Bali pada Sebuah Hari yang Kelam Fotografer Kemal Jufri merekam detik-detik setelah peledakan bom di Bali, Oktober 2002. Sebuah pameran yang mengingatkan kita tentang tragedi itu. |
Tak ada yang berubah di Bali kecuali sebuah prasangka dan fanatisisme yang terwujud pada sebuah malam Oktober 2002 lalu. Tak ada yang berubah di atas langit Bali, ataupun di dalam hati pencintanya, kecuali kini dia menjadi tempat yang—untuk sementara—dijauhi para wisatawan hingga rasa aman sudah kembali.
Syahdan, fotografer Kemal Jufri adalah satu dari mereka yang tiba di Legian, Kuta, setelah bom meledak. Kemal menjadi saksi dari Bali yang hangus dan berjelaga. Dan rekamannya itu kemudian ditatap bukan hanya oleh pembaca majalah ini, tetapi juga majalah Time internasional. Melalui kamera Kemal pada hari-hari setelah pengeboman di Bali di bulan Oktober 2002 itu, kita kemudian mencoba memahami Bali yang "baru", yang lahir setelah sebuah tragedi dan rasa sakit. Legian yang luluh-lantak dengan beberapa bangkai mobil yang "berhenti" dan "mati" di muka Sari Club; deretan jenazah di lorong Rumah Sakit Sanglah; upacara demi upacara; wajah-wajah turis dengan tatapan kosong; kantong-kantong plastik berisi potongan jenazah….
Kamera Kemal terus bergerak. Dan kita menyaksikan gerak itu sebagai sebuah tenaga yang mengingatkan hari itu. Hari yang hitam.
Di Toko Buku Aksara, Kemang, Jakarta, wajah Bali yang hitam dan berjelaga dan Bali yang runtuh oleh tangan Amrozi, Imam Samudra, Ali Imron, dkk itu dipajang di antara buku-buku sejak sebulan silam. Mungkin ini bukan tempat yang tepat untuk menyatukan foto-foto tragis di antara buku-buku itu, karena fokus mata menjadi buyar. Pilihan foto-foto yang dipamerkan juga menjadi tanda tanya karena, dari begitu banyak hasil rekaman Kemal, pasti masih banyak hasil rekamannya yang jauh lebih simbolis daripada sekadar foto-foto yang bercerita. Harus diingat, Kemal adalah fotografer penerima Award of Excellence dari Picture of the Year di AS. Hasil rekamannya adalah sebuah jaminan mutu. Tentu pilihan seorang editor yang tepat dan kuratorial yang jitu juga akan mempengaruhi keseluruhan penyajian.
Bagaimanapun, ini pameran yang penting karena inilah sebuah bagian dari gerakan yang ingin mengingatkan kita pada sebuah hari yang menjadi titik hitam dalam sejarah negeri ini.
Leila S. Chudori
|