|
BANDUL jam baru bergerak ke angka tujuh ketika dua orang pria mengetuk pintu sebuah rumah di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Penghuni rumah agak ragu membuka pintu?tak lazim tetamu datang sepagi itu. Mengaku sebagai pegawai kantor imigrasi, kedua orang itu mengatakan ingin mengecek dokumen keimigrasian tuan rumah?seorang warga Jerman keturunan Arab. Selang beberapa saat, sepuluh lelaki bertubuh tegap menyeruak dari pintu sembari mengokang bedil.
Secepat kilat mereka meringkus pemilik rumah. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai besi. Matanya ditutup kain hitam. Topi kupluk yang mengatup habis kepala hingga lehernya menggelapkan seluruh pandangannya. Dia lalu dibawa ke sebuah tempat entah di mana. Insiden tersebut berlangsung pada suatu pagi, September tahun silam. Pria yang dijemput paksa itu bernama Seyam Reda, wartawan berkebangsaan Jerman kelahiran Mesir. Sedangkan para tamu yang tak diundang itu adalah aparat intelijen dan polisi.
Mereka mencokok Seyam Reda dengan tuduhan bahwa dia adalah tokoh penting dalam jaringan teroris Al-Qaidah. Reda disebut-sebut sebagai junjungan Umar al-Faruq. Al-Faruq sendiri dicomot paksa dari kediamannya di Cijeruk, Bogor, Mei 2002, lalu disetor ke Amerika Serikat. Tuduhan kepada Faruq setali tiga uang: punya hubungan dekat dengan Al-Qaidah dan Usamah bin Ladin. Kuasa hukum Badan Intelijen Negara (BIN), Muchyar Yara, kemudian menyatakan bahwa peran Seyam Reda dalam Al-Qaidah diketahui berkat nyanyian Al-Faruq.
Al-Faruq mengaku?ini versi aparat?dana jaringannya dipasok oleh orang yang bernama Abu Daud. Kalangan intelijen yakin bahwa Abu Daud adalah nama lain dari Seyam Reda. Sangkaan ini kian kuat karena di rumah kontrakan di Pasar Minggu itu aparat menemukan seabrek dokumen yang menarik: 36 kaset rekaman perang di Poso, Ambon, dan Aceh, peta informasi umum soal Indonesia, tiga kamera video, dua unit komputer, dan sejumlah kliping berita kerusuhan dari Ambon, Poso, hingga Aceh.
Dalam rekaman video latihan perang di Poso?menurut pihak intelijen Indonesia?Al-Faruq terlihat tengah memberikan instruksi. Dalam video perang di Ambon, dia aktif di lini depan pertempuran. Bagaimana meyakinkan kebenaran data itu mengingat semua informasi dalam kasus ini cuma datang dari satu sumber: aparat keamanan? Guna menghapus keraguan, rekaman perang di atas diputar di hadapan anggota Komisi II DPR, yang membidangi hukum dan luar negeri. "Abu Daudlah yang mendanai kegiatan Faruq di Poso dan Ambon," kata Muchyar Yara.
Seyam Reda sendiri membantah segenap tudingan itu. Dia mengaku dirinya cuma seorang wartawan lepas yang berniat mendirikan satu kantor berita di Jakarta. Lahir 43 tahun silam di Damilte?sekitar 120 kilometer sebelah selatan Kairo?Seyam mengenyam pendidikan matematika di sebuah perguruan tinggi di Kairo. Mulanya dia ingin menjadi guru. Tapi nasibnya berbelok menjadi pegawai perusahaan ekspor-impor barang elektronik di Kairo. Pekerjaan itulah yang membawanya merantau ke Bonn, Jerman, pada 1994.
Setelah dua tahun di Bonn, Reda dipindahkan selama setahun ke Sarajevo, Bosnia, sebelum pindah ke Riyadh, Arab Saudi. Di situlah Reda mulai bersentuhan dengan dunia jurnalistik. Dia mengambil kursus editing gambar video di kota itu, juga mengikuti pelatihan bagi juru kamera di stasiun televisi Al-Jazeera selama lima bulan. Selepas kursus, dia bekerja sebagai wartawan lepas untuk sejumlah media di Arab Saudi.
Saat bekerja sebagai wartawan lepas, dia berkenalan dengan sejumlah warga negara Indonesia. Dari mereka pula Reda mengenal kisah-kisah tentang Indonesia. Dia datang pertama kali ke Jakarta pada tahun 2001 bersama keluarganya untuk berlibur. "Saya terpikat pada negeri ini. Apalagi mayoritas penduduknya beragama Islam." Bukan Agustus tahun berikutnya, dia muncul lagi di Jakarta. Kali ini dia datang sendirian dengan visa turis.
