Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXII/05 - 11 Maret 2003
   
Nasional

Ada Tomy di 'Tenabang'?

Konon, Tomy Winata mendapat proyek renovasi Pasar Tanah Abang senilai Rp 53 miliar. Proposalnya sudah diajukan sebelum kebakaran.

SUWARTI, 47 tahun, tampak mengais-ngais sisa kain dari reruntuhan balok-balok yang menghitam di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pemulung asal Jawa Tengah itu mencoba mengorek rezeki dari puing-puing 5.700 kios di pasar terbesar di Asia Tenggara itu.

Dari musibah kebakaran, Rabu dua pekan lalu, Suwarti dan rekan-rekannya mungkin menangguk lebih banyak penghasilan ketimbang sebelumnya. Tapi juga "pemulung besar" Tomy Winata, nantinya. Pengusaha dari Grup Artha Graha ini, kata seorang kontraktor arsitektur kepada TEMPO, sejak tiga bulan lalu sudah menyetor proposal proyek renovasi Sentra Bisnis Primer Tanah Abang senilai Rp 53 miliar ke pemerintah DKI Jakarta.

Proyek itu, menurut Wali Kota Jakarta Pusat Khosea Petra Lumbun, akan memakai lahan sekitar 100 hektare. Sentra Bisnis Primer bukan cuma akan memanfaatkan bekas kebakaran, tetapi juga membongkar kawasan permukiman di sekitarnya. Di sana akan dibangun pergudangan, hotel, pusat hiburan, kantor ekspedisi, dan kios modern. Lalu, di manna pedagang kaki lima?

Rencananya, pasar dihubungkan dengan jembatan penyeberangan tiga tingkat yang dilengkapi toko-toko. Ada pula jembatan khusus orang yang sekaligus menjadi tempat pedagang kaki lima berjualan, selain di halaman parkir seluas 1.000 meter di tengah pasar. Tapi mereka hanya boleh berjualan dari pukul 6 sore sampai tengah malam. "Mereka dilarang berjualan siang hari," kata Khosea. Di situ, kios-kios bikinan Tomy rencananya akan dijual Rp 175 juta per meter persegi dan baru diserahkan ke Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya 20 tahun kemudian.

Tetapi Direktur Utama Pasar Jaya, Syahrial Tandjung, membantah renovasi akan dilakukan Tomy. "Memang banyak tawaran, tapi PD Pasar Jaya juga memiliki dana cadangan. Gubernur Sutiyoso menyerahkan sepenuhnya kepada PD Pasar Jaya," katanya. Dananya berasal dari pinjaman bank dan Dana Investasi.

Tomy Winata, 45 tahun, juga menyangkal keterkaitannya dengan rencana renovasi Pasar Tanah Abang. Ia merasa belum pernah berbicara tentang hal itu. "Anda orang keenam yang telepon. Saya belum pernah bicara dengan siapa pun, baik sipil, swasta, maupun pemerintah," katanya, geram. "Saya ini enggak makan nangkanya (tapi) dikasih getahnya. Kalau (mereka) berani ketemu muka, saya tabokin dia. Kalau ada saksi, bukti, atau data-data yang mengatakan saya deal duluan, saya kasih harta saya separuh."

Dugaan bahwa pasar grosir itu dibakar dibantah Kepala Pasar Tanah Abang Buhar Tambunan ataupun Gubernur DKI Sutiyoso. Perusahaan Listrik Negara juga menyangkal gardu listrik PLN dalam pasar sebagai penyebab kebakaran. "Sumber kebakaran dari korsleting listrik masih abu-abu, belum jelas," kata Margo Santoso, General Manajer PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang.

Namun, sulitnya mengajak ratusan pedagang menyetujui rencana renovasi pasar membuat dugaan kesengajaan pembakaran "masuk akal". Bukankah kebakaran—disengaja atau tidak—akan lebih memudahkan pelaksanaan rencana itu? Dan Tomy pun kena getahnya.

"Tenabang"—sebutan ringkas orang Betawi untuk Tanah Abang—sudah menggiurkan sejak pengusaha Belanda, Justinus Vinck, membangunnya pada 1735. Beberapa tahun lalu, warga Timor Timur pimpinan Hercules—menguasai kawasan remang-remang Bongkaran—bentrok dengan kelompok Betawi dan Madura. Untung bisa didamaikan. "Kami semua ingin hidup harmonis membangun Tenabang. Ini tempat cari duit yang halal," ujar Muhammad Yusuf Muhi ("Ucu"), Ketua Ikatan Keluarga Besar Tanah Abang. Yang sulit "didamaikan" adalah hilangnya sumber pencarian 1,3 juta orang dan ludesnya hampir Rp 1 triliun dagangan.

Setelah Tenabang jadi abu, renovasi tampaknya akan lebih mulus—sekaligus bisa memercikkan "api" baru. Soalnya, proyek itu melibatkan banyak kepentingan: pedagang, pengelola, investor, dan penangguk di air butek. Karena itu, menurut Dani Anwar, anggota DPRD DKI dari Partai Keadilan, pihaknya akan memantau rencana renovasi agar kios-kiosnya tidak jatuh ke pihak yang tidak berhak. "Kalau jatuh ke pihak yang hanya mencari untung, pasti akan menyulitkan para pedagang," ujarnya.

Ahmad Taufik, Bernarda Rurit, dan Cahyo Junaedy


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data