Istigasah Dulu, Baru Islah Gus Dur dan Matori bergandengan mesra di tengah warga nahdliyin. Para kiai tengah mencari formula yang pas mengislahkan mereka. |
Ratusan ribu warga Nahdlatul Ulama (NU) yang beristigasah di lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya terperangah, takjub. Ahad pagi pekan lalu, istigasah kubra untuk pertobatan nasional itu siap dimulai. K.H. Abdurrahman Wahid, pemimpin besar mereka, datang tergopoh-gopoh mengenakan safari biru. Perhatian massa dan ratusan kiai NU di atas panggung pun tersedot. Mereka berebut menyalami Gus Dur. Tepuk tangan tumpah-ruah. Ketika Gus Dur hendak duduk, mendadak Matori Abdul Djalil datang menyambutnya. Ketua Umum PKB Batutulis itu menyalami dan mencium tawadlu tangan seterunya.
Bukan cuma itu, Menteri Pertahanan ini mengangkat tangan Gus Dur ke atas. Presiden keempat ini tak menampik. Dia berdiri. Sembari tangan kiri dipegang Matori, tangan kanan Gus Dur melambai kepada massa NU. Histeria pun meledak. Semua tokoh politik dan kiai NU tersenyum. Gema salawat pun berkumandang. Sejumlah kiai larut, ada yang mengepalkan tangan ke atas, ada yang hanya tersenyum melihat adegan itu. Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi dan Ketua PKB Kuningan Alwi Shihab bergabung di sebelah kanan Gus Dur. Mereka melambaikan tangan dan melempar senyum.
Inilah peristiwa adem yang disaksikan ratusan ribu warga NU, basis pendukung politik PKB, setelah partai itu pecah menjadi dua, PKB Matori dan PKB Alwi Shihab.
Benarkah pemimpin partai kembar itu rujuk? "Kalau orang bertemu dan bersalaman, itu namanya barokah. Tapi itu bukan tujuan utama istigasah. Kalau diskenario, malah tidak jadi," ujar K.H. Hasyim Muzadi, Ketua PBNU, kepada TEMPO.
Matori sendiri mengharapkan pecahnya PKB segera berakhir. "Ya, yang penting islah," ujarnya. Dia menegaskan bahwa PKB tetap satu.
Gus Dur pun tak lagi bersikap keras seperti dulu. Ia bahkan mengaku tak punya akar konflik pribadi dengan Matori. "Silakan dicari, nggak ada itu. Pemecatan Matori semata-mata karena melanggar AD/ART partai," tutur Gus Dur. Yang dimaksud Gus Dur, tentu saja, kehadiran Matori pada Sidang Istimewa MPR, Juni dua tahun silam, yang berujung pada terempasnya Gus Dur dari kursi presiden.
Apa format yang pas untuk menyatukan dua nakhoda itu? Kepada TEMPO, Wakil Ketua Dewan Syuro PKB Kuningan, Cholil Bisri, mengakui bahwa para kiai, termasuk dirinya, sedang mencari format islah yang win-win solution. Cuma, diakui upaya itu tak mudah mengingat proses hukum gugatan PKB Batutulis ke PKB Kuningan sudah di tengah jalan dan tak ada tanda-tanda dicabut.
Salah satu format yang akan ditawarkan Cholil adalah penempatan Matori di kursinya sebagai Wakil Ketua Dewan Syuro. "Salah satu syarat Matori kembali kan tidak jadi pengurus harian. Ya sudah, saya siap mundur supaya Matori duduk di sana mendampingi Gus Dur. Asal diterima rapat pleno, saya ikhlas. Ini demi umat dan masa depan PKB," tutur Cholil.
Cuma, konsekuensinya, PKB Batutulis diminta tidak mendaftar sebagai peserta Pemilu 2004. Akan halnya para pengikut Matori di Batutulis bisa diselesaikan dengan mengembalikan mereka ke tempat semula. "Kalau yang awalnya dari PKB Cirebon, ya, kita kembalikan ke Cirebon. Kalau mau, selesai, politik gaya NU itu luwes. Kalau ngotot-ngototan, itu ya ajur-ajuran. Padahal pemilu sudah dekat," ujar pengasuh Pondok Raudlatut Thalibin Rembang itu penuh harap.
Di luar format Cholil, sebelumnya, antara Gus Dur dan Matori sudah sering ada penjajakan islah lewat sejumlah pertemuan. Akhir tahun lalu, mereka bahkan sempat dipertemukan di Singapura. "Tapi belum ada titik temu. Semoga saja istigasah kemarin membawa angin baik buat mereka," ujar Cholil. Memang, bagi warga nahdliyin, pertemuan Gus Dur-Matori pekan lalu menerbitkan harapan besar bagi bersatunya dua PKB itu.
Sayangnya, sejauh ini, PKB Kuningan, termasuk Gus Dur, tetap mensyaratkan tiga hal untuk islahnya Matori. Tiga syarat itu adalah bubarkan PKB Batutulis, cabut tuntutan, dan tidak duduk sebagai ketua umum. "Itu yang harus dipenuhi Matori," ujar Alwi Shihab, Ketua Umum PKB Kuningan.
Bagi PKB Batutulis, syarat itu jelas susah dipenuhi. "Proses hukum itu solusi terbaik," kata Abdul Khalik Ahmad, Sekjen PKB Batutulis, kepada Cahyo Junaedy dari TEMPO. Matori sendiri ogah menyinggung soal syarat yang diajukan itu. "Jangan bicara persyaratan dulu," ujarnya.
Alhasil, adegan adem di tengah massa istigasah belum berarti banyak. "Sebagai warga NU, pertemuan Gus Dur-Matori adalah ibadah. Tapi, dalam soal partai politik, belum ada perkembangan baru," ujar Ketua PKB Kuningan, Mahfud Md.
Gus Dur sendiri mengakui dirinya memang sudah sering bertemu Matori. Tapi masih jauh dari tafsir islah. "Apakah orang yang berbeda organisasi tidak boleh salaman? Wong, saya dan Pak Matori itu sudah berkali-kali ketemu. Bagaimanapun, dia tokoh politik dan pemerintahan," ujarnya.
Adi Prasetya, Adi Sutarwijono (Surabaya)
|