Tak sampai dua bulan menjejak Jakarta, statusnya berubah menjadi tahanan Markas Besar Kepolisian RI, sebelum ia dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Polisi tidak menemukan bukti keterlibatannya dengan Al-Qaidah ataupun Al-Faruq. Toh, Seyam Reda tetap dihukum bui sepuluh bulan dengan tuduhan pelanggaran dokumen imigrasi?masa kurungannya kini tinggal lima bulan.
Di ruang keamanan Penjara Cipinang, Seyam Reda memberikan wawancara khusus kepada wartawan TEMPO Wenseslaus Manggut, Arif Kuswardono, dan Ahmad Taufik, dua kali dalam dua pekan terakhir. Meladeni perbincangan dalam bahasa Inggris dan Arab, sesekali dia menyeruput sekaleng Pocari Sweat. Reda tidak merokok "karena haram" dan menolak tawaran Coca-Coca: "Itu buatan Amerika. Tidak sehat."
Selama di Cipinang, pria Jerman-Mesir ini mengaku mencoba hidup sehat lahir-batin. Dia melewatkan banyak waktu di masjid untuk berdoa dan merenung, dan merindukan tanah Jerman. "Saya akan segera kembali ke sana," ujarnya di sela-sela wawancara.
Berikut ini petikannya.
Kepada polisi, Anda mengaku sebagai wartawan. Bisa beri contoh beberapa liputan jurnalistik yang pernah Anda kerjakan?
Saya pernah bekerja untuk televisi Al-Jazeera. Juga pada sejumlah media di Jerman, Belanda, dan beberapa negara lain. Sebagai wartawan lepas, saya bisa menjual bahan ke berbagai stasiun televisi.
Apa saja pengalaman Anda? Liputan internasional, misalnya?
Saya belum pernah ke lapangan. Yang saya lakukan adalah menulis berdasarkan kliping media seperti Kompas, TEMPO, Sabili, Republika, dan Media Indonesia. Materi berita itu saya kirimkan ke media-media di Arab Saudi.
Jadi, Anda mengutip semua berita itu dari media massa Indonesia?
Semuanya saya kutip dari media di sini, dari soal Al-Qaidah, Poso, Ambon, bom Bali, sampai Megawati. Saya bukan Superman, yang bisa mencari semua bahan itu seorang diri. Tapi saya menuliskan semua sumber berita yang dikutip. Rencananya, saya akan melakukan reportase sendiri. Itu sebabnya saya menyewa sebuah rumah di Pasar Minggu senilai US$ 14 ribu (sekitar Rp 126 juta) untuk dua tahun.
Menurut intelijen Indonesia, Anda tadinya tinggal di Pulo Mas dan pindah ke Pasar Minggu setelah Umar al-Faruq ditangkap.
Itu tidak benar. Tempat tinggal saya ya cuma di Pasar Minggu itu.
Apa kaitan Anda dengan Umar al-Faruq dan jaringan Al-Qaidah, seperti yang dituduhkan polisi?
Silakan menyebut apa saja yang Anda suka. Faktanya, saya tidak punya hubungan apa pun dengan Al-Faruq. Tudingan keterkaitan saya dengan dia semata-mata berdasarkan materi video yang saya miliki, yang semuanya telah disita oleh aparat. Padahal barang-barang itu saya dapatkan dari orang Indonesia. Tak satu pun yang saya peroleh dari pekerjaan sendiri.
Benarkah dalam kaset-kaset video itu ada tayangan sepak terjang Al-Faruq di Ambon, Poso, dan Aceh?
Saya tidak tahu detail isi video-video itu. Saya sama sekali tidak tahu siapa itu Al-Faruq dan apakah dia ada atau tidak dalam video-video tersebut, seperti halnya saya tidak tahu apakah tuduhan terhadap Umar Al-Faruq itu berdasarkan video saya atau bukan.
Jadi, apa yang Anda tahu?
Saya hanya tahu menerima dan membeli rekaman video itu dari seseorang.Orang itu bilang rekaman itu dia dapatkan dari para pengungsi.
Bisa Anda sebutkan beberapa materi video yang Anda beli dari orang
itu?
Di antaranya liputan tragedi pembantaian di Ambon dan Poso. Di Poso, ada rekaman anak-anak sedang dipotong. Juga 14 orang yang dibunuh oleh orang-orang Ambon. Di dalamnya disebutkan ada keterlibatan militer. Yang menawarkan kaset video itu bernama Agus.
Agus siapa? Apa nama belakangnya?
Cuma Agus, itu nama yang dia kenalkan kepada saya. Dia menemui saya dan menawarkan dengan sopan sejumlah kaset video. Dan saya membelinya.
Oke. Bagaimana mulanya Anda bertemu dengan Agus? Siapa dia sebetulnya?
