Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXII/03 - 9 Maret 2003
   
Teater

Pengadilan Kimono Merah

Inilah drama yang memberi kesempatan para wanita berfantasi menghukum pria pemerkosa. Ine Febriyanti memainkannya di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki

Ine Febriyanti bukan Farrah Fawcett. Tapi ia berperan sebagai Margie dalam Ekstrim, karya dramawan Amerika William Mastrosimone, yang secara sensual pernah dimainkan di layar perak oleh Farrah Fawcett tahun 1986 (sutradara Robert Young).

Pada dua puluh menit pertama adegan awal di hari pertama, empat orang penonton wanita langsung bangkit emosional dari kursi, keluar gedung, ngedumel. Dan mencoret-coret kalimat di buku tamu: bahwa drama ini menjijikkan.

Adegan itu memang "menyergap". Pentas ditata sebagai ruang tamu sebuah rumah mewah. Seorang laki-laki yang tak dikenal (Yadi Timo) menyerobot masuk, lalu mencoba memerkosa Margie yang hanya mengenakan kimono merah. Margie terjengkang di sofa. Kakinya terbuka. Tubuh laki-laki itu menindihnya. "Sentuh tubuh saya semua. Sentuh yang di bawah situ. Kenapa kamu rapatkan bibirmu?" bentak laki-laki bernama Raul itu. Berkelit, Margie berhasil menendang balik, membelit Raul dengan tali, mengurungnya ke dalam tungku api berjeruji.

Terry (Retno Diah), Patricia (Rieke Dyah Pitaloka)—teman serumah Margie—ketika datang, terhenyak. Sang kawan berusaha membunuh Raul sebagai balas dendam atas upaya pemerkosaan itu. Selanjutnya panggung menjadi sebuah ajang diskusi problematik tentang apa arti pelecehan, tubuh, dan psikologi kejahatan. Meleset dari itu akan membuat kita menganggap bahwa drama ini berinti erotisme.

Penata panggung Eros Eflin yang biasa menggarap set film seperti Eliana, Eliana atau Petualangan Sherina harus dipuji. Set ruang tamu garapannya yang lengkap dengan dapur, tangga, dan jendela lebar begitu cermat. Meski tungku perapian tak ada di rumah-rumah Indonesia, toh itu tak terasa janggal. Ini membuat pemikiran bahwa memang untuk mementaskan naskah-naskah teater realis di Amerika yang banyak diangkat di film, seperti karya Tennessee William Street Car Named Desire atau Eugene O Neil Desire under the Elm, memang cocok bekerja sama dengan kru penata set film.

"Saya bayangkan rumah Margie itu letaknya di pinggiran Jakarta seperti di daerah Sentul, yang rumah-rumahnya berjauhan," kata Eka D. Sitorus, sutradara (bersama Gita Asmara). Di situ Raul, tukang sampah dinas tata kota, datang tiap hari. Dan selalu menyaksikan Margie berkimono merah keluar rumah tanpa pakaian dalam. Hingga ia terangsang. "Aku bisa melihat selangkangannya," teriak Raul.

Satu jam lebih panggung mempertontonkan nafsu membunuh Margie. Bagaimanapun, Margie tak ingin menghubungi polisi, karena menurut dia korban pemerkosaan selalu kalah di pengadilan. Dia kemudian memutuskan menjadi hakim merangkap eksekutor sendiri: menusuk tubuh Raul dengan besi dan sekop, mengguyurnya dengan air panas, menyemprot matanya dengan penyemprot serangga, menyiramnya dengan bensin, dan mengancam membakar. Margie bergerak dari posisi korban kejahatan menjadi pelaku kejahatan.

Sebetulnya adegan ini bisa menjadi psychologic thriller yang mencekam. Sesuatu yang jarang dieksplor oleh teater kita. Tapi banyolan-banyolan yang dilontarkan Yadi membuat cair. Agaknya Yadi, yang biasanya berperan aktor komedi, tak bisa selepasnya menjadi laki-laki brutal. Sepanjang pertunjukan berhamburan kata makian: "Lonte", "cabo", "kon… yang basah", "pentil busuk", "ngen…". Memang diperlukan adaptasi demikian, cuma baik Ine maupun Yadi terlalu banyak mengumbarnya hingga mengurangi ketegangan itu sendiri. Apalagi adaptasi tak konsisten. Bila betul-betul naskah disadur ke suasana Indonesia, tentu tak ada bajingan tengik seperti Raul, yang setelah disiram bensin meraung: "Bunda Maria, Bunda Maria, sekarang aku merasakan penderitaan Kristus….

Ine mengakui menjadi Margie lebih berat daripada berperan sebagai Miss Julie, karya Agust Stridberg, pada pentas Teater Lembaga yang disutradarai Joseph Ginting beberapa tahun lalu. Pementasan Miss Julie dipenuhi musik polka, sementara Ekstrim tanpa musik. Tapi kesenyapan itu membuat akting Ine terasa hiperaktif, mondar-mandir tak tentu, sampai sempat terjadi "kecelakaan": pintu jeruji tempat Raul dikerangkeng terbuka sebelum waktunya karena terlalu banyak digedor Ine.

Adegan ketika Maggie berhasil meringkus Raul pun tidak meyakinkan. Terjerembap, Raul seperti tak berdaya, Margie menghampiri, Raul bangkit, menggigit tangannya, hampir seperti suspens film horor murahan. Untung, Sitorus tak berkepanjangan jatuh pada prototip itu. Lulusan jurusan teater Academy of America ini (yang kini memberi kursus akting para pemain sinetron) telah empat kali mementaskan teater. Baru pertama kali ini problematikanya bisa sampai ke penonton.

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data