Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXII/17 - 23 Maret 2003
   
Arsitektur

Di Antara Luka dan Harapan

Desain baru WTC belum lama diumumkan. Kompromi sebuah dilema antara trauma sejarah dan harapan.


Lebih dari satu dekade lalu Tembok Berlin runtuh. Berlin telah lama bersolek, tapi beberapa butir peluru masih tampak tersimpan, tertanam di dinding-dinding lama. Sejarah tak berhenti sebagai memori, catatan-catatan pribadi, dan di kota itu ada Potsdamer Platz, simbol kembalinya Berlin sebagai metropolis Eropa. Memang tak banyak yang tahu Platz dibangun di atas sebuah ground zero. Tapi di antara dilema mempertahankan luka sejarah dan membangun peradaban baru itulah sebuah rekonstruksi didirikan.

Dilema ini seperti berulang satu dasawarsa kemudian, saat situs reruntuhan World Trade Center (WTC) New York di Amerika Serikat akan dibangun kembali. Tidak mudah memang membangun di atas sebuah luka sejarah (baca, Ground Zero). Jarak antara peristiwa horor itu dan rekonstruksi masih terlalu pendek, sementara opini masyarakat New York terbelah: membangun yang baru atau mengabadikan yang lama. Di antara dilema ini, muncul Daniel Libeskind, 56 tahun, arsitek yang menang dalam kompetisi perancangan WTC bulan lalu. Ia menangkap kedua opsi itu, menuangkannya dalam landmark baru yang sangat kontekstual terhadap sejarah: ada memori, ada harapan.

Lubang raksasa yang menganga dibiarkan terbuka sebagian, demikian juga tembok penahan yang tersisa untuk menahan Sungai Hudson, tanda kekuatan dan ketabahan. Sebuah museum bernama Wedge of Light akan dibangun di tengah ground zero, dan ini memungkinkan sinar matahari menerobos masuk setiap pagi. "Ini akan mengingatkan orang pada serangan teroris yang merenggut kehidupan di pagi yang cerah," ujar arsitek kelahiran Polandia ini di dalam memoar rancangannya.

Ini semua akan memberi ruang publik baru bagi masyarakat New York. Dan seperti sebuah prosesi, mereka bisa turun ke bawah, tanpa harus kehilangan suasana meditatif dan spiritual, melewati dinding penahan dengan takzim. Untuk menghidupkan landmark bisnis di WTC, Libeskind merancang lima buah gedung di sekitar ground zero dengan tinggi tak lebih dari 70 lantai (sekitar 280 meter)—dengan begini, risiko menjadi sasaran serangan teroris semakin kecil. Kota New York pun akan kembali mendapatkan skyline landmark-nya dari tower setinggi hampir 600 meter (akan menjadi tertinggi dunia). Menara antena itu sendiri nantinya hanya akan berisi taman dan restoran.

Konsep inilah yang menjadi pertimbangan kenapa rancangan Libeskind yang dipilih pemerintah Lower Manhattan New York (penyelenggara kompetisi). Saingannya, THINK, yang dipimpin Rafael Viñoly dan Frederick Schwartz, membangun dua menara baja baru di atas ground zero. Memorial site dibangun di puncak dua menara tersebut, dan ground zero yang menganga ditutup beton.

Sepertinya memang pemerintah New York mempertimbangkan opini masyarakat. "Biasanya dilema memang tidak hanya terjadi pada arsiteknya, tapi juga masyarakat dan pemerintahnya," ujar pengamat tata kota Marco Kusumawijaya kepada TEMPO. Saat Platz dibangun pun masyarakat Kota Berlin terpolarisasi antara menghidupkan kembali Berlin di masa lalu dan membangun sebuah megapolitan baru. Apalagi berabad lalu Platz sempat menjadi saksi bagaimana Berlin menjadi landmark bisnis di Eropa. Di sana pernah berdiri bangunan hotel, plaza, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. Bahkan di areal Platz inilah lampu lalu-lintas pertama kali dipakai di Jerman pada tahun 1924.

