Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXII/17 - 23 Maret 2003
   
Gaya Hidup

Gandrung Zikir dan Olah Kalbu

Kaum muda perkotaan kini ramai-ramai berzikir untuk penyadaran diri maupun selingan di tengah rutinitas kerja.

Di bawah langit senja hari yang basah, Ahmad Fauzan terce-nung di atas lantai Masjid Baitul Ihsan, suatu hari pada awal Maret silam. Dia datang ke sana untuk berzikir di sela-sela jam kerja—sebuah kegiatan yang baru pertama kali dilakukannya. Hari itu baru pertengahan pekan. Tapi kemeriahan suasana akhir pekan seolah menyelimuti pelataran Bank Indonesia, tempat masjid itu berada. Orang-orang meninggalkan kantor lebih awal untuk hadir di sana sebelum pukul empat. Masjid penuh sesak dan manusia tumpah-ruah hingga ke halaman.

Tepat pukul empat sore, muncullah Kiai Haji Arifin Ilham, seorang ustad asal Depok yang kini banyak dikenal karena mempopulerkan kegiatan zikir di berbagai kalangan. Seusai berkhotbah, Arifin berpindah ke panggung kecil di depan jemaah. Dan acara zikir pun dimulai. Arifin meluncurkan nama-nama Allah dengan suaranya yang serak. Kalimat-kalimat subhanallah, alhamdulillah, la ilaaha illa Allah, dan Allahu Akbar bergema dalam koordinasi bunyi yang syahdu antara sang imam dan jemaah. Iramanya menelusup, mengetuk relung-relung hati. Ahmad Fauzan, 33 tahun, larut dalam suasana. Dia melupakan kantornya, melupakan klien-kliennya, serta tumpukan kerja yang harus dia tangani sebagai pengacara senior di sebuah kantor di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat.

Khusyuk dalam ritual itu, Fauzan menangis dengan suara tertahan: "Saya baru pertama kali ikut, namun hati saya amat tersentuh," ujarnya kepada TEMPO. Tampaknya dia bukan satu-satunya yang merasa tersentuh. Semua jemaah meleburkan diri dalam tangis. Arifin mengangkat tangan dan menjeritkan doa. "Menangislah karena kesadaran kepada Allah. Jika tidak, menangislah karena tidak bisa menangis," katanya.

Arifin Ilham berhasil memaku audiensnya yang amat beragam—para profesional, eksekutif muda, ibu rumah tangga, kaum pelajar—hingga akhir acara. Sejatinya, zikir tadinya ritual yang jarang diminati orang. Bahkan Arifin memerlukan empat tahun untuk membuat zikir "naik kelas" dari sebuah masjid kecil di Depok ke masjid agung di berbagai kota besar: Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta—sekadar menyebut contoh.

Hartono, seorang pengusaha rotan terkemuka di Solo yang turut majelis zikir, mengatakan begini: "Saya merasa kecil dan didekatkan dengan Tuhan." Tren zikir ini, menurut Arifin, bertumbuh perlahan dan akhirnya mendapatkan jemaah yang luas dan menembus berbagai kelas. Dalam acara zikir 1 Muharam yang jatuh pada 4 Maret silam, tampak antara lain mantan Panglima ABRI Try Sutrisno dan sejumlah pejabat. Di beberapa sudut ruangan terlihat anak-anak muda dengan rambut warna-warni ikut berzikir dengan khusyuk.

Zikir adalah ujaran yang mengagungkan nama Allah dan dipanjatkan usai ibadah salat. Di kalangan tasawuf, zikir senantiasa diucapkan dalam intensitas yang tinggi. Namun umumnya hanya para penganut tarekat yang lazim melakukan hal ini. Tapi, di tangan Arifin, ritual ini menjadi populer dan disambut luas oleh publik. Fauzan melukiskan, di bawah bimbingan ustad itu, dia merasa bisa melafalkan nama Tuhan dari sanubari. "Saya seolah disadarkan kembali akan eksistensi saya sebagai hamba Allah," katanya.

Jadi, apa yang dilakukan Arifin? Dia memberi nyawa kepada ritual ini dengan menjelaskan makna zikir, diselingi tausiyah dan muhasabah. Abdul Aziz, mahasiswa tingkat akhir Teknik Sipil UGM, yang mengikuti acara ini di Yogyakarta, mengatakan, "Ada nuansa spiritual di dalam zikir. Kita seperti dibawa ke suatu dunia yang lain, kita bisa menerawang, mengoreksi diri," katanya. Ia mengaku merasakan ada semacam pengurasan batin. "Seperti mengeluarkan unek-unek," ujarnya.

