Selendang Bulu dalam Pesta Hari Jadi Di Indonesia, komunitas drag queen—lelaki yang gemar berbusana mewah sebagai wanita—umumnya melebur ke dalam kelompok gay dan waria. |
Beri dia waktu 30 menit. Tiga puluh menit saja. Dan saksikan bagaimana sosok itu beralih wujud. Mula-mula jenggot dicukur bersih. Pembersih muka dioleskan ke seluruh wajah. Pelembap kulit dan alas bedak dipupurkan di atas kulit muka, disusul bedak, perona bibir, pemerah pipi, dan maskara. Lalu, ah, ini dia bagian tersulit: mempercantik mata. Alis dikelir dengan pensil sehingga kelopak agak terangkat, sebelum dia menempelkan bulu mata palsu. Sebentuk wig naik ke kepala. Dan astaga, Yayat—lelaki ganteng berumur 30-an itu, tiba-tiba menjelma menjadi nona yang jelita.
Si ganteng menyelipkan potongan spons di dalam bra saat bertukar baju. Gaun hitam gemerlap membungkus tubuhnya yang padat. Stocking dan sepatu tumit tinggi menyempurnakan ”metamorfosis” itu. Sehelai selendang bulu mewah menjadi sentuhan final sebelum dia naik panggung. Malam itu, dalam dandanan drag queen—artinya kurang lebih, lelaki yang gemar tampil mewah dalam busana wanita—siapa yang mengira bahwa Yayat adalah guru di sebuah SMU swasta di Jakarta?
Drag queen, meminjam penjelasan Dede Oetomo—seorang gay dan ahli linguistik lulusan Cornell University—adalah fenomena yang lahir di Amerika dan Inggris pada era 1930. Kini merebak di kota-kota besar Indonesia, para drag queen, menurut Dede, umumnya berasal dari kelas menengah. Mereka tersebar dan tumbuh dalam industri showbiz, fashion, dan jasa kecantikan. Dede mencontohkan penyanyi Boy George dari Inggris atau Michael Jackson dari Amerika. Di Indonesia ada Oscar Lawalata, desainer muda dan cemerlang—yang tak pernah ragu tampil di depan publik dalam busana perempuan.
Para drag queen tidak selalu gay atau waria—bisa juga lelaki normal. Kayo, seorang dokter yang menjadi Humas Ikatan Persaudaraan Orang-Orang Sehati (IPOOS, sebuah komunitas homoseksual di Jakarta) misalnya, memiliki istri dan dua anak. Tidak ada tampilan gay pada dirinya. Dia juga jarang berbusana perempuan, bahkan dalam acara-acara IPOOS. ”Busana perempuan itu terutama karena tuntutan peran dalam show,” ujar sang Dokter.
Benar demikian? Tidak semuanya. Di Indonesia para drag queen sulit dipisahkan dari komunitas gay dan waria, walau sebagian dari mereka mengaku tetap menjadi lelaki setelah mencopot busana dan menghapus dandanan di wajah. Terbahak—dalam suara yang sungguh lelaki—Yayat mengatakan kepada TEMPO, ”Penampilan ini kan cuma di show. Setelah pakai baju lelaki, ya, jadi lelaki lagi.”
Para drag queen hidup, berkembang, dan bernapas di atas panggung. Mereka ada di industri showbiz, di klub-klub homoseksual terkenal—Klab Hulu di Denpasar, misalnya. Mereka bekerja sebagai perias wajah, ahli kecantikan, penyanyi pub, desainer fashion. Bila malam turun, para drag queen tiba-tiba merasa nyaman dalam dunianya seperti ikan di dalam air. Tengoklah delapan lelaki muda yang tampan, melangkah ke lobi Hotel Le Meridien, di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, dua pekan silam.
Turun dari mobil, mereka meluncur ke ruang rias, memoles wajah, membalut tubuh dengan baju-baju gemerlap. Malam itu, peragaan busana menjadi panggung mereka berparade. Delapan anak muda itu adalah anggota The Silver Boy, sebuah kelompok hiburan yang dipimpin Tata Dado. Spesialisasi kelompok ini adalah tari dan nyanyi yang dilakukan oleh laki-laki cantik berpakaian glamor. Dan Tata, pria dengan postur tubuh kekar itu, mengawasi anak-anaknya dengan disiplin seorang entertainer.
Bobby, 21 tahun, yang baru lulus universitas, mengaku berdandan amat hati-hati dalam setiap show Tata. ”Tubuh harus betul-betul lentur dan rias wajah mesti sempurna,” ujarnya. Kenapa ingin jadi drag queen? ”Rasanya jreng gitu kalau kita bisa tampil melebihi yang lain,” ujarnya dengan nada feminin. Tapi dalam kehidupan sehari-hari Bobby masih mempertahankan identitasnya sebagai laki-laki—termasuk berkencan dengan wanita—sebagaimana halnya yang dilakukan Dokter Kayo dan Yayat, si guru SMU.
