Tak Berkutik karena Itik Bisnis bagi hasil peternakan Add Farm goyah. Bakal jadi skandal QSAR kedua? |
WAJAH Elina seperti pakaian yang belum disetrika. Kusut. Setiap hari, pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah itu sibuk mencari informasi mengenai kelanjutan usaha PT Adess Sumberhidup Dinamika. Add Farm—begitu nama korporat ini dikenal—adalah sebuah peternakan itik di Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat, yang menawarkan sistem bagi hasil dengan keuntungan menggiurkan: 44 persen setahun. Didirikan pada 14 Juni 2000, model usahanya mirip PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR), yang bikin geger setelah kolaps Agustus tahun lalu.
Naga-naganya, Elina dan 3.000-an pemilik modal lainnya akan mengulang nasib sial 6.800 investor QSAR. Di Add Farm, ia telanjur menanamkan seluruh tabungannya senilai Rp 145 juta, yang hingga kini belum jelas apa bisa kembali utuh atau amblas sama sekali.
Semula Elina ragu akan promosi berbunga-bunga dari Add Farm. Namun, belakangan ia ikut tergiur setelah diyakinkan suami dan saudaranya. Pada awal 2002, dia pun membeli Paket C.
Add Farm menawarkan tiga paket investasi. Paket A adalah investasi senilai Rp 4 juta dengan masa kontrak 18 bulan. Dijanjikan, investor akan mendapatkan kembali uangnya berikut bagian laba pada bulan ketujuh sebesar Rp 600 ribu atau 15 persen dari nilai setoran. Paket B lebih mahal, Rp 4,5 juta dengan jangka waktu 15 bulan. Di sini pemilik modal akan mendapat pembagian hasil usaha setelah bulan ke-15 sebesar Rp 600 ribu atau 13,3 persen. Yang paling diminati adalah Paket C. Tiap investor menyetor Rp 5 juta dengan jangka waktu 12 bulan, dan diiming-imingi keuntungan Rp 600 ribu pada bulan pertama.
Awalnya, semua lancar. Sebulan kemudian Elina telah menerima pembayaran pokok dan keuntungan sebesar Rp 17 juta. "Transfernya tepat waktu," kata wanita yang bersuamikan karyawan perusahaan minyak multinasional itu. Sejak itu, ia merasa makin mantap saja berinvestasi.
Namun, Oktober tahun lalu semua mimpi indah itu buyar. Pembayaran mulai datang terlambat. Tiap kali ditanya, manajemen hanya bolak-balik menyetor janji. Kekhawatiran Elina akhirnya menjadi kenyataan. Sejak November hingga kini, tak sesen pun uangnya kembali.
Syamsul Anam, karyawan perusahaan kontraktor, juga mengalami nahas serupa. Syamsul terpikat dengan pemaparan bisnis yang menurut dia semula amat masuk akal. Ia makin hakulyakin setelah diajak meninjau langsung ke peternakan. Walhasil, setahun lalu, Februari 2002, ia langsung membeli paket investasi senilai Rp 200 juta. Jangankan untung, kini Syamsul hanya tinggal berharap uangnya dikembalikan "minimal pokoknya saja".
Bencana ini sebenarnya sudah datang pertengahan tahun lalu. Ketika itu bisnis Add Farm mulai goyah. Investor baru yang berminat menanamkan modal anjlok hingga 50 persen. Padahal, dana titipan investor telanjur ditanamkan Add Farm untuk investasi lain yang tak terkait dengan bisnis inti. Salah satunya, misalnya, malah dibelikan hotel dan digunakan untuk membangun resor di Cirebon.
Direktur Utama Add Farm, Ade Suhidin, hingga kini tak tentu rimbanya. Kantornya di Menara Kadin, Jakarta, hanya dipenuhi investor yang resah dan beberapa pegawai. Sementara itu, rumahnya di Jalan Taman Patra XIV, Kuningan, Jakarta, pun kosong-melompong. Pekan lalu, polisi Cirebon telah memanggilnya dan memulai pemeriksaan.
Juru bicara Add Farm, Haposan Tampubolon, mengatakan tak tahu di mana bosnya berada kini. "Kemungkinan di Cirebon," ujarnya. Menurut dia, Ade menjamin akan mengembalikan seluruh dana milik investor. "Sekarang dia lagi berusaha mencari dana talangan Rp 100 miliar lebih," ujarnya. Ke mana mencarinya, tak jelas. Haposan cuma menyebut sejumlah aset milik Add Farm bisa dijual untuk menutup kewajiban mereka. "Kami masih memiliki aset kantor dua lantai di Menara Kadin, Hotel Karisma di Cirebon, dan lahan peternakan," ia menjelaskan. Peternakan mereka juga, kata dia, masih menyimpan ratusan ribu ekor itik.
Benarkah? Berdasarkan pengamatan TEMPO, nilainya tak sebesar itu. Di lokasi peternakan di Cirebon dan Indramayu, jumlah itik kini tak lebih dari 10 ribu ekor. Salah satunya yang di Cikulak dan Kalipusang, Cirebon, malah sudah lama tak beroperasi.
Menurut Kepala Dinas Peternakan Cirebon, A.B. Glenarto, bisnis Add Farm sejak awal memang telah bermasalah. Karena itulah, perusahaan yang telah menghimpun dana masyarakat hingga ratusan miliar rupiah ini belum beroleh izin operasi. Ia telah berkali-kali memanggil pengelola. Tapi tak sebatang hidung pun mereka muncul.
Ali Nur Yasin
|