Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXII/03 - 9 Maret 2003
   
Film

Kejarlah Daku, Kau Kutipu

Kisah nyata penjahat belia yang dikejar FBI. Karya Steven Spielberg yang ringan dan menghibur.

CATCH ME IF YOU CAN (2002)
Pemain : Leonardo DiCaprio, Tom Hanks
Sutradara : Steven Spielberg
Skenario : Jeff Nathanson
Produksi : Dreamworks Picture

MENIPULAH sejak muda. Maka, Anda bisa terbang gratis keliling dunia, memenangi hati para wanita, dan menumpuk uang tak terbatas. Dengan cara ini Anda memang harus siap menanggung risiko menjadi orang yang paling dicari FBI (badan intelijen federal Amerika). Tapi bukankah itu juga satu "prestasi"? Frank W. Abagnale Jr., tokoh utama Catch Me If You Can, membuktikan sekaligus menjiwai paradoks ini.

Film garapan sutradara Steven Spielberg ini bukan berangkat dari rekaan penulis skenario atau novelis, melainkan kisah nyata yang menggegerkan agen rahasia Amerika Serikat pada 1964. Musuh yang mereka uber ke berbagai sudut dunia bukan bandit seram atau bromocorah kambuhan, melainkan ABG (anak baru gede) yang iseng lantas ketagihan. Kisah ini memang sebuah keisengan yang mahal. Tak kurang dari US$ 2,5 juta duit negara dikeruknya sejak ia berusia 16 tahun.

Spielberg menghadirkan Leonardo DiCaprio sebagai Frank sang penipu, yang berkejaran bak kucing dan tikus dengan Tom Hanks yang menjadi agen FBI Carl Hanratty—dua aktor yang tengah menjadi buah bibir di "pertempuran" Oscar. Dua-duanya menampilkan akting bermutu sebagai gangster di film yang berbeda. DiCaprio dalam Gangs of New York, Hanks di Road to Perdition. Kolaborasi aktor dua generasi dalam Catch Me If You Can sungguh pilihan yang tepat dan brilian.

Film ini bahkan bisa "mempersatukan" peminat film dari aneka genre yang berbeda. Para penggemar film kriminal bisa terpuaskan menonton trik-trik kejahatan si penipu plus kerepotan FBI mengendusnya kian kemari. Apalagi mengingat tontonan ini diangkat dari kisah nyata. Para penggemar film "santai" (untuk tidak menyebutnya komedi), meski tak bakal tertawa terbahak-bahak, lumayan bisa tersenyum lewat beberapa adegan. Juga dialog yang "ringan" dan menghibur, meski persoalan yang diambil sebetulnya cukup berat.

Sesudah dua film "serius"—Artificial Intelligent dan Minority Report— sutradara Spielberg menggali kembali sense of humour-nya lewat film ini. Mungkin ini bukan film terbaiknya, tapi salah satu yang paling menghibur. Terlepas dari soal kejar-kejaran antara si penjahat dan si penegak hukum, Spielberg juga berhasil mengangkat sisi dramatis kehidupan keluarga Frank dan Carl tanpa harus menjadi "cengeng". Pesan moralnya: cinta dan keluarga, dua hal nyata dalam hidup yang tak terbeli oleh uang.

Soal tipu-menipu identitas di layar film, Catch Me bukanlah yang pertama. Bandingkan dengan Talented Mr. Ripley yang dibintangi Matt Damon, yang juga menceritakan seseorang yang bertukar-tukar identitas. Serupa tapi tak sama dengan Catch Me, film garapan sutradara Anthony Minghella ini juga menampilkan sosok non-hero yang "disayangi" penonton. Meski film ini lebih mengarah ke sebuah thriller, toh ia tak kehilangan unsur menghiburnya.

Jika mau dibandingkan dengan DiCaprio yang sama-sama menjadi penipu, peran Damon terkesan lebih "sulit". Maklum, ia bukan sekadar orang yang lihai melompat ke identitas lain, tapi juga sosok yang "berperang" dengan dirinya sendiri karena merasa tak punya identitas asli yang layak dipertunjukkan ke publik. Ripley adalah tokoh dengan latar belakang problem psikologis mendalam yang sulit diterjemahkan ke layar kaca.

Namun, Catch Me jelas lebih berhasil sebagai film yang menghibur dalam berbagai aspek. Meski setengah jam pertama berjalan agak lambat, film ini kemudian serasa berlari seiring dengan kejar-mengejar dan tawar-menawar antara kucing dan tikus, Hanratty dan Abagnale. Akting bermutu dua bintang ini ditopang oleh setting tahun 1960-an, termasuk soundtrack yang begitu pas dengan aura film keseluruhan, yang menjadikan Catch Me sungguh layak ditonton.

Andari Karina Anom


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data