Saya bertemu dengan Agus secara kebetulan di sebuah masjid di dekat rumah saya di Pasar Minggu. Dia yang pertama kali mendekati saya dan bertanya, "Apakah Anda orang Arab?" Dia mengira saya berasal dari sebuah organisasi di Arab. Agus mengatakan bahwa organisasinya berjuang di Ambon dan di Poso dan mereka membutuhkan uang untuk kegiatan kemanusiaan. Untuk itu, mereka menjual kaset-kaset tragedi di daerah tersebut.
Berapa yang Anda bayar untuk semua kaset video itu?
Saya lupa. Semua dokumen itu saya simpan di sebuah ruang dalam rumah kontrakan di Pasar Minggu.
Pernahkan Anda mengunjungi Poso atau daerah konflik lain di Indonesia?
Tidak pernah. Rencananya, saya akan ke sana. Tapi, dari berita media massa, saya ketahui bahwa daerah-daerah itu berbahaya, sehingga saya mengurungkan niat.
Menurut polisi, saat diperiksa, Anda mengaku pernah ke Aceh.
Saya sama sekali belum pernah ke Aceh. Saya baru mengumpulkan bahan berita soal daerah itu.
Saat ditangkap pada September lalu, apakah Anda diangkut langsung ke Markas Besar Kepolisian RI?
Saya tidak tahu karena mata saya ditutup kain hitam. Saya merasa melewati jalan tol. Setelah satu jam perjalanan, saya diturunkan di sebuah tempat, lalu dimasukkan ke sebuah ruangan berukuran sekitar 1 x 1,5 meter. Saya tak bisa bergerak sama sekali. Tiga hari saya berada di situ. Mereka terus bertanya-tanya, tapi saya tidak mengerti.
Anda tidak mengerti atau menolak menjawab?
Saya tidak menjawab. Lalu mereka mendatangkan seseorang yang bisa berbahasa Arab dan Inggris. Kepada orang ini, saya katakan bahwa saya tak bakal berbicara sebelum ada perwakilan dari Kedutaan Besar Jerman yang mendampingi saya. Mereka marah, lalu mulai menyiksa saya.
Disiksa bagaimana?
Mereka memukul leher, kepala, punggung, dan perut saya. Setelah menghajar saya, mereka meninggalkan saya di ruang sempit itu. Kemudian terdengar musik instrumental yang tidak beraturan, diputar amat keras sampai terasa memekakkan telinga. Tiga hari saya tinggal di ruangan itu.
Setelah itu, Anda ke mana?
Saya dipindahkan ke tempat lain dengan tangan tetap diborgol dan mata ditutup. Lama perjalanannya sekitar 40 menit. Di tempat yang baru itu, mereka lagi-lagi bertanya soal pekerjaan, Umar al-Faruq, dan beberapa hal yang tidak saya mengerti.
Anda menjawab pertanyaan mereka?
Saya tetap bungkam karena belum ada orang dari Kedutaan Besar Jerman. Mereka lalu mengancam bahwa penutup kepala saya tak bakal dibuka jika saya tidak berbicara. Entah kenapa, mereka lalu membuka penutup mata tersebut.
Apa yang mula-mula terlihat setelah tutup kepala Anda dilepas?
Di hadapan saya berdiri seorang perwira menengah polisi. Di dadanya tersemat nama Pranowo. Dia yang meminta agar penutup mata itu dibuka. Pranowo menyodorkan nama-nama yang disebut sebagai teroris: Umar al-Faruq, Abu Bakar Ba'asyir, dan sederet nama lain yang sama sekali tidak saya kenal.
Jadi, Anda mulai mau berbicara?
Saya bilang, saya tidak mengenal orang-orang itu. Saya juga minta agar didatangkan orang dari Konsulat Jerman. Setelah itu, saya dipindahkan ke Markas Besar Kepolisian RI. Keesokan harinya, seseorang dari Kedutaan Jerman bernama Wolfgang Muller datang ke Mabes Polri dan menemui saya. Sejak saat itu, saya mulai menjawab semua pertanyaan polisi.
Bisa ceritakan sebagian materi percakapan Anda dengan polisi?
Polisi bertanya soal rencana pembunuhan Megawati dan pengeboman di malam Natal. Saya jawab saya tidak tahu apa-apa karena memang begitulah faktanya. Karena mereka tidak menemukan bukti keterkaitan saya dengan aksi para teroris, akhirnya saya cuma dikenai pasal-pasal yang berkaitan dengan pelanggaran imigrasi.
Benarkah tuduhan soal imigrasi itu?
Jelas saya membantah! Saat saya ditangkap, masa tinggal saya kan belum habis. Dan saya belum bekerja, berbisnis, atau melakukan kegiatan jurnalistik apa pun di Indonesia. Yang saya lakukan hanyalah mempersiapkan rumah untuk tinggal.
