Mister X Sang Juru Selamat Indonesian Airlines terhuyung didera musibah. Seorang pengusaha misterius datang menyuntik dana segar. |
HATI Aryani Arifuddin masih gusar. Sudah sebulan pemilik sebuah agen perjalanan ini mengaku susah tidur. Klaim ganti rugi sekitar Rp 700 juta yang ia ajukan belum dibayar juga. Nyaris ia menerima ajakan seorang rekan senasib untuk menggugat pailit saja Indonesian Airlines, perusahaan penerbangan yang bikin dia geregetan bukan kepalang.
Ceritanya begini. Pada musim haji Januari lalu, PT Ariel Buana Wisata milik Aryani menjual tiket Indonesian Airlines untuk rute Jakarta-Jeddah. Gara-gara belum membuka bank garansi di bank lokal dan melanggar kesepakatan dengan terbang memakai benderanya sendiri, maskapai itu sempat dilarang mendarat di Bandara Jeddah. Akibatnya fatal. Selama lima hari puluhan pelanggan Ariel terkatung-katung di hotel. Marah, mereka lalu menuntut uang tiket dikembalikan. Jadilah Ariel Buana menombok Rp 700 juta.
Kesialan itu bukan milik Aryani sendiri. Ada beberapa agen perjalanan dan biro penyelenggara haji yang bernasib serupa. Beramai-ramai kini mereka menuntut ganti rugi (klaim) dari Indonesian Airlines atas keteledorannya itu. "Kalau dijumlah, total klaim sekitar Rp 10 miliaran," kata Aryani.
Mendengar angka itu, Direktur Administrasi, Hukum, dan Komunikasi Indonesian Airlines, Danar Wijanarko, meloncat kaget. Ia mengaku sudah menerima tagihan, tapi jumlahnya paling Rp 3 miliaran. Itu pun tak akan dibayar semua oleh pihaknya. Soalnya, kata Danar, banyak klaim yang tak masuk akal. Misalnya soal hotel. Ada yang menuntut ganti rugi biaya 50 kamar. Setelah ditelisik, ternyata kamar yang diisi penumpang hanya 25. Sisanya diinapi para pengantar yang mau gratisan.
Danar menjamin pihaknya akan menyelesaikan "tragedi Jeddah". Klaim yang sudah pas akan dibayar. Bisa dengan uang tunai, atau—ini yang jadi soal—barter tiket pesawat.
Aryani dan kawan-kawan semula terperanjat dengan pola pembayaran seperti ini. Tentu mereka lebih memilih duit. Soalnya, kalau pakai tiket, mereka harus menanggung risiko tak laku. Tapi apa boleh buat. "Waktu saya tanya kenapa dibayar tiket, mereka bilang tidak punya uang," ujar Aryani.
Pernyataan ini lagi-lagi dibantah Danar. Kata dia, sesumbar, uang sebegitu bukan soal buat Indonesian Airlines. "Tapi klaimnya kan harus diverifikasi dulu, dong," Danar menjawab sengit.
Verifikasi. Kata ini yang selalu muncul setiap kali utang dan kewajiban Indonesian Airlines diungkit dan ditagih. Nasib utangnya ke Garuda Maintenance Facility (GMF) sebesar US$ 300 ribu, atau Rp 2,7 miliar, juga sama. Pihak Indonesian Airlines menolak membayar. Alasannya ya itu tadi, jumlahnya tak sesuai dengan verifikasi. "Pesawat kami malah jadi rusak setelah dimasukkan ke GMF," kata Danar. Akibatnya, ia mengklaim pihaknya bisa merugi Rp 2,7 miliar, sama persis dengan jumlah utangnya.
Jadi impas? Tidak juga. GMF menolak mentah-mentah hasil verifikasi itu.
Danar menyangkal pola verifikasi dijadikan akal-akalan manajemennya untuk lari dari kewajiban. "Jumlah itu kecil. Pendapatan kita sehari saja bisa mencapai Rp 500 juta," ujarnya. Faktanya, hingga kini Indonesian Airlines belum mampu membayar tunai utangnya, dan malah mengajukan restrukturisasi.
Maskapai ini juga ternyata berutang ke PT Abacus sebesar US$ 75 ribu. Abacus pernah menjual jasa sistem reservasi tiket. Muncul sengketa. Indonesian Airlines menuding Abacus, yang juga bagian dari Garuda, memanipulasi sistem mereka. Kalau ada pelanggan yang mau memesan tiket, lalu dibilang kursi terisi penuh. Sekali waktu data tiba-tiba menghilang. Danar kembali menyatakan pihaknya tidak akan membayar tunggakan itu karena "masih menunggu hasil verifikasi".