Fenomena drag queen tumbuh sebagai salah satu sisi industri hiburan di kota-kota besar. Di Bali, show mereka membikin sesak kafe-kafe kaum gay. Kafe Hulu dan Q Bar di Seminyak, Bali, adalah dua surga tempat para gay—kaum homo dan lesbian—melewatkan jam-jam malam mereka dengan menelan aksi para drag queen di atas panggung. Berdiri sejak 14 tahun silam, Kafe Hulu adalah kedai pertama yang berani berterus terang sebagai kafe gay—kini jadi favorit kaum gay dari seluruh dunia yang tengah berlibur di Bali.
Di Kafe Hulu pula, para tamu bisa menyaksikan salah satu spesialisasi kelompok drag queen: menirukan aksi panggung para penyanyi ternama dengan cara lipsync. Suatu malam, seorang ”Whitney Houston” tiba-tiba melemparkan diri ke atas panggung dan membakar udara malam dengan lagu One Moment in Time. Cuma lipsync, memang. Tapi begitu meyakinkan sampai seorang lelaki Negro dengan gemas menyusupkan dolar ke dada si Whitney palsu yang membusung. Keduanya berpelukan dan berkecupan mesra diiringi tepuk tangan ratusan gay yang memenuhi lantai kafe.
Di lain hari pergilah ke Studio East di Surabaya. Dan temui Paula From Mexico, seorang primadona drag queen yang setia melantunkan lagu-lagu Meksiko untuk tamu-tamu gay pada setiap Kamis malam. Di Jakarta, show para drag queen bisa disaksikan di Jalan-Jalan Cafe dan The Moonlight Cafe. Dari panggung ke panggung, para drag queen memenuhi pesanan ”aneka menu”: dari gemerlapnya bintang Hollywood hingga goyang penyanyi India. Dengan polesan wajah, kelenturan tubuh, kemewahan busana, dan latihan ketat, para drag queen mampu melontarkan tamu-tamunya ke dalam berlapis-lapis fantasi.
Siapa mereka sesungguhnya? Definisi umum menyebutkan mereka lelaki yang gemar mengenakan busana lawan jenisnya. Fakta di dunia hiburan menunjukkan betapa mahirnya mereka memamerkan daya tarik fisik sebagai wanita. Serba glamor. ”Drag queen adalah lelaki yang berdandan perempuan, menor, kostum wah, rambut wuih...., pokoknya heboh,” kata Tata Dado, yang selama tiga tahun mengisi acara drag queen di Jalan-Jalan Cafe, bersama kelompok The Silver Boy-nya.
Kehidupan yang serba feminin dan gemerlap, tidak mengherankan, membuat kebanyakan drag queen menyeberang ke dunia gay.
”Pada dasarnya mereka memang gay, tapi mereka berpakaian perempuan,” kata Erwan IPOOS. Dia mencontohkan Eko alias Vena, 27 tahun. Sehari-hari bekerja sebagai humas sebuah perusahaan di bidang hiburan di kawasan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Eko mengaku suka berpakaian wanita di depan umum. Terutama, baju-baju mini untuk memamerkan kakinya yang jenjang dan mulus.
Dede Oetomo mengatakan sulit membedakan drag queen, waria dan gay. ”Mungkin bisa dikatakan begini: drag queen khusus tampil di panggung-panggung, sedangkan waria biasanya di jalan-jalan.” Lagipula, di Indonesia, komunitas gay belum terbuka sehingga sulit diidentifikasi perbedaannya. Seperti kaum gay, drag queen juga berkomunikasi dalam bahasa slank di antara mereka. Misalnya, wilse (naksir), mabar (mabuk), bulbul (bule), dan bala-bala (bagi-bagi).
Kemampuan menghibur membuat para drag queen—gay ataupun lelaki—kini mulai keluar dari semata-mata kepompong dunia malam. Mereka hadir di pesta-pesta khusus di hotel berbintang, menyajikan hiburan menyanyi dan tari, meniru bintang-bintang dunia. Bahkan mereka muncul di acara-acara keluarga. Belum lama ini, seorang artis penyanyi Ibu Kota melibatkan sepasang drag queen dalam pesta ulang tahun suaminya—seorang pesulap muda.
Ketika sang pesulap tengah menekan-nekan tuts piano, kejutan itu muncul dari ruangan sebelah: seorang drag queen meluncur di atas lantai, berdansa dengan selendang bulu di hadapan para undangan. Perlahan, dia meliuk-liukkan tubuh dengan gerakan sensual lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi si ahli sulap. Tamu-tamu bertepuk tangan dan mendentingkan gelas, sendok, dan garpu dengan meriah. ”Saya bahagia karena membikin mereka bahagia,” ia berbisik sembari mengedipkan mata kepada TEMPO.
HYK, Bina Bektiati, Levi Silalahi (Jakarta), Adi Mawardi (Surabaya), Rofiqi Hasan (Bali)
|