Tapi bukankah visa Anda memang bermasalah? Anda masuk dengan visa turis, tapi berniat bekerja. Apakah tidak menghitung risikonya?
Saya datang kemari dengan visa turis. Waktu itu, saya menganggap mengurus visa kerja memerlukan waktu yang lama. Jadi, saya berniat cuma dua bulan di sini, lalu pulang menjemput anak-istri di Jerman sekaligus mengurus visa kerja.
Lalu mengapa Anda berani membuka kantor segala dengan berbekalkan visa turis?
Saya kan cuma menyiapkan rumah, bukan kantor. Di Jerman, saya terbiasa bekerja di rumah. Itu sebabnya di rumah kontrakan di Pasar Minggu itu saya menyiapkan ruang kerja bagi saya sendiri. Tapi saya dianggap menyiapkan kantor dan melanggar aturan imigrasi. Yang saya sesalkan, alat kerja saya hilang semua.
Apa saja, misalnya?
Kamera digital, beberapa komputer?ada yang khusus untuk editing video. Saya kehilangan semua itu. Polisi juga mengambil uang Rp 25 juta dari boks uang saya berikut laptop.
Jadi, semuanya hilang? Mengapa tidak mengeceknya di laporan polisi?
Di laporan polisi, saya lihat barang-barang itu tidak ada. Sedangkan polisinya mengaku tidak tahu-menahu. Padahal banyak barang di rumah saya. Saya tanya kepada pengacara saya. Menurut dia, barang-barang itu sudah tak ada di rumah kontrakan. Kabarnya, disimpan di kejaksaan. Betul atau tidak, saya juga belum tahu.
Informasi aparat Indonesia menyebutkan Anda menyimpan selebaran soal Al-Qaidah dan fundamentalisme di Indonesia. Apa betul?
Itu materi dari surat kabar. Saya baca Kompas, TEMPO, dan sejumlah media lain. Apa itu dilarang? Saya baca sejumlah hal yang saya suka dan yang berhubungan dengan pekerjaan saya sebagai wartawan.
Menurut Anda, mengapa Anda ditangkap?
Ketika saya menyewa rumah (di Pasar Minggu), saya melapor ke pos polisi di dekat rumah. Saya beritahukan nama saya, paspor, dan visa saya. Mungkin mereka tahu tentang saya dari situ. Tapi saya tidak punya maksud apa-apa. Saya pikir, sebagai orang asing, saya harus melapor demi keamanan pribadi saya.
Lantas mengapa Anda diperlakukan seperti ini?
Saya tidak tahu mengapa saya diperlakukan seperti penjahat dan teroris di Guantanamo. Bukan hanya tangan saya yang mereka rantai, tapi juga kaki saya.
Anda dituduh sebagai teroris dan menjadi bagian dari jaringan Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin. Anda punya komentar?
Saya bukan teroris. Saya tak mengenal mereka. Saya hanya tahu mereka dari media yang saya baca, saya dengar, dan saya lihat. Begitu juga orang-orang yang dituduh sebagai teroris di Indonesia. Saya tahu tentang mereka hanya dari media massa. Saya bukan bagian jaringan Al-Qaidah-nya Bin Ladin. Coba buktikan kalau saya bagian jaringan mereka. Itu cuma omong kosong dan fitnah yang dibuat-buat.
Omong-omong, apa betul Anda menikah dengan gadis Indonesia?
Tidak. Saya cuma punya dua orang istri. Yang pertama tinggal di Riyadh, Arab Saudi, dengan lima orang anak. Abdurrahman, anak saya yang terkecil, bahkan lahir bulan Desember lalu, setelah saya ditahan di Indonesia. Istri kedua saya orang Jerman keturunan Albania. Dia tinggal di Jerman. Dengan dia, saya tak punya anak. Saya sebenarnya suka di Indonesia dan ingin bekerja di sini. Tapi semua pengalaman ini membuat saya merasa kecewa.
Seyam Reda:
Tempat dan tanggal lahir:
- Damilte, Mesir, 4 Januari 1960
Pendidikan:
- Sekolah dasar dan sekolah menengah di Damilte, Kairo
- Belajar matematika di sebuah perguruan tinggi di Kairo
- Kursus editing video di televisi Al-Jazeera, Qatar
Pekerjaan:
- Pegawai perusahaan ekspor-impor di Kairo, Mesir, 1986
- Pegawai perusahaan ekspor-impor di Bonn, Jerman, 1994
- Pegawai perusahaan ekspor-impor di Sarajevo, Bosnia, 1996
- Pegawai perusahaan ekspor-impor di Riyadh, Arab Saudi, 1999
- Wartawan lepas sejumlah media massa di Arab Saudi serta stasiun
televisi Al-Jazeera di Qatar
|
|