Tudingan itu, menurut Direktur Utama Abacus, Samudera Sukardi, sangatlah mengada-ada. Secara teknis Abacus tak bisa melakukan segala kecurangan yang dituduhkan itu. Ia tak habis pikir kenapa Indonesian Airlines menuding macam-macam, padahal penagihan saja belum dilayangkan. Adik Menteri Laksamana Sukardi ini pun membantah soal putus kontrak itu. "Alah, itu kan bisa-bisanya mereka saja karena sudah tidak punya duit," ujar Samudera. Buktinya, selama ini Abacus juga menjual jasa ke Merpati dan Pelita, toh lancar-lancar saja.
Keuangan Indonesian Airlines rupanya memang sedang carut-marut. Per akhir 2002, mereka merugi miliaran rupiah. Sayang, Direktur Keuangan Indonesian Airlines, Tieke Soekrani, mengaku lupa angka persisnya.
Tapi dugaan ke arah itu bukan tanpa gejala. Sekitar dua pekan lalu, berembus kabar dari kantor Indonesian Airlines sendiri bahwa Lufthansa telah menarik kedua pesawatnya. Alasannya: biaya sewa tak lagi dibayar. Lagi-lagi kabar ini ditepis Danar. "Tidak ada penarikan pesawat. Dengar dari mana?" katanya menyelidik.
Berita itu dibenarkan Joachim Hartamann dari Lufthansa Leasing Representative di Jakarta. Menurut dia, pihaknya memang telah menarik satu pesawat jenis Boeing 737-300 keluaran tahun 1990-an. Sebagai gantinya, Indonesian Airlines akan mendatangkan Boeing 727-200 dari Delta Airlines, keluaran tahun 1980-an. Lebih tua, kapasitasnya lebih besar, dan yang penting ongkos sewanya jauh lebih murah, hanya US$ 40 ribu sebulan. Jauh lebih miring dari ongkos sewa tipe 737, yang US$ 160 ribu.
Di mata Hartamann, dalam beberapa bulan belakangan ini kepak sayap Indonesian Airlines memang terus melemah. Menurut dia, hal itu disebabkan tak beresnya pengelolaan perusahaan oleh Direktur Utama Rudy Setyopurnomo. Rudy acap kali dinilai mengambil keputusan sendiri. Salah satunya adalah kontrak dengan GMF itu, yang dinilai kelewat mahal. Buntutnya, kini wewenang Rudy dipagari. Tiap keputusan ditegaskan harus diambil atas persetujuan anggota direksi lain.
Untuk membereskan kesemrawutan ini, pada Februari lalu diangkatlah Tieke sebagai salah satu direktur baru. Dia diangkat oleh salah satu dari lima pemegang saham—Kardono, Sudjono, Danar Wijanarko, dan Rudy Setyopurnomo—dan sebuah perusahaan misterius. Para pejabat Indonesian Airlines menyangkal keberadaan perseroan tersebut. Tapi Tieke mengakuinya. Meski menolak menyebut namanya, ia mengatakan, "Sebut sajalah PT X."
Tieke, mantan karyawan Danareksa, menggeser posisi Danar sebagai direktur keuangan. Keduanya tampak jelas tak sejalan. Danar, misalnya, mengatakan kontrak dengan GMF, Abacus, dan biro iklan Bhakti Media Internasional sudah diputus. Tapi Tieke berkata sebaliknya. Menurut dia, ketiga perusahaan itu masih terikat kerja sama. Pada 24 Februari lalu, Bhakti sempat menggugat pailit Indonesian Airlines tapi menariknya lagi dua pekan kemudian.
Suara-suara miring itu keras disanggah Rudy. Menurut dia, setiap pengambilan keputusan sudah transparan. Memang tidak melibatkan semua pemegang saham. Sering kali hanya diputuskan oleh dia dan Danar. Toh, katanya lagi, pemegang saham lain masih terhitung kerabat mereka juga. Kontrak dengan GMF pun dinilainya tak bermasalah. "Kenapa harus ke luar negeri kalau bisa membuka lapangan kerja di sini," ia menukas. Sejauh ini, Rudy juga merasa tak ada wewenangnya yang dikebiri. Semua masih berjalan seperti biasa.
Meski demikian, di tengah terpaan masalah keuangan dan kepemimpinan, Indonesian Airlines tetap mencoba bertahan. Naga-naganya, dengan menggandeng investor baru yang bersedia menyuntikkan dana segar. Soal rencana menyewa pesawat dari Delta Airlines itu, misalnya, diakui Tieke berasal "bukan dari Indonesian Airlines, melainkan dari seorang investor lain."
Cuma, siapa gerangan sang juru selamat itu, Tieke menolak mengungkapkannya. Yang jelas, katanya lagi, dia adalah seorang pengusaha biasa. Bukan bank, bukan pula pebisnis penerbangan. Diakah Santayana Kiemas dari PT X itu? Tieke membantahnya dan hanya tergelak, "Santiago, kali."
Febrina Siahaan
|