Teguran Kebablasan Aksi penculikan adik kelas kali ini terjadi di SMU Labschool, Jakarta. Gara-garanya, sang kakak merasa memiliki kekuasaan. |
BEL tanda berakhirnya jam sekolah baru saja berdering di SMU Lab-school, Jakarta, 14 Februari silam. Murid-murid masih bergerombol di halaman sekolah menunggu jemputan atau bus kota. Begitu juga dengan Putri (bukan nama sebenarnya), siswi kelas dua, yang asyik mengobrol bersama kawannya. Mendadak suasana berubah ketika serombongan kakak kelas tiga mendekat. Mereka meminta Putri bersama dua orang kawan sekelasnya masuk ke mobil, dan mengajak pergi.
Diculik? Kurang-lebih begitu. Putri dibawa ke salah satu sudut dekat arena pacuan kuda Pulomas, Jakarta Timur, sekitar 3 kilometer dari sekolah. Di sana, tanpa ba-bi-bu, ia langsung dikerubungi oleh kakak-kakak seniornya—terdiri dari 30 perempuan dan 2 laki-laki. Sebagian memegang tangan dan tubuh Putri, sebagian lagi mencoret-coret wajahnya dengan alat-alat rias seperti pemulas bibir dan pensil mata seraya berteriak-teriak. Dua orang memotret dan juga merekam adegan itu dengan handycam.
Ketika Putri berontak, pipinya malah ditampar. Ia bahkan nyaris ditelanjangi kalau saja tak sigap mempertahankan diri.
Untunglah, beberapa kawan Putri sesama kelas dua menyusul. Meski mereka tak bisa berbuat banyak, kedatangan mereka membuat tindakan semena-mena itu tak berlanjut lebih buruk. Putri akhirnya dikembalikan ke sekolah dengan rambut awut-awutan dan tangan lecet. Baju dan wajahnya penuh coretan. Bayangkan, betapa malunya ia diperlakukan seperti itu. Apalagi ketika itu para "penculik" memanggil adik-adik kelas yang lain untuk ikut menyoraki Putri yang sedang berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Rupanya, Putri sudah diincar lama, sejak dia masih duduk di kelas satu. "Kalau soal gaya, kita enggak ambil peduli. Mau dandan, mau seksi, atau gaya apa saja, itu hak dia. Tapi sikapnya yang enggak ramah, cuek, dan sok itu yang membuat kita sebal," ujar Vivi (bukan nama sebenarnya), salah seorang pelaku. Lewat "penculikan" itu, kakak kelasnya ingin memberikan semacam "teguran" kepadanya.
Tentu, orang tua Putri tak bisa menerima perlakuan terhadap anaknya. Mereka mengadu ke Kepala Sekolah SMU Labschool, Ulya Latifah. Yang dilapori kaget setengah mati. Ulya tak menyangka anak didiknya telah melakukan kenakalan yang sudah melewati batas kepatutan. Akhirnya, para pelaku diskors selama 3 hingga 5 hari, tak boleh mengikuti pelajaran di sekolah. Putri pun diizinkan tak masuk sekolah untuk menenteramkan diri selama tiga hari di rumah.
Menurut Arief Rachman, bekas Kepala Sekolah SMU Labschool yang sekarang menjadi Ketua Harian UNESCO di Jakarta, konflik antara kelompok senior dan yunior semacam itu terjadi di hampir semua sekolah. Ini juga mengingatkan peristiwa yang menimpa siswa baru di SMUN 82 Jakarta, Juli tahun lalu. Waktu itu, 17 siswi sekolah tersebut diculik para seniornya yang sudah lulus, lalu dipelonco. Wajah mereka dicoreti dengan spidol. Mereka juga disuruh mengikat ujung bawah baju sampai pusarnya kelihatan. Kalau ada yang bandel, pantat para siswi itu dipukuli.
Di Labschool sendiri, kasus seperti yang dialami Putri bukan pertama kalinya terjadi. Sewaktu Arief Rachman masih jadi kepala sekolah, setiap tahun minimal ada satu kasus sejenis. Tidak hanya terjadi di dalam sekolah, tapi juga di luar sekolah. Penyebabnya? Si senior merasa memiliki kekuasaan. "Itu alamiah. Kakak kelas merasa ingin selalu dihormati adik kelasnya," ujarnya.
Untuk mencegah konflik, sebetulnya di Labschool sudah sering digelar program keakraban lewat pertandingan olahraga dan kesenian antarkelas. Rupanya, cara ini kurang efektif. Karenanya, Arief berencana mengadakan dialog dengan murid-murid SMU Labschool. Dia ingin mengetahui dan mendapat masukan dari mereka mengenai apa yang sebaiknya dilakukan agar konflik tak muncul lagi. "Ini memang kesalahan pembinanya, termasuk saya," kata Arief.
Lalu, bagaimana nasib Putri kelak? Arief tak terlalu khawatir dengan dampak psikologis yang dipikul korban. Biasanya, korban akan sembuh dalam waktu relatif cepat. Sepanjang pengalaman Arief, anak yang mendapat perlakuan buruk pasti bisa survive. Jadi, katanya, "Orang tua tak perlu terlalu risau."
Wicaksono, Nurdin Kalim
|