Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXII/03 - 9 Maret 2003
   
Investigasi

Raja Diraja Kristal Putih

DI setiap rezim, sejak zaman Orde Baru sampai sekarang, manisnya gula selalu menjadi rebutan. Presiden boleh berganti, sistem boleh dirombak, tapi cengkeraman kuku para baron di bisnis keceh uang ini tak pernah kurang dalamnya. Merekalah penguasa bisnis kristal putih di republik ini. Sebagian adalah pemain lama, sebagian lagi merupakan wajah baru.

Grup Salim

Sejarah mencatat Liem Sioe Liong membangun kerajaan bisnisnya lewat berdagang bahan pokok, khususnya gula. Pada 1950-an, Liem sudah bersahabat dengan Soeharto. Saat itu, Liem, yang masih pedagang kelontong, memasok kelapa, cengkeh, dan gula untuk pasukan Soeharto di Divisi Diponegoro, Semarang. Soeharto dan Liem pernah tercatat menyelundupkan gula. Ketika hal ini terbongkar, Jenderal A.H. Nasution, Menteri Pertahanan dan Keamanan saat itu, mencopot Soeharto sebagai Kepala Logistik Divisi Diponegoro.

Ketika Soeharto naik menjadi presiden pada 1966, setahun kemudian pengadaan, penyaluran, dan pemasaran bahan pokok, termasuk gula, dimonopoli Badan Urusan Logistik (Bulog). Di masa jayanya, rekanan Bulog di bisnis gula mencapai 800-an importir. Toh, tak ada yang mampu menahan mekarnya Grup Salim di bisnis ini. Hingga 1997, Sugar Group (SG), perkebunan gula terpadu milik Salim, menjadi salah satu produsen terbesar. Dengan lahan seluas 61 ribu hektare di Lampung, total produksi SG mencapai 450 ribu ton setahun—setara dengan 30 persen produksi gula nasional pada 1997.

Yantje Liem

Di era 1980-an, nama Yantje Liem alias Haryanto dikenal sebagai rekanan kepercayaan Bulog, khususnya untuk impor berskala ratusan ribu ton. Nama Yantje tenggelam ketika ia terlibat sengketa dengan importir gula Inggris, E.D. & F. Man (Sugar) Ltd., pada 1982 dan dihukum arbitrase di London membayar ganti rugi US$ 22 juta.

Hokkiarto

Hokkiarto menjadi tangan kanan Kepala Bulog Beddu Amang sejak pertengahan 1990-an. Penelusuran Badan Pemeriksa Keuangan pada 1999-2000 menemukan bahwa Hokkiarto, melalui PT Armindo, pernah menilap 5.150 kuintal gula pasir di gudang Bulog.

Soesanto

Namanya tak hanya dikenal di Medan, tapi juga kondang hingga ke Jawa. Maklum, sejak awal 1980-an ia telah berkecimpung di bisnis gula. Ia dikenal lihai ”menyusupkan” gula dari Thailand dan Malaysia. Biasanya gula dia bawa dari Port Klang, Malaysia, melalui Teluk Nibung atau Tanjung Bala. Menurut Arum Sabil, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat XI, Soesanto adalah raja diraja gula di Sumatera. Sekali main ia bisa menyabet 200 ribu ton sekaligus.

Pieko Nyoto Setijadi

Dialah baron di pesisir utara Jawa, khususnya di sekitar Jawa Timur. Sejak 1980-an, melalui PT Cipta Gemini Mulia, Pieko dipercaya menjadi rekanan Bulog. Menurut Sulistyo, seorang pedagang gula, ia dikenal dekat dengan kalangan tentara, khususnya polisi militer. Di depan kantor Pieko di Surabaya terpampang sebuah plang bertuliskan ”Korps Polisi Militer”. Pada 1990-an, posisi Pieko makin kuat ketika ia menjadi Ketua Asosiasi Pedagang Gula Indonesia se-Jawa. Setelah itu, ia pun merambah ke Jawa Tengah dan Jakarta. Kepada TEMPO, Pieko menyatakan sukses bisnisnya semata karena asosiasi tempat ia bernaung memang telah berpengalaman menyalurkan gula. ”Jaringan kami sudah tersebar di seluruh Indonesia,” katanya.

Kurnadi dan Yayat Supriatna

Duet ini menguasai pasar di Jakarta dan Jawa Barat. Melalui bendera PT Kurnadi Abadi, mereka mampu menangani impor dan distribusi 50 ribu ton gula. Selain bermain di bisnis gula, Kurnadi dipercaya Bogasari menjadi distributor tepung terigunya. Di kalangan pemain gula, Yayat dikenal sebagai ”saudara kembar” Kurnadi. Pengalaman Yayat sebagai mantan Kepala Dolog Jakarta tampaknya menjadi modal mereka menguasai liku-liku pasar Ibu Kota. Yayat tak mau berkomentar banyak. Saat diwawancarai, ia cuma bilang, ”Jangan tanya sayalah. Saya ini bukan orang yang punya visi atau misi apa-apa.”

