Musuh di Dalam Selimut CIA Kisah pengkhianatan dan penyalahgunaan wewenang dalam tubuh CIA. Film yang terlalu menyederhanakan masalah. |
THE RECRUIT (2002)
Pemain : Al Pacino, Collin Farrel/td>
Sutradara : Roger Donaldson
Skenario : Roger Towne, Kurt Wimmer
Produksi : Touchstone Pictures
SEPASANG mata menatap nyalang. Kira-kira dua puluh meter di hadapannya berdiri sang buruan, seorang pemuda lulusan terbaik Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang tengah beraksi di depan komputer. The Recruit, film karya sutradara Roger Donaldson itu, bercerita tentang sesuatu yang memikat dan memancing penasaran: sebuah insight story di tubuh Badan Intelijen Pusat Amerika, CIA.
Di sebuah ruang pameran di MIT, Walter Burke (Al Pacino), instruktur senior CIA, jatuh hati pada pandangan pertama kepada si pemuda, James Clayton (Collin Farrel). Kepentingan dua orang yang berbeda generasi dan berlainan pandangan hidup itu akhirnya bertemu di satu titik. Burke mencium bakat luar biasa seorang agen rahasia yang bersembunyi di dalam diri Clayton. Sedangkan Clayton memandang CIAkhususnya Burkesosok yang dapat menyingkap misteri kematian ayahnya di sebuah hutan tropis Peru pada 1991.
Telah bertahun-tahun Clayton menyimpan hasrat untuk memenuhi rasa ingin tahu tentang sang ayahseorang pengusaha minyak yang bertugas di luar negeriyang hilang secara misterius. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Clayton dan sejumlah anak muda terpilih, pemuda-pemudi yang cerdas dan sanggup menyimpan identitas, kemudian diboyong ke sebuah tempat latihan eksklusif dan rahasia, The Farm, seting cerita ini. Di situlah skenario trio Roger Towne, Kurt Wimmer, dan Mitch Glazer mengalir, dan di situlah sebuah kisah cinta yang penuh action dan petualangan berkembang dengan segala dilematikanya. Memang dalam film ini Hollywood terbukti tidak sanggup menghentikan tradisi lama: mempertemukan si cantik dan si tampan. Tapi bukan itu yang menjadi titik sentral dalam The Recruit.
Dalam pelatihan dan rekrutmen agen CIA yang panjang lagi berat itu samar-samar bergulirlah proses yang bermuara pada satu kesimpulan: batas antara latihan dan kenyataan sesungguhnya nyaris tiada. Di sanalah Al Pacino atau Walter Burke bertakhta dan mengatur segalanya, persis sosok Corleone yang diperankan Al Pacino dalam The Godfather. Burke menyusun skenario seru. James Clayton harus terus menjalin cinta dengan kekasihnya, Layla (Bridget Moyanahan), tapi dengan motivasi menyeramkan. Ia harus memata-matai si kekasih yang cantik, seksi, tapi dicurigai sebagai sosok yang bekerja untuk pihak asing.
Tapi batas antara tugas, latihan, dan keadaan sesungguhnya itu memang nyaris tiada. Di lapangan, seorang Clayton bergerak cepat untuk menggulung komplotan Layla, kekasih yang sekarang menjadi musuhnya. Di belakang meja, Walter Burke mengatur siasat untuk menggulirkan segalanya menurut kepentingan pribadi semata.
Tak salah lagi, itulah suatu demonstrasi abuse of power, penyalahgunaan wewenang, suatu tema yang kaya buat dieksploitasi lebih jauh. Tapi, sayang sekali, skenario hanya sanggup menyentuh kulit luar, dan tak kuasa menyidik ke kedalaman jiwa tokoh Walter Burke yang ternyata seorang pengkhianat dalam lembaga intelijen itu. Penjelasan The Recruit yang menyatakan bahwa Burke tak lepas dari keserakahan itu lebih menyerupai keengganan untuk membawa persoalan ke bidang psikologi. Selain itu, patut disayangkan bahwa skenario tak terpanggil untuk membahas kondisi kejiwaan seorang Clayton yang mengalami konflik, benturan antara sense of duty dan cinta, antara cinta tanah air dan cinta romantis.
The Recruit memang bisa sedikit bercerita tentang macam-macam latihan yang harus dijalani seorang calon agen rahasia. Tapi di luar itu, inilah film yang telah menyia-nyiakan kemampuan dua sosok kuat di dunia film: Al Pacino dan Collin Farrel. Keduanya telah menunaikan tugasnya sesuai denganbahkan lebih baik dari yang dituntutskenario. Inilah film yang dangkal, mengajukan teka-teki yang gampang ditebak, tapi bisa menghibur bagi yang segan berpikir.
Andari Karina Anom
|