Dari Sampah Menjadi Listrik Jakarta berencana membangun pembangkit listrik bertenaga sampah rumah tangga perkotaan. Dua masalah diselesaikan sekaligus. |
TIDAK ada gunung di Jakarta. Tapi, kalau truk-truk pengangkut sampah tak bekerja seminggu, pastilah bakal muncul puluhan bukit di kota megapolitan ini—bukit yang menyebarkan aroma busuk. Kemampuan Jakarta memuntahkan sampah memang mengagumkan: 6.200 ton sehari, setara dengan 3.100 truk bermuatan penuh. Persoalan pembuangan sampah pun jadi masalah yang tak pernah bisa diselesaikan secara tuntas. Tahun lalu, misalnya, tumpukan sampah sempat membuncit di berbagai tempat di Jakarta ketika pemerintah Kota Bekasi menutup TPA (tempat pembuangan akhir sampah) Bantargebang, lahan milik DKI yang letaknya di Bekasi.
Akhir tahun ini, perjanjian pemanfaatan TPA Bantargebang akan berakhir. Padahal produksi sampah tak pernah berhenti. Hal ini memaksa Pemerintah Daerah Jakarta mencari alternatif lain. Saat ini, mereka sedang menimbang-nimbang delapan proposal pengolahan municipal solid waste (MSW) lewat pembangunan pembangkit listrik bertenaga uap.
Bila tahu cara memanfaatkannya, sampah bisa diubah dari barang buangan menjadi uang. Pemanfaatan sampah yang biasa dilakukan adalah dengan membuatnya jadi kompos. Sisa sampah dibiarkan membusuk, lalu dijadikan pupuk. Atau, dibuat biogas: sampah dikubur sehingga bisa menghasilkan gas yang dapat dipakai untuk keperluan sehari-hari, misalnya memasak. Tapi cara seperti itu kurang bermanfaat di saat sampah terus mengalir, karena perlu waktu yang lama sampai sampah bisa digunakan. Biogas, misalnya, kata Tatang H. Soerawidjaja, Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Terestrial ITB, perlu tujuh tahun agar bisa dipakai. Apalagi gas dan kompos cuma bisa menghabiskan sampah beberapa ton saja sehari.
Menurut Tatang, pembangkit pemakan sampah adalah jawaban untuk menghabiskan sampah rumah tangga di kota-kota yang padat seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan. Cara itu, ujarnya, ada dua, yakni yang langsung masuk ke turbin lalu asapnya dibuang, atau dikenal dengan alat incinerator, dan yang memanfaatkan uapnya sebagai listrik, sedangkan asap dan debunya sebagai bahan bangunan. Inilah yang disebut cara combine cycle, yaitu ada bagian yang mengolah sampah, ada bagian yang membersihkan limbahnya.
Dengan cara kedua ini, semua bau busuk sampah, pencemaran udara karena gas beracun macam metana, atau air sampah yang mencemari sungai bakal tinggal kenangan. Di lain pihak, pembangkit tenaga sampah itu bisa menghasilkan listrik dalam jumlah yang lumayan, sekitar 30-60 MW, kira-kira setengah dari yang dihasilkan satu turbin pembangkit listrik yang paling kecil. Kelebihan lain, tak perlu repot mencari lokasi khusus untuk pembangkit ini, tinggal bangun saja di samping tempat sampahnya. Listriknya bisa disalurkan melalui kawat perusahaan listrik negara atau dengan membangun jaringan sendiri.
Dari delapan perusahaan yang berminat membersihkan sampah Jakarta, salah satunya adalah kelompok usaha Hangzhou Jinjiang dari Cina. Mereka mengusulkan agar pembangkit itu dibangun di kawasan Bantargebang atau di Marunda. Promosi mereka cukup meyakinkan: dalam satu setengah tahun, pembangkit tersebut sudah siap menghasilkan listrik. Sebanyak 2.000 ton sampah dimakan dalam sehari, yang diubah menjadi 60 megawatt (MW) listrik dari tiga boiler (ketel uap) dan dua turbin dengan kapasitas 30 MW. Satu meter kubik biogas setara dengan setengah meter kubik gas alam atau setara dengan listrik 5 kWh.
Prinsip pembangkit itu sederhana saja. Semua bahan organik yang bertumpuk di dalam sampah bila dibakar akan menghasilkan berbagai jenis uap atau gas. Bahan-bahan organik dari sampah biasanya terdiri dari metana dengan kadar sekitar 50 persen, gas karbon 35 persen, dan sisanya gas nitrogen, juga terdiri dari sulfur hidrogen dalam jumlah yang sangat kecil. Gas sampah itu 21 kali lebih mudah terbakar dibanding gas karbon, sehingga gampang sekali menaikkan suhu permukaan bumi.
Menurut Robert Pichel, konsultan independen dari Delft, Belanda, sampah yang masuk ke pembangkit tak perlu dikeringkan dulu. "Semuanya bisa dikeringkan dalam boiler," ia menjelaskan. Jadi, sampah dari bak truk bisa langsung diangkut melalui ban berjalan (conveyor belt) ke dalam boiler, tidak perlu dipilah-pilah dulu, karena sebuah mesin pemotong akan menjadikannya berukuran tak lebih dari 6 inci. Semua jenis yang berbahan non-organik seperti besi atau ferro-magnet akan tersedot dan dipisahkan dengan penyedot bermagnet.