Tjokro Setiawan dan Hans Maramis

Menurut Sulistyo, seorang pedagang gula, Tjokro dan Hans inilah pesaing berat duet Kurnadi-Yayat di Jabotabek. Dari kantornya, di Menara Sudirman, Jakarta, Tjokro mengatur ”armada semutnya” di bawah payung PT Kencana Gula Manis. Tjokro dikenal sebagai pelobi ulung dan disebut-sebut punya hubungan dekat dengan petinggi Republik. Sedangkan Hans dikenal punya lobi kuat di jajaran birokrasi, khususnya di Departemen Perindustrian. Tjokro menolak berkomentar. ”Lebih baik kamu wawancara Kurnadi. Dia yang terbesar di Jakarta. Saya cuma pedagang kecil,” katanya merendah.

Artaguna Sentosa (Grup AGS)

Grup AGS dikenal sebagai salah satu pemain besar di Jawa Timur. Januari lalu, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Theo F. Toemion pernah berkirim surat kepada Menteri Rini Soewandi, menuduh AGS berada di balik langkanya pasokan gula di Jawa Timur belum lama ini. Atas tuduhan itu, Haryono, salah satu pemilik AGS, menjawab, ”Kami kan cuma berdagang gula dengan petani dan tidak mengimpor. Bagaimana mau memainkan harga?”

PT Berlian Penta

Setelah Soeharto lengser, pendatang baru yang dikenal gesit adalah PT Berlian Penta. Perusahaan milik Hartono ini berbasis di Malang, Jawa Timur. Di zaman Orde Baru, perusahaan ini hanya bermain di tetes tebu, tapi sejak akhir 1990-an mulai mengimpor dan mendistribusikan gula. Keras dicurigai, Pentalah yang bermain di balik penimbunan gula di gudang PTPN di Jawa Timur belum lama ini. Sayang, Direktur Berlian, Haryanto, tak mau berkomentar banyak. Ia membenarkan gula yang ada di gudang PTPN itu memang miliknya. ”Tapi tidak semua milik kami. Yang lainnya milik pedagang lain,” katanya.

PT Win

Ketika PT Perkebunan Nasional (PTPN) XI diberi izin impor 50 ribu ton gula, perusahaan inilah yang ditunjuk pemerintah untuk bermitra dengan PTPN XI. Penunjukan ini kontan memicu protes dari para pemain gula lama. Akhirnya, kemitraan PTPN XI dengan PT Win dibatalkan Menteri Rini Soewandi. Dikabarkan, yang berdiri di belakang PT Win adalah sebuah pabrik rokok besar di Jawa Timur. Belum lama ini, langkah pemain baru ini kembali mengejutkan para pemain lama. Win berhasil menggandeng Agrocorp, pemain gula dunia dari Singapura, untuk memasok 50 ribu ton gula dengan harga murah US$ 230 per ton atau kira-kira Rp 3.100 sekilo.

Gunawan Muchlis

Dialah debutan paling agresif dalam bisnis ini. Namanya menjadi pembicaraan ketika pada 2001 lalu, melalui PT Yosilindo Aneka Coklat Industry dan PT Insan Makmur Sejati, ia mendapat izin dari BKPM untuk mengimpor 221 ribu ton gula. Ternyata sebagian gula itu dijual langsung ke masyarakat—satu hal yang diharamkan ketentuan. Buntutnya, Bea Cukai menahan sisa gulanya di gudang dan mengusut kasus ini.

Menurut dua sumber TEMPO, saat itu melayanglah surat dari Nazarudin Kiemas, adik Taufiq Kiemas, kepada Direktur Jenderal Bea Cukai ketika itu, Permana Agung. Isinya meminta agar sisa gula impor sebanyak 20 ribu ton itu dilepas dari Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini antara lain dibenarkan Arum Sabil, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat, yang saat itu ikut dalam operasi Bea Cukai. Tapi, saat dikonfirmasi, Nazarudin membantahnya. ”Saya tak pernah berurusan dengan Bea Cukai soal impor gula,” katanya. Permana sendiri enggan berkomentar, ”Sudahlah, saya lebih baik diam,” ujarnya.

Toh, pada akhir 2002 lalu, Ketua BKPM Theo Toemion kembali memberi Gunawan izin, melalui PT Lampung Bintang Semesta (LBS), untuk mengimpor 1,08 juta ton gula. Buntutnya, Asosiasi Petani Tebu Rakyat menuding ada kongkalikong di baliknya. Theo sendiri membantah tuduhan itu. Begitu pula Anwar Hasani, juru bicara LBS, yang mengatakan, ”Tidak benar kami mendapat keistimewaan dari BKPM. Kami justru heran kenapa dibuat ketentuan yang melarang perusahaan seperti kami memproses gula kasar menjadi gula putih untuk dipasarkan.”

Gunawan Jusuf

Gunawan Jusuf dikenal sebagai pemain baru di bisnis gula. Pada 2001 lalu, bos Makindo Sekuritas ini membeli Sugar Group dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Pembelian ini lalu berbuntut sengketa dengan Grup Salim tentang status lahan. Gunawan dijagokan banyak kalangan akan menjadi baron gula baru. Ia dikenal punya hubungan dekat dengan Kepala Bulog Widjanarko Puspoyo dan Guruh Sukarno Putra, adik Presiden Megawati.

Guruh menyatakan tak pernah punya kongsi apa pun dengan Gunawan. Tapi ia mengaku mengenalnya dari dekat. ”Kenal, bahkan cukup baik. Terutama istrinya, karena dia penggemar seni juga. Mereka berdua juga kolektor lukisan, kadang beli lukisan saya. Mereka punya butik dan turut memasarkan batik saya,” katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data