikator, kami mengajukan pertanyaan: ”Setujukah Anda bila pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat?”

Memang Inggris, Australia, dan Spanyol sebenarnya ikut dalam ”konsorsium agresor” yang menyerang Irak. Tapi kami sengaja hanya menyebut Amerika dalam jajak pendapat ini. Soalnya, negara superkuat itulah yang menjadi biang perang di Irak.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data