Garam di Atas Luka Weltervreden |
Lautan api itu kini berubah menjadi hutan jelaga. Di Pasar Tanah Abang Jakarta memang tak ada lagi lidah merah yang menyala-nyala. Si jago merah telah dipadamkan, beberapa belas jam setelah panas melumatkan pasar berusia 268 tahun itu, Rabu dua pekan lalu.
Yang tersisa adalah arang, hiruk-pikuk, dan kesedihan. Sebanyak 5.700 kios remuk bersama jutaan meter tekstil dan jutaan kodi pakaian jadi—komoditas yang menjadi jualan utama di pasar itu. Para pedagang menangis. Tak ada milik mereka yang tersisa. Diperkirakan, kebakaran akbar itu menelan rugi Rp 3 triliun.
Semuanya berawal dari korsleting listrik. Ketika petugas pemadam kebakaran datang, api telah besar. Sebanyak 34 hidran tak menyala karena telah lama busuk dimakan karat. Dua pemadam yang naik ke tiang penyemprotan menemukan air hanya menetes sesekali.
Selanjutnya: hiruk-pikuk jadi tak terhindarkan. Para pedagang yang hendak dipindahkan ke lahan milik Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) di dekat Waduk Kebon Melati, tak jauh dari Tanah Abang, menolak. Mereka menilai tempat baru itu tak strategis. ”Jangan sampai orang sudah luka malah dikasih garam sehingga tambah perih,” kata seorang pedagang mengeluh. Mereka ingin bertahan di lokasi lama.
Tapi tak ada lagi tempat tersisa. Lantai parkir di Blok F, yang ingin dijadikan tempat penampungan sementara, ternyata sebagian telah dipakai oleh pedagang emperan asal Tasik yang berjualan pada hari Senin dan Kamis. Untuk itu mereka telah membayar sewa Rp 2 juta hingga Rp 9 juta per bulan. ”Kami bingung. Padahal kami sudah membayar sewa,” kata Adang, seorang pedagang asal Tasik. Di kemudian hari bentrok antarpedagang bukan tak mungkin terjadi.
Maka, pasar yang pada zaman Belanda bernama Weltervreden itu menjadi neraka yang murung. Orang-orang berdagang sementara di kap-kap mobil. Mereka berdesak-desakan bersama pemulung, tukang palak, dan pegawai pemerintah daerah yang sibuk mengurus ini dan itu. Bau arang meruap ke mana-mana.
Weltervreden semula dipersiapkan pemerintah Belanda menjadi pasar tekstil dan sayuran yang nyaman. Di beberapa kota di Eropa dan Afrika Selatan, Weltervreden adalah pasar loak yang asri dan menjual berbagai barang kuno dan menyimpan kenangan. Di Betawi, Weltervreden sekarang adalah luka yang menganga.
|