Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXXII/03 - 9 Maret 2003
   
Agama

Dewi Tersandung Omkara

Penggunaan simbol Omkara pada sampul novel Supernova kedua diprotes kaum muda Hindu. Beberapa cendekiawan Hindu bersikap datar-datar saja.

Dua telepon genggam Dewi Lestari selalu memperdengarkan mesin penjawab bila dihubungi, Jumat pekan lalu. Hari itu penyanyi dan novelis pop asal Kota Bandung tersebut sibuk menyiapkan tanggapan terhadap protes atas penggunaan simbol Omkara dalam sampul novel karya Dewi berjudul Supernova episode Akar. Dia diburu wartawan. "Dewi dikerubuti banyak wartawan di Fashion Café. Makanya teleponnya dimatikan terus," kata Aries R. Prima, Direktur Bisnis Bark Communication, yang memasarkan novel Akar.

Protes ke alamat Dewi dilayangkan Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD), sebuah ormas Hindu yang kebanyakan aktivisnya mahasiswa. FIMHD berpendapat bahwa simbol Omkara (AUM) adalah aksara suci dalam agama Hindu. Mereka keberatan atas pemakaiannya untuk sampul buku yang tak bersangkut-paut dengan Hindu. Menilai perbuatan Dewi merupakan pelecehan terhadap agama Hindu, mereka menuntut agar Dewi mengganti gambar sampul dan menarik buku yang masih menggunakan simbol Omkara dari peredaran. Batas waktu yang dipatok sebulan.

Tersandung protes, pihak Bark Communication terpaksa menghentikan pencetakan kedua novel Akar yang dijadwalkan pekan ini. Padahal sambutan pasar positif. Cetakan pertama, yang diluncurkan November 2002 sebanyak 25 ribu eksemplar, laris manis di pasar. Tak hanya itu, pihak Bark dan Dewi sibuk berkonsultasi ke beberapa ahli Hindu menyangkut Omkara.

Walau belum menerima surat protes itu dan hanya mengetahui dari pers, pihak Bark dan Dewi segera melayangkan siaran pers, Jumat lalu. Isinya, antara lain, permintaan maaf ke pihak-pihak yang keberatan atas penggunaan Omkara pada novel Akar. "Tidak ada niat kami untuk melecehkan budaya dan agama tertentu dengan pencantuman lambang suci tersebut," kata mereka dalam pernyataan itu. Lebih jauh mereka menyatakan bahwa niat awal mereka bahkan ingin "meninggikan" lambang tersebut, karena tokoh utama dalam novel adalah seorang Buddhis.

Akar mengisahkan perjalanan spiritual tokoh utama bernama Bodhi yang beragama Buddha dan mempunyai bakat supernatural sejak kecil. Kemampuan itu misalnya melayang di udara, melihat mikroorganisme yang tak terlihat oleh mata biasa, dan mengetahui pikiran manusia lain dan binatang. Bodhi, yang suka melancong, bertemu dengan tokoh-tokoh tak terduga di perjalanan.

Ada Guru Liong yang mengasuh Bodhi dan mengajarinya ilmu bela diri wushu. Ada Kell yang ahli tato dan menjadi tokoh bayangan Bodhi. Ada cewek cantik dari Hollywood bernama Star yang memberi Bodhi pengalaman seksual yang tak tepermanai. Simbol Omkara muncul di halaman novel yang mengisahkan adegan kematian Kell, yang dianggap Bodhi sebagai bayangannya. "Sahabatku digondol kemerduan kekal yang hadir tanpa lantun. Kemerduan yang belum saatnya kuleburi, tapi dia sudah. Sekarang, dia sudah. Om. Karena cuma itu yang kutahu," kata Bodhi.

Apa sebenarnya lambang Omkara dan aksara (kata suci) Om itu? Wakil Ketua Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Ketut Wiana, menjelaskan bahwa Om berasal dari tiga kata: AUM. Ini rangkuman dari tiga kata suci Ang-Ung-Mang yang merupakan Tri-Sakti, yaitu Tuhan sebagai pencipta, Tuhan sebagai pemelihara, dan Tuhan sebagai pelebur. Rangkaian kata AUM itu lalu diwujudkan dalam simbol Omkara. Umat Hindu memasang simbol itu di tempat-tempat strategis seperti di pintu masuk atau di tempat suci. Aksara Om juga dipakai dalam agama Buddha, karena Sidharta Gautama yang setelah mendapat pencerahan dan menjadi Buddha dikenal sebagai awatara (avatar) dalam ajaran Hindu.

Tak mengherankan bila cendekiawan Hindu seperti Made Raka Santeri, Ketut Wiana, dan Ketua PHDI Provinsi Bali Made Artha bersikap datar-datar saja dalam menanggapi penggunaan simbol Omkara dalam novel Akar. Menurut mereka, Omkara merupakan simbol yang sifatnya universal. "Jika Omkara dikutip dalam konotasi negatif, jelas umat Hindu akan merasa dilecehkan," kata Raka Santeri. Tetapi, kalau untuk tujuan positif, justru menjadi baik, siapa pun pemakainya.

Kini umat Hindu banyak menggunakan simbul itu bukan pada alat-alat keagamaan. Gitaris Gigi Dewa Bujana menempelkan stiker Omkara di gitarnya, begitu pula banyak orang Hindu yang menempelkan stiker Omkara di mobilnya. "Asal jangan Omkara dijadikan merek sandal jepit, kesannya menghina karena diinjak," kata Made Artha, menyebut contoh yang pernah meresahkan masyarakat Bali Utara karena ada sandal bermerek Omkara. Akan halnya novel Akar, Made Artha dan pemuka Hindu lainnya mengaku belum membaca.

Dewi, yang memang tak hendak menghujat Hindu, memilih bersikap lunak. "Yang penting kita minta maaf dulu, karena ada yang tersinggung," katanya.

KMN, Alit (Bali)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data