Kisah dari Kalijodo Sekali lagi, Kalijodo mengirimkan kisah yang pedih. Rumah-rumah dirobohkan dan penghuninya kehilangan tempat tinggal. |
Kalijodo mengalirkan air yang kusam dan sejarah yang buram nun di abad ke-18 lalu. Kalijodo juga mengisahkan cerita-cerita harian yang getir. Di hari Rabu pekan silam, sungai yang terletak di utara Jakarta itu mengirim jeritan para penghuninya. Serombongan lelaki mengepal parang; para perempuan menjerit-jerit histeris. "Beri kami waktu. Tolong jangan bongkar rumah kami sekarang," teriaknya.
Tapi jeritan itu hanya hilang ditelan udara. Parang itu meruntuhkan 260 bangunan kumuh yang segera rata dengan bumi. Yang tersisa kemudian hanya isak dan kemarahan mereka yang geram di antara puing-puing kayu yang berserakan. Selain itu, empat pegawai pemerintah DKI Jakarta dan beberapa penduduk setempat dibawa ke rumah sakit. Mereka terluka setelah terjadi bentrokan dalam aksi penggusuran kawasan pelacuran seluas 2,75 hektare itu.
Para moralis mungkin bersorak dengan mengatakan rumah bordil adalah tempat yang memang harus dilumatkan (dan para pengunjung lelaki boleh saja wara-wiri bebas merdeka!). Tapi pelacuran—yang konon telah sama tua dengan usia bumi—adalah anak kandung kemiskinan. Di Kalijodo, masih ada ribuan orang yang juga mengais rezeki. Tak hanya penjaja cinta berpupur tebal, tapi juga preman, bandar judi, tukang ojek, penjual kondom, penjaja pakaian dan alat rias, serta pemilik wisma yang menyewakan kamar tidur untuk berkencan. Semuanya berimpit dalam bedeng-bedeng sederhana di bantaran sungai Banjir Kanal—tanah yang sejatinya milik pemerintah DKI.
"Satu malam saya bisa mendapatkan Rp 250 ribu," kata Fadil, perempuan 33 tahun pemilik warung rokok di Kalijodo. Menurut Kepala Polsek Penjaringan, Komisaris Khrisna Murti, uang yang beredar di Kalijodo diperkirakan mencapai Rp 1 miliar per tahun.
Tapi hidup begitu keras. Februari tahun lalu sempat terjadi bentrok besar antar-preman. Rusuh sejenak, Kalijodo kemudian kembali semarak. Itulah sebabnya banyak yang ragu, apakah setelah penggusuran itu semua anak kandung kemiskinan itu akan hilang.
Mungkin tidak. Di belakang Kalijodo terdapat tali-temali persoalan yang tak mudah diurai. Premanisme dan aparat birokrasi yang korup dan mudah disuap menjadikan kompleks rumah bordil itu tak mudah dimusnahkan.
Apalagi, Kalijodo punya sejarah yang panjang. Pada abad ke-18, kawasan ini telah menjadi tempat para pelacur (ca bau) menjual cinta kepada pedagang Cina yang merantau dari tanah Tiongkok. Agar dilirik, mereka berdandan dan belajar menyanyikan lagu Tionghoa. Ada perempuan yang dijadikan gundik, tapi ada pula yang kemudian dikawini.
Di usianya yang hampir tiga abad, Kalijodo digusur. Melumatkan bangunan rumah bordil mungkin perkara mudah. Tapi yang tak gampang adalah melenyapkan kemiskinan: "ibu kandung" dari segala profesi yang getir itu.
Arif Zulkifli, Y. Tomi Aryanto, Bagja Hidayat (TNR)
|