Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXII/17 - 23 Maret 2003
   
Nasional

Damai di Tanah Kelahiran Gerakan

Tiro, basis utama Gerakan Aceh Merdeka, ditetapkan sebagai zona damai baru. Di antara harapan dan rasa cemas.

RIBUAN warga tumpah ke jalan di Kecamatan Tiro, Sabtu pekan lalu. Yel-yel merdeka terdengar membahana. Bendera merah bergaris hitam bergambar bintang di tengah terlihat melambai-lambai di tangan. Penduduk bergembira merayakan penobatan Tiro sebagai zona damai baru bersama Peusangan (Bireuen), Simpang Keuramat (Aceh Utara), dan Idi Tunong di Aceh Timur.

Amri bin Abdul Wahab, anggota Komite Keamanan Bersama (JSC) dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang datang ke Tiro mengenakan seragam militernya, hari itu dielu-elukan massa yang hadir ke tempat pendeklarasian. Amri bahkan sempat digotong sejumlah pemuda di sana. "Dia pahlawan bagi kami," kata seorang pemuda. Sebelum di JSC, Amri adalah Komandan Operasi GAM Wilayah Pusat Tiro.

Penetapan zona damai merupakan realisasi hasil kesepakatan penghentian permusuhan yang diteken oleh pemerintah RI dan GAM di Jenewa, Swiss, 9 Desember 2002. Wakil GAM dan pemerintah Indonesia di JSC mengatakan, Tiro dipilih sebagai zona damai menyusul Indrapuri di Aceh Besar pada 25 Januari karena dianggap sebagai salah satu kawasan yang tingkat intensitas konfliknya tinggi.

Tiro adalah kota kecamatan terpencil di Kabupaten Pidie, lebih dari 140 kilometer di timur Ibu Kota Banda Aceh, dan terletak sekitar delapan kilometer dari Beurenuen, kota kecil di pinggir jalan lintas Banda Aceh-Medan. Satu-satunya angkutan yang tersedia ke sana cuma ojek. Saat ini Tiro diisi 7.425 jiwa, yang tersebar di 19 desa dan 4 permukiman. Sebagian besar penduduk petani atau peladang.

Meski terpencil, Tiro telah melahirkan nama dan peristiwa besar. Teungku Chik di Tiro, pejuang Aceh yang juga pahlawan nasional Indonesia, lahir di sini. Hassan Tiro, pemimpin GAM yang berkerabat dengan Teungku Chik, muncul di sana pula. Pada 1976, dia mendeklarasikan kelompok perlawanan Aceh Merdeka (nama GAM saat itu) di pegunungan Tjok Kan.

Karena GAM bermarkas di Tiro, kawasan ini dulunya dikenal sebagai salah satu wilayah terpanas di Aceh. Sebelum perjanjian penghentian permusuhan diteken, letusan senjata kerap terdengar. "Hampir setiap hari kami dicekam ketakutan," kata Ismail, 30 tahun, penduduk Desa Mancang.

Teungku Athaillah Daud, pemimpin Pondok Pesantren Teungku Chik Tiro, berkisah bahwa ketika konflik bersenjata pasukan GAM dengan TNI memuncak, tak jarang warga harus mengungsi menyelamatkan diri ke kecamatan lain. Pondok pesantren pimpinannya pun tak luput dari imbas konflik. Athaillah mengaku, koperasi pesantrennya sempat dibakar dua tahun lalu.

Warga asal Tiro juga kerap menemukan masalah. Ridwan, sopir truk Banda Aceh-Medan, mengaku sering dikasari aparat keamanan hanya gara-gara di kartu tanda penduduknya tertera nama Tiro. "Saya sering dituding sebagai (anggota) GAM," katanya. Karena asal-usulnya itu, Ridwan mengaku pernah dianiaya di sebuah pos TNI di Aceh Timur.

Aksi kekerasan, baik oleh TNI maupun oleh GAM, yang pernah merajalela di Tiro sempat membenihkan dendam—mungkin sampai kini. Aminuddin, 13 tahun, misalnya, tak mampu menyembunyikan kebenciannya kepada tentara dan polisi. Maklum, ayahnya, seorang petani, tewas ditembak pasukan Kopassus di tengah sawah 12 tahun silam. Waktu itu, anak yang dipanggil Amin itu masih berusia tujuh bulan.

Dendam dan rasa benci kepada aparat ternyata terus menunas di dada Amin sepanjang waktu. Ketika seorang tentara lewat, Amin sempat berbisik kepada TEMPO, "Orang-orang itu yang membunuh ayah saya. Kalau besar, saya akan membalas mereka," kata pelajar kelas 1 SMP yang bercita-cita menjadi anggota GAM itu.

Kini situasi—setidaknya di permukaan—telah berubah. Sejak Tiro ditetapkan sebagai zona damai, tak ada insiden serius di kawasan ini. Sejumlah warga mengaku kembali bisa bekerja tenang. Toh, Prajurit Dua TNI Nurul, yang bertugas di Tiro, tetap merasa waswas bila keluar dari pos tanpa menyandang senjata. Padahal, sesuai dengan perjanjian, tak ada yang boleh menenteng senjata di kawasan zona damai—kecuali polisi. Mengapa? "Tiro berbeda dengan Indrapuri, yang terletak di pinggiran jalan raya. Di sini tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi," kata Nurul. Nah!

Wicaksono, Yuswardi A. Suud dan Zainal Bakri (Tiro)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data