Kejayaan Platz hancur ketika pasukan sekutu membombardirnya. Platz sempat dijadikan pusat kendali oleh rezim Hitler. Tapi, belum lagi megapolitan itu bangkit kembali, Tembok Berlin telah melindas dan membelah Platz menjadi dua pada 1961. Peristiwa itu menjadikan wilayah ini tak bertuan selama puluhan tahun.

Kini, setelah pembangunannya yang dimulai pada tahun 1994 dan selesai tahun 2000 itu, areal seluas 6,8 hektare itu kembali menjadi landmark. Bangunan-bangunan baru berdiri. Rancangannya, yang juga disayembarakan, melibatkan arsitek sekaliber Renzo Piano, Richard Rogers, dan Helmut Jahn. Masa lalu sendiri hanya dipertahankan melalui grid lanskap, ruang terbuka, dan fungsi bangunan sebagai pusat komunitas bisnis.

Dibanding New York, Berlin memang memiliki luka sejarah yang lebih dalam. Hampir seluruh bagian kota hancur akibat perang. Saat Tembok Berlin runtuh, Berlin memerlukan waktu yang panjang untuk membangun kembali kota yang utuh. Sebagian dibangun ulang persis seperti aslinya, lainnya direstorasi seperti Platz. "Berikutnya akan dibangun sebuah museum mengenang kekejaman Nazi, bernama Topography of Teror, yang akan dibangun di atas bekas kantor Gestapo," ujar Marco.

Tak ada konsep yang kaku dalam membangun kembali situs yang rusak dan memiliki luka sejarah yang dalam. Tapi, menurut guru besar tata kota ITB, Prof. Dr. Danisworo, biasanya selalu ada bagian penting yang dipertahankan dalam upaya restorasi. "Untuk dijadikan semacam simbol," ia menambahkan. Ada bermacam cara untuk mencapainya, termasuk menggabungkan dengan konsep arkeologi. Pembangunan Kota Hiroshima di Jepang, misalnya. Kota yang luluh-lantak akibat bom atom pada Perang Dunia II itu memang dibangun ulang. Kecuali pada Hiroshima Memorial Peace Park, tempat gedung "A Bomb Dome" dibiarkan apa adanya dalam puing. Gedung bergaya Eropa yang dibangun pada 1915 ini sempat menjadi landmark, sesuai dengan fungsi sebagai pusat eksibisi.

Pada rancangan Libeskind, landmark WTC pun seperti dihidupkan kembali. Ini sepertinya karena imigran asal Polandia itu sendiri memiliki akar yang kuat terhadap Kota New York. Usianya baru 13 tahun saat kapalnya masuk Kota New York. Ingatan yang sangat membekas sampai kini adalah skyline New York.

Menurut Danisworo, desain Libeskind jugalah yang paling logis secara ekonomis. Dengan biaya pembangunan diperkirakan mencapai US$ 350 juta, kemungkinan besar Amerika Serikat tidak akan membangun seluruh rencana dalam wilayah 7,5 hektare itu. Kalaupun terjadi "pemotongan", konsep landmark tetap akan hidup. "AS tidak punya dana. Nantinya yang dibangun biasanya konsep-konsep dasar saja," ujar Danisworo, yang amat menyayangkan bahwa konsep di atas belum pernah ditempuh di Tanah Air.

Dan yang paling penting, desain Libeskind-lah yang akhirnya paling diterima masyarakat New York. Mereka yang memang diikutsertakan dalam proses sayembara itu memuji sensitivitas Libeskind dalam rancangannya. Seperti dituturkan Monica Iken, yang suaminya hilang terkubur dalam reruntuhan WTC, kepada harian The Washington Post. Ia membayangkan suaminya akan tenang dalam kubur. "Saya kira dia akan bangga tempat peristirahatan adalah tempat yang menyembuhkan luka," katanya.

Endah W.S.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data