Pembakaran sampah di dalam boiler dilakukan dengan cara anaerob alias tanpa udara, dan menghasilkan uap bertekanan tinggi. Uapnya dialirkan ke turbin dan generator yang akan mengubahnya menjadi energi listrik. Bahan bakar lain seperti solar hanya diperlukan sekali saja, yakni saat start up ketika menghidupkan pembangkit untuk pertama kalinya. Limbah abu dan partikel yang berserakan lantas dialirkan ke saluran pembuangan terpisah.
Tapi, tunggu dulu. Kan masih ada sisa pembakaran berupa asap yang masih berisi karbon monoksida, hidrokarbon, nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan jelaga karbon—yang merupakan sekumpulan gas beracun di udara? Bisakah MSW mengatasinya? Menurut Robert, pembangkit MSW yang sudah memenuhi standar internasional dilengkapi dengan elektrostatis presipitator, yang berfungsi sebagai filter gas buang. Alat itu lalu diberi lime slurry, sejenis lumpur yang mengandung bahan kimia, agar semua partikel dan debu menempel. Makin lama jumlah yang menempel makin banyak sehingga lumpur itu jadi berat, lalu mengeras dan akan jatuh. Dari cerobongnya akan keluar asap bersih tanpa polutan. Lumpur yang mengeras itu bisa dijadikan bahan bangunan karena ringan dan bentuknya kompak.
Awalnya, sampah yang masuk harus diukur dulu nilai kalorinya. Menurut pengalaman Jinjiang, sampah di negara berkembang punya nilai panas 8.400 kJ per kilogram. Tapi mereka mengaku bisa mengolah yang bernilai 4.000 kJ per kilogram, seperti yang sudah dilakukannya di Cina. Ukuran panas itu penting agar menghasilkan daya pancar uap yang maksimal. Yang mesti dirawat hati-hati adalah ketelnya, karena bisa rusak jika kemasukan benda-benda keras macam besi dan baja. Ia juga mengaku belum menemukan bukti bahwa berbagai senyawa kimia di dalam sampah bisa mempercepat korosi dinding ketel." Daya tahannya sama saja dengan pembangkit biasa," ujarnya.
Mahalkah pembangkit dwiguna ini? Robert mengutip data sebuah pembangkit sejenis di Amerika Serikat, yakni US$ 128 juta (sekitar Rp 1,05 triliun) untuk menghasilkan 52 megawatt. Listrik sebanyak itu, dengan perhitungan tiap rumah di kota besar memakai 2.000 watt, bakal bisa menerangi 26 ribu rumah tangga. Kalau satu rumah berisi empat orang, 100 ribu orang lebih akan menikmati terangnya lampu listrik. Jinjiang pernah menghitung, dengan biaya pengolahan satu ton sampah US$ 3 dan tingkat pengembalian investasi (rate of investment) 14 persen, semuanya uangnya akan kembali dalam tujuh tahun.
Kalau biaya pengangkutan masih dianggap terlalu mahal, Robert punya saran untuk para investor agar tak ikut mengurusi pengangkutannya. Serahkan soal itu kepada pemerintah setempat. Investor cukup menampung di tempat pembuangan akhir macam Bantargebang. Masalahnya, di sini ada komunitas pemulung, yang bisa-bisa menganggap pembangkit listrik itu sebagai "musuh" yang mengambil jatah sampah mereka. Jalan keluarnya, mereka bisa saja dipekerjakan di pembangkit yang memerlukan pegawai hingga 500-an orang. Tentu saja dengan pelatihan keterampilan yang cukup sebagai operator mesin.
Pemanfaatan sampah untuk dijadikan listrik ini sudah diterapkan di negara lain. Amerika, misalnya, sejak tahun 1998 sudah berhasil mengubah 17 persen sampah rumah tangganya menjadi listrik. Bahkan di Jepang ada 160 pembangkit sejenis yang tersebar di seluruh negeri. Begitu pula di Prancis. Lembaga Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) juga sudah menyatakan pembangkit itu aman untuk lingkungan hidup.
Masalahnya, entah kapan pembangkit ini bakal berdiri di sini. Presentasi tim dari Hangzhou Jinjiang di akhir tahun lalu sempat memikat banyak pendengar, termasuk Manajer Umum PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten, Agus Pranoto. "Tapi kok sekarang tak muncul lagi?" begitu keluhnya. Tidak jelas betul kenapa ide itu tak terdengar lagi. Padahal, dengan MSW, Pemda DKI tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun karena investor yang menanggung semua biayanya dengan imbalan dari penjualan listrik. Dalam beberapa puluh tahun, semua pembangkit itu bisa jadi milik pemda, lagi-lagi gratis. Jadi, apa masalahnya? Salah satu agen pembangkit itu bercerita kepada TEMPO: bukannya membantu, malah ada pejabat Pemda Jakarta yang minta komisi. Masya Allah....
I G.G. Maha Adi, Bobby Gunawan (Bandung)
|