Disetrum Muara Tawar Jajaran direksi PLN dirombak. Terkait dengan penolakan proyek pembangkit listrik Muara Tawar? |
WAJAH Tunggono memerah. Sesekali dia masih sempat melempar senyum kepada hadirin yang menyalaminya. Namun tampak jelas ia tak mampu memendam kekecewaannya. Senin pekan lalu, Direktur Pemasaran dan Distribusi PT PLN (Persero) itu harus melepas jabatan lebih cepat tiga bulan dari perkiraan.
Tunggono tak sendirian. Tiga koleganya mengalami nasib serupa. Mereka adalah Direktur Perencanaan Hardiv Situmeang, Direktur Operasi Bambang Hermiyanto, dan Direktur Sumber Daya Manusia dan Organisasi Azwani Sjech Umar. Adapun Direktur Utama Eddie Widiono dan Direktur Keuangan Parno Isworo masih tetap lengket di kursinya.
Yang terjadi bukan cuma pergantian pejabat. Posisi pun dirombak. Selain ditempati Eddie dan Parno, jajaran direksi PLN kini terdiri atas Direktur Pembangkitan dan Energi Primer Ali Herman Ibrahim, Direktur Transmisi dan Distribusi Herman Darnel, Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan Sunggu Aritonang, dan Direktur Sumber Daya Manusia dan Organisasi Djuanda Nugraha Ibrahim.
Pergantian ini agak luar biasa: dilakukan mendadak dan tanpa menunggu hasil evaluasi tahun 2002 pada Juni mendatang. "Lebih cepat dari perkiraan. Saya pikir tadinya dilakukan setelah rapat umum pemegang saham," ujar Tunggono.
Bahkan, saking kilatnya pergantian itu, seorang anggota direksi yang lain mengaku dikabari ihwal pencopotannya hanya melalui pesan pendek di telepon selulernya. Lebih istimewa lagi, pemberitahuan itu diterimanya di hari Minggu. Tiba-tiba saja, ketika ia sedang berakhir pekan di rumah, sekretaris perusahaannya mengirim pesan bahwa ia diminta hadir dalam acara pelantikan direksi esok harinya pukul 16.00 di Kantor Menteri Negara BUMN. "Kesannya mendadak," katanya.
Kabar berembus, pergeseran tiba-tiba ini tak lepas dari kontroversi rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga gas di Muara Tawar di tepi pantai Bekasi, Jawa Barat. Proyek setrum berkapasitas 600 megawatt senilai Rp 2,2 triliun itu ditetapkan akan menggunakan jenis pembangkit tipe E. Ada pendapat jenis ini hanya mampu memproduksi listrik dengan kapasitas 100-150 megawatt dan sangat boros mengkonsumsi bahan bakar. Dengan kata lain, PLN harus menggunakan enam pembangkit untuk menghasilkan listrik yang dibutuhkan. Lantas disoal kenapa tipe F justru tidak masuk daftar rencana besar PLN. Jenis ini hemat bahan bakar dan juga diyakini mampu menghasilkan setrum jauh lebih besar dibandingkan dengan tipe E. Selisih biaya pengoperasiannya pun luar biasa: lebih murah US$ 19,1 juta per tahun (lihat TEMPO Edisi 3-9 Maret 2003).
Persoalan inilah yang selalu menjadi perdebatan hebat dalam setiap rapat direksi belakangan. Puncaknya awal bulan lalu. Direksi PLN terbelah dua dan berhadap-hadapan. Eddie Widiono dan Parno Isworo bersikukuh menggunakan tipe E. Direktur lain menyarankan agar proyek itu dievaluasi dulu. Menurut mereka, selain akan menimbulkan banyak protes, pilihan itu berpotensi merusak hubungan baik dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC).
Dengan JBIC, persoalannya menyangkut lokasi. Lembaga keuangan tersebut mengancam akan menunda pemberian bantuan US$ 620 juta jika PLN tetap melanggar kesepakatan penetapan lokasi yang telah dituangkan dalam nota rapat 28 November 2002.
Tunggono mengakui adanya perbedaan pendapat mengenai proyek Muara Tawar. Menurut dia, itu hal yang wajar di perusahaan mana pun. "Itu normal," ia menegaskan.
Hal yang sama diakui Eddie Widiono. Perselisihan pendapat itu, kata Eddie, telah sebisa mungkin dimusyawarahkan, tapi tetap saja tak terjembatani. Namun ia menolak anggapan itulah pokok-pangkal terpentalnya sejumlah anggota direksi yang tak sekata dengannya. "Saya tidak pernah mengusulkan pergantian. Itu kewenangan pemegang saham," katanya. Eddie juga mengaku tak tahu-menahu kenapa sebuah "kebetulan" lalu terjadi: ia dan Parno yang pro-tipe-E-lah yang masih bertahan.
Wakil pemegang saham perusahaan pelat merah ini bersuara senada. Deputi Menteri Negara BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis, Energi, dan Telekomunikasi, Roes Aryawijaya, menyatakan pergantian direksi PLN tak punya kaitan serambut pun dengan ribut-ribut Muara Tawar. Katanya, "Ini cuma penyegaran biasa."
Ali Nur Yasin
|