|
MUNGKIN Kwik Kian Gie sudah begitu jengkel sehingga mengabaikan etika partai atau etika organisasi. Dia mengeluarkan pernyataan menghebohkan bahwa PDIP partai terkorup.
Ketika saya tinggal di London tahun lalu sebagai mahasiswa, seorang kenalan yang bekerja di salah satu Bank Indonesia perawakilan London menceritakan kecemasan yang melanda bankir dan pemimpin BUMN di Indonesia.
Teman saya menggambarkan bahwa dulu, pada zaman Soeharto, pungutan liar (pungli) dilakukan dengan sistematis dan rutin. Tahu-tahu gaji kita dipotong sekian atau keuntungan perusahaan disetor sekian. Pada era Abdurrahman Wahid, itu sudah tidak ada. Tapi orang-orang Gus Dur mungkin tanpa seizin atau sepengetahuannya kerap mendatangi bankir dan pemimpin BUMN untuk minta dana. Alasannya biasanya untuk membangun masjid, pesantren, dan semacamnya.
Ketika Gus Dur diganti Megawati, para bankir bernapas lega. Eh, ternyata itu cuma sebentar. Belakangan, orang-orang PDIP malah lebih sering datang dengan jumlah permintaan yang lebih besar tanpa alasan yang jelas.
Kini M. Basuki, Ketua DPRD Surabaya dan bekas anggota PDIP, dikejar-kejar persoalan korupsi. Tentu banyak juga oknum partai lain yang begitu, seperti digambarkan Kwik. Jadi, saya berharap PDIP berintrospeksi. Saya yakin para petingginya tahu keadaan sebenarnya.
Untuk Kwik Kian Gie, saya sarankan Anda keluar saja dari PDIP karena Anda tidak cocok dengan habitat di sana. Secara etika juga Anda mestinya bisa memperbaiki dari dalam atau keluar dari partai. Menjelek-jelekkan partai sendiri memang terkesan tidak etis.
SIRKIT SYAH
Rungkut Asri Timur VII-8
Surabaya 60293
|