Mengail Laba dari Celah Harga Gula adalah bisnis keceh uang yang penuh celah untuk mengail untung. Bagaimana permainannya? |
GULA impor memang terasa legit. Bukan soal warnanya saja yang lebih putih, keuntungan yang bisa dinikmati para pemain pun amatlah manis. Penelusuran TEMPO menemukan ada banyak celah dari struktur harga gula impor yang bisa membuat setiap importir, termasuk sekarang yang kembali diberikan kepada Bulog, menimba untung besar.
Sumber TEMPO di kalangan saudagar gula bersaksi, sejak dulu Bulog terkenal doyan menggelembungkan harga tender dari pemasok. Cara itu gampang dilakukan, dan mudah disembunyikan, dengan memanfaatkan fluktuasi harga di pasar internasional.
Pekan lalu, Bulog mengumumkan akan memasok 250 ribu ton gula impor, yang dibeli dari Cargill. Harganya mencapai US$ 236 per ton. Cargill, importir besar di pasar gula internasional, akan memasok gula produksi Thailand. Kata Kepala Bulog Widjanarko Puspoyo, gula itu jauh lebih bagus dari buatan India, yang pernah ditawarkan Agrocorp Ltd. Menurut dia, kendati Agrocorp mematok harga lebih murah, US$ 230 per ton, kualitasnya tak begitu bagus. ”Harganya murah karena belum masuk biaya kontainer,” ujarnya.
Dulu, kata sumber TEMPO, selisih semacam itulah yang selalu dimainkan Bulog. Katakanlah, harga beli lewat sebuah importir sebenarnya hanya US$ 230 per ton. Tapi, setelah diutak-atik, di kontrak harga belinya lalu didongkrak jadi US$ 245. Jadi, ada selisih US$ 15 per ton. Taruhlah impor mencapai 100 ribu ton. Hasilnya luar biasa. Sekurangnya US$ 1,5 juta bakal mulus masuk kantong. ”Dengan kurs Rp 9.000, rezeki nomplok itu bernilai Rp 13,5 miliar,” kata seorang pemain gula impor.
Siasat ini jadi tersembunyi karena harga gula impor di pasar internasional cenderung selalu lebih murah dari harga lokal. Dihitung dengan kurs rupiah, harga asal dari importir paling banter berkisar di harga Rp 2.100 saja. Praktek semacam inilah yang ujung-ujungnya membuat harga gula kian melangit dan akhirnya membebani konsumen.
Masih ada cara lain. Indikasinya diungkap Rahardi Ramelan, mantan Kepala Bulog. Celahnya ada pada jurang harga dari importir ke distributor sampai konsumen yang menganga begitu lebar. Misalkan, dari produsen, gula dilepas Rp 3.460 per kilogram. Tapi, setelah gula melewati pedagang besar dan menengah, konsumen membeli Rp 4.300 di pengecer. Ada selisih sekitar Rp 900 di sana. Sekilas ini tampak wajar. Tapi di sinilah berbagai ”biaya siluman” bisa disisipkan.
Sebelum ini, seorang distributor gula di Jawa Timur mengaku PTPN selalu mengutip dana Rp 200 untuk setiap kilo gula yang akan diedarkan distributor. ”Dulu, fee semacam ini yang diperuntukkan bagi Bulog,” sumber tadi menjelaskan.
Setelah Bulog kembali diberi kewenangan mengimpor gula, hitung-hitungan komisi itu kembali disusun ulang. Tengok temuan TEMPO atas struktur harga yang sedang dirancang sebuah perusahaan pengimpor pelat merah untuk mengantisipasi skema baru yang melibatkan Bulog itu (lihat grafik).
Pada tangga harga gula di produsen, tercantum berbagai pos yang gampang diakali dengan besaran yang mengernyitkan dahi. Misalnya saja, ada dana revitalisasi petani senilai Rp 37 ribu untuk setiap tonnya. Padahal, di lapangan, duit ini sejatinya jarang sampai ke tangan petani. Di item manajemen juga begitu. Di sini dicantumkan adanya pos dana keamanan sebesar Rp 25 ribu dan ”biaya manajemen Bulog” sebesar Rp 50 ribu.
Tapi itu kalau cukup Rp 50 ribu. Menurut sumber itu, bisa jadi Bulog akan meminta jatah lebih. Taruhlah Bulog meminta fee Rp 100 per kilogram. Silakan kalikan sendiri dengan jatah impor yang diberikan kepada instansi itu untuk mengimpor sendiri 100 ribu ton setahun. Padahal total jenderal sampai April ini ada sekitar 500 ribu ton gula yang harus diimpor, yang semuanya harus melalui kerja sama dengan Bulog. Alhasil, pundi-pundi Bulog dipastikan bakal makin kembung duit.
Kepala Bulog Widjanarko Puspoyo membantah semua kecurigaan itu. Dia mengatakan Bulog tak akan memakan rente. Dia mengakui, pihaknya pasti mengutip keuntungan. Tapi itu merupakan laba yang wajar sebagai jerih kerja lembaganya. Soal penggelembungan harga? Widjanarko pun menyanggahnya. ”Saya jamin tak ada main-main soal harga,” ujarnya.
|