Jazz yang Tenggelam Tiga musikus asal Swiss mencoba menggabungkan musik jazz dengan gamelan Bali. Tak cukup sukses, tapi semangatnya patut dihargai. |
Malam itu, Kamis pekan lalu di Erasmus Huis, Jakarta, jazz berniat mengawini gamelan. Musik merayap perlahan. Suara alto Anne Florence mengalir dalam tempo lambat, dalam rangkaian nada minor yang cukup serasi ditingkahi oleh permainan kontramelodi gitar elektrik Claude Schnider. Si vokalis cukup menjelajahi tiga sampai empat nada repetitif, sedangkan si gitaris membiarkan dominasi vokal berlangsung. Sesekali ia menggarisbawahi dengan warna blues: bunyi gitar melengking, tapi lembut.
Vokal dan gitar bak dua sahabat akrab, saling memahami karakter lawan main dalam nomor berjudul Ginam. Tapi tidak demikian halnya giing dan suling, dua instrumen tradisional Bali. Dua artis tradisional itu memang telah berusaha menjawab melodi yang dibawakan Anne Florence, tapi nada-nada yang mereka mainkan tak menunjukkan mereka berdialog. Akhirnya para penonton pun dapat menyaksikan: giing dan suling hanya sanggup menunjukkan bahwa mereka tak berpangku tangan di pertunjukan itu. Ada suasana musik Bali yang berhasil hadir, tapi hanya terdengar sayup, jauh, seolah dari dunia lain. Inikah yang dimaksudkan dengan Ginam—secara harfiah artinya "dua dunia"? Sekadar mau membuktikan keterpisahan dua jenis musik?
Kelompok jazz asal Swiss ProDjama dan Sanggar Saraswati yang dipimpin I.G. Kompiang Raka tak menyerah. Danudara, nomor kolaborasi mereka yang kedua, dibuka oleh gamelan yang tampil secara utuh, tapi mencoba membuka kesempatan nimbrung bagi trio jazz itu. Musik pun mengalir bagai air yang tak terbendung. Kali ini suling, gendang, gong, kemplak, dan aneka alat musik lainnya menghadirkan musik yang sangat kuat, perkusif, ritmis, dan cuma bisa ditembus oleh bunyi suling. Apa boleh buat, trio gitar, bas, dan vokal tak kuasa menyambut dan mengisi titik-titik kosong yang sengaja ditawarkan gamelan. Gamelan dan jazz menyatu ketika vokalis jazz "mengalah", mengikuti melodi yang telah dilontarkan gamelan.
Jazz memang tak berniat mengawini gamelan malam itu. Mereka hanya bertemu dan "berbincang" dalam sepuluh lagu—dengan harmonisasi lintas tangga nada yang kendur dan lebih menyerupai medley. Tapi bukankah itu sudah dinyatakan lewat tema jazz meets gamelan? Claude Debussy, komponis Eropa pertama yang "jatuh cintrong" pada gamelan, menghabiskan banyak waktunya untuk merenung buat memahami instrumen itu. Dan kita kemudian tahu, musik gamelan mengilhami karya-karyanya. Bagaimana dengan Claude Schnider? Kepada Tempo ia berkisah tentang bunyi gamelan yang didengarnya di sebuah festival di kampung halamannya, lima tahun silam. Ia jatuh cinta dan kini ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berkolaborasi dengan instrumen itu.
Kita mungkin hanya bisa bilang: sayang sekali cara-cara berkreasi sebagaimana Debussy telah dikalahkan oleh gairah menampilkan segalanya yang bersifat lintas kultural, lintas tradisi. Itulah gairah yang luhur, tapi tampak dangkal jika dipaksakan. Musikus Dwiki Darmawan, yang sering menelurkan kolaborasi pop-gamelan, mengingatkan jalan panjang yang mesti ditempuh untuk menggabungkan alat pentatonik dengan diatonik itu. (Claude Schnider hanya punya waktu satu minggu untuk menyusun kolaborasi).
Lain Dwiki, lain pula Suka Hardjana, pengamat dan pengajar musik sekaligus bekas pemain klarinet dan konduktor itu. Perbedaan di antara dua jenis musik ini terlampau lebar, sehingga mengawinkan, menggabungkan keduanya, tak lebih dari usaha yang mungkin akan selalu berakhir sia-sia. Lihatlah soal nada dasar dan interval (jarak antara dua nada). Musik Barat mengenal standar penalaan yang mutlak, sedangkan gamelan tetap relatif. Di samping itu, masih ada perbedaan yang membentang antara karakteristik slendro-pelog dalam tradisi musik Timur dan mayor-minor dalam musik Barat.
Barat dan Timur yang melebur jadi satu mungkin lebih menyerupai cita-cita. Ketertarikan Barat pada gamelan bukan hal baru. Suka Hardjana ingat akan seorang pemain klarinet Amerika Tony Scott yang pernah sukses mempertemukan gamelan Bali dan jazz pada 1960-an. Ia tak mengikutsertakan seluruh anggota ensambel, tapi memilih yang tepat diajak kerja sama. Kini trio ProDjama dan I.G. Kompiang Raka bertemu di atas panggung, mencoba berdialog dengan bahasa yang patah-patah. Itulah kencan pertama yang gagal: mungkin mereka saling tertarik, tapi mustahil meraih perkawinan.
Dewi Rina Cahyani
|