Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXII/17 - 23 Maret 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Lonjakan di Awal Tahun

Ekspor nonmigas Indonesia per Januari 2003 merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Tapi, kalau terjadi perang, rekor ini tak bisa dipertahankan.

IBARAT pelari, Indonesia mengawali tahun 2003 dengan start yang sangat bagus. Pada Januari lalu, Indonesia mampu mencatat angka ekspor nonmigas tertinggi sepanjang sejarah. Belum pernah negeri ini berhasil membukukan ekspor di luar minyak dan gas sampai US$ 3,73 miliar. Dalam jumpa pers Selasa dua pekan lalu, Kepala Badan Pusat Statistik, Soedarti Surbakti, mengemukakan bahwa ekspor pada Januari itu naik hampir 16 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Dengan ini, rekor tertinggi tahun 2001 telah dipecahkan. Ketika itu, ekspor nonmigas Indonesia hampir menembus US$ 3,7 miliar. Hebatnya, rekor baru ini dicapai ketika pesimisme menghinggapi hampir semua pihak.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Sudar S.A., mengatakan bahwa tanda-tanda perbaikan memang sudah terlihat sejak awal tahun. Salah satu pertanda adalah nilai ekspor pada Januari 2003 lebih tinggi hampir tiga persen dibandingkan dengan ekspor Desember 2002. Padahal biasanya ekspor bulan Januari tak pernah melampaui bu-lan sebelumnya. "Menjelang tutup buku biasanya angka ekspor mencapai titik tertinggi dan setelah itu turun," kata Sudar. Karena itu, ia yakin target kenaikan ekspor nonmigas senilai US$ 47,5 miliar pada tahun ini bakal tercapai. Target ini lebih tinggi lima persen dibandingkan dengan ekspor tahun 2002.

Sudar mengungkapkan bahwa kenaikan nilai ekspor nonmigas itu antara lain terjadi karena harga sejumlah komoditas naik cukup signifikan, di antaranya timah, karet, dan kopi. Harga timah di pasar internasional mencapai US$ 5.200 per ton, padahal sebelumnya hanya US$ 3.500, atau naik hampir 50 persen. Sementara itu, harga karet dan kopi masing-masing naik 33 persen dan 92 persen. Dia menjelaskan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas utama Indonesia itu merupakan buah dari kerja sama dengan negara produsen lainnya. "Soal karet, kita berbicara dengan Thailand dan Malaysia, sedangkan soal kopi kita bekerja sama dengan India dan Vietnam," kata Sudar.

Di dalam negeri, pemerintah memberikan sejumlah insentif kepada eksportir. Belasan eksportir bisa mengimpor bahan baku tanpa melewati pemeriksaan pabean untuk memperlancar arus barang. Mereka pun mendapatkan pembebasan pajak pertambahan nilai listrik. Selain itu, produsen elektronik memperoleh penghapusan dan pengurangan pajak barang mewah. Dampaknya sudah mulai terasa. Salah satu raksasa elektronik Korea Selatan, LG Electronics, merelokasikan pabrik kulkasnya ke Indonesia, sehingga kapasitas produksinya naik dari 400 ribu unit menjadi 600 ribu per tahun. "Nantinya ekspor ke Asia Tenggara, Australia, dan Eropa akan dikirim dari Indonesia," kata Sung Khiun, Manajer Marketing LG Indonesia.

Apakah dengan berbagai kiat dan siasat itu prestasi ini bakal berlanjut? Jika melihat angka impor Januari lalu, agaknya Indonesia patut optimistis bahwa kenaikan ekspor akan berlanjut hingga bulan-bulan mendatang. Pada Januari itu, impor Indonesia mencapai US$ 2,2 miliar atau naik hampir 32 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian besar (93 persen) berupa bahan baku/penolong dan barang modal. Tingginya kenaikan impor ini setidaknya bakal menaikkan produksi dan pada akhirnya ekspor diduga juga bakal naik. Biasanya efek dari kenaikan impor baru terasa 2-3 bulan kemudian.

Namun semuanya akan terimbas perang Amerika Serikat versus Irak. Jika perang meletus, ekspor Indonesia ke Timur Tengah dan Amerika Serikat pasti terganggu. Tahun lalu, Amerika Serikat menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor Indonesia dengan pangsa pasar 15 persen. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Elektronika, dan Aneka (ILMEA) Soebagyo A. Tirtohadisoerjo menambahkan bahwa perang di Timur Tengah itu juga bisa menyebabkan naiknya biaya produksi akibat harga minyak naik. Karena itu, pemerintah tengah menyiapkan rencana darurat. Salah satunya membuat kebijakan yang mendorong pasar lokal bisa menyerap produk ekspor.

Berbagai kendala agaknya masih akan terus menghambat pemulihan ekonomi Indonesia. Pada tahun 2002, ketika ekspor sedang menanjak, tiba-tiba ada pengeboman di Bali. Dampaknya luar biasa, termasuk kenaikan signifikan ongkos angkutan dan asuransi. Kini perang di Timur Tengah sudah di ambang pintu. Kalau perang melawan Saddam Hussein itu merebak ke mana-mana, harga minyak pasti meroket, tapi pemasukan ekspor Indonesia anjlok drastis.

M. Taufiqurohman, Eduardus K. Dewanto, Dede Ariwibowo (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data