Tak mengherankan jika jemaah yang mengikuti zikir ini meluas. Dari orang biasa hingga kaum gedongan. Dari pelajar hingga kalangan eksekutif. Kemampuan Arifin mengolah zikir barangkali bisa dipandang sebagai upaya "mengembalikan" orang-orang kepada kegiatan spiritual, yang bahkan berkembang menjadi sebuah tren. Antusiasme serupa juga diperlihatkan oleh aneka kegiatan yang menggunakan pendekatan spiritual. Sebut saja Emotional and Spiritual Quotion (ESQ) oleh Ary Ginanjar Agustian dan Pelatihan Manajemen Qolbu oleh Ulama K.H. Abdullah Gymnastiar.

Ary Ginanjar, yang merintis model pelatihan ESQ sejak tahun 2000, mengkombinasikan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual, terutama nama-nama Allah (asma'ul husna). Nilai-nilai dari asma'ul husna ini, menurut Ary, terdapat dalam diri manusia dan membentuk karakter manusia untuk berhasil secara intelektual, emosional, dan spiritual. Taspen, Garuda Indonesia Airways, dan Krakatau Steel adalah beberapa perusahaan yang menerapkan metode ESQ untuk meningkatkan kinerja karyawannya.

Sekali-sekali, cobalah datang ke Pesantren Daarut Tauhid di Bandung, tempat pelatihan manajemen qolbu diselenggarakan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar dan para stafnya. Berikut beberapa adegan pelatihan yang direkam TEMPO saat sebuah pelatihan dilangsungkan pada pekan silam. Di sebuah ruang yang berisi sekitar 80 kursi, Iskandar Mirza tengah memimpin peserta mengucapkan berbagai vokal, melenturkan wajah, lalu berhadap-hadapan dan melemparkan senyum. "Kita harus memulai segala sesuatu dengan senyum," bujuknya dengan nada halus.

Sejurus kemudian, bak adegan film India, Mirza mengajak peserta menyanyikan lagu pelesetan dari pasukan penerjun payung militer. "Jika kesulitan menghadang, hadapi saja dengan senyuman./ Pantang lemah, dan keluh-kesah./ Bulatkan tekad, terus berjuang." Pantulan cahaya dari lantai keramik putih dan cokelat muda menerpa wajah peserta yang berseri-seri. Sebuah proyektor video menyorotkan gambar kartun seorang pria yang sedang tersenyum di bawah kumis baplang yang lebat. Di atas layar proyektor tertera tulisan "Selamat menikmati hidup dengan bening hati".

Lampu diredupkan satu-satu. Suasana temaram. Dan lagu-lagu dari grup musik Nasyid mengalun dari empat pengeras suara. Di akhir lagu, pekikan Allah dengan nada memelas. Mirza kemudian memimpin sesi evaluasi diri. Lalu tibalah bagian doa-mendoa. "Jangan biarkan kemaksiatan menodai hati kami.…" Mirza mulai mendoa. Perenungan diri itu berakhir ketika lampu dinyalakan. Dan panitia mengumumkan, keesokan pagi peserta akan jalan-jalan di daerah pegunungan. Hiking. Olahraga di alam bebas ini sekaligus menjadi sesi terakhir dari tiga pelatihan manajemen qolbu.

Bagi yang berminat, acara ini memerlukan biaya sekitar Rp 600 ribu. Dan laris bukan main. Setiap minggu selalu ada rombongan yang siap bermanajemen qolbu. Juga rombongan dari sejumlah BUMN dan perusahaan multinasional. Pihak pesantren bahkan memerlukan kerja sama dengan sebuah hotel di Bandung untuk menyelenggarakan acara ini.

Tren zikir ini tidak selamanya diikuti jemaah yang ingin "kembali ke jalan keimanan". Ada yang mengaku hanya menjadikannya sebagai perintang waktu. Agus, 32 tahun, misalnya. Pengusaha batik di Solo ini berterus-terang mengikuti zikir untuk mengatasi kebosanan rutinitas selama satu dua jam. Selebihnya, dia ingin kembali kepada "kesenangan dunia". Tapi urusan kalbu, siapa yang berani mengukur?

Di Masjid Agung Solo, seorang anak muda berwajah tampan, berambut gondrong disemir merah tipis, tengah khusyuk berzikir. "Saya biasa ke kafe, diskotek, atau tempat hiburan lain," katanya. "Tapi hari ini saya ke sini untuk mencari suasana baru," bisiknya kepada TEMPO. Saeful, nama anak muda itu, mengaku mengikuti majelis zikir pada malam itu untuk menebus dosa-dosanya di masa silam.

Agus Hidayat, Bobby Gunawan (Bandung), Imron Rosyid (Solo), Heru C. Nugroho (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data