Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXI/24 Februari - 02 Maret 2003
   
Seni

Cap Go Meh, Glodok, dan 'Tangsin'

Setelah 40 tahunan absen, Glodok kembali mengadakan prosesi karnaval Cap Go Meh secara besar-besaran.

"Ma, itu dewa apa?"

Di antara ribuan penonton yang berdesak-desakan di sekitar Museum Fatahillah, pada arak-arakan Cap Go Meh minggu lalu, gadis kecil bermata sipit itu bertanya kepada ibunya.

Jarinya menunjuk seorang laki-laki bertelanjang dada, bercelemek merah, yang bersama patung-patung suci ditandu puluhan laki-laki. Laki-laki itu menyayat lidahnya dengan pedang. Lalu mengayun-ayunkan pedangnya ke muka seolah-olah menebas rintangan jalan

Para lelaki itu dalam bahasa Cina disebut "tangsin", yang artinya badan kasar tempat bersemayamnya roh para dewa. Ada kepercayaan di kalangan Tionghoa bahwa para dewa yang memberi rezeki berlimpah, kesejahteraan, kebahagiaan hidup seperti Nacha (dewa rezeki), Seng Kong (dewa pengusir ilmu jahat), dan Kwan Kong (dewa kesetiaan) dapat dimediumkan pada tubuh seseorang.

"Jangan berebut, jangan berebut. Semua dapat," teriak para ceng (suhu) ketika para tangsin itu membagikan azimat di atas kertas yang ditulis dengan darah lidah mereka. Tapi, orang-orang merangsek liar sehingga tandu agak doyong. Mereka percaya, jimat itu bisa untuk menangkal bahaya, menambah rezeki.

Kawasan Glodok pada Minggu 16 Februari itu betul-betul meriah. Inilah arak-arakan Cap Go Meh pertama di jalanan raya, semenjak tahun 1950. Naga, liong dari Sukabumi dan Tangerang, barisan delman Cici dan Koko, None-Abang Jakarta mengular. Start dimulai pukul 14.00 dari Wihara Toa Se Bio, Jalan Kemenangan III No. 48, kemudian menuju bilangan Toko Tiga, Jakarta Barat, Jalan Pintu Kecil Raya, Jalan Asemka, Jalan Pintu Besar Utara, dan sebentar berhenti di Taman Fatahillah.

Di situ sepuluh jangkungan, rombongan reog Ponorogo, ondel-ondel, dan tanjidor bergabung. Dan arak-arakan bergerak kembali menuju depan Stasiun Kota, terus ke Jalan Pintu Barat Selatan, Jalan Hayam Wuruk, berputar di Jembatan Olimo, Mangga Besar, menuju Jalan Gajah Mada, dan masuk kembali ke Jalan Kemenangan pukul 18.00 WIB.

Puluhan ribu masyarakat Tionghoa di sepanjang jalan tampak antusias. Mereka bahkan berdiri di atas gedung-gedung, jalan tol yang menyilang jalan, atap mobil, atau apa pun yang membuat pandangan mereka leluasa menjelajahi jalanan. Di sini, tak syak "bintang lapangan" adalah para tangsin. Setiap lewat, para keturunan Tionghoa itu mengatupkan kedua tangan-seolah bersembahyang. Di Singkawang, Kalimantan, Medan, atau Menado, tradisi arak-arakan tangsin berlangsung terus selama Orde Baru. Tapi di Jakarta tidak, kecuali sebatas lingkungan wihara sendiri. Tahun lalu arak-arakan Cap Go Meh hanya mengambil rute Wihara Toa Se Bio sampai Wihara Petak Sembilan, yang berjarak kurang-lebih cuma satu kilometer.

Para tangsin yang ikut pawai itu berasal dari Wihara Lo Chia Bio, sebuah kelenteng yang didirikan kalangan masyarakat Tionghoa Menado di bilangan Bukit Duri, Jakarta. Di Menado terdapat tradisi unik untuk mengetahui dewa apa yang masuk ke raga para tangsin. Ketika lok (istilah untuk roh masuk), para tetua wihara akan melihat gerak kaki, tangan, dan ekspresi si tangsin. Kemudian mencocokkan dengan anatomi gaya patung-patung dewa di kelenteng.

Bila seorang tangsin mengelus-elus dan menggaruk dagunya seolah memiliki janggut panjang dan lalu memesan minum arak, orang kelenteng pun mafhum bahwa ia kemasukan Dewa Kwan Kong. Sebab, patung Kwan Kong memiliki janggut lebat dan di dalam cerita-cerita ia dikisahkan memiliki hobi minum.

Atau, bila kakinya melompat diangkat satu, para pengurus segera berseru: "Nacha, Nacha," karena patung Nacha dikenal satu kakinya diangkat, dan kaki lainnya menginjak bola api. Sementara itu, jika tangan kanannya mengepal lurus ke depan dan yang kiri di dada memegang tombak, orang segera paham dia dirasuki Dewa Lo Chian. Sebab, bila kita lihat patung Lo Chian, demikian jugalah posisi tangannya.

Tiap dewa ada tingkatan-tingkatannya. Ada Nacha fase muda, fase tua, atau fase panglima langit, saat tingkat spiritualitasnya telah pada puncak. "Juga Lo Chian. Sebelum bernama Lo Chian, dia bergelar Er Lang Sen. Sebelum diberkati, ia bernama Mata Tiga. Ketika sudah naik ke langit, ia bernama Ngo Keng Tai Te," kata A Leng, 58 tahun, pengurus Lo Chia Bio. Nah, yang masuk ke diri para tangsin itu juga bertahap-tahap. Itu menentukan tingkat spiritualitas tangsin tersebut.

Untuk Cap Go Meh ini para tangsin dikarantina selama 49 hari di dalam wihara dan tidak boleh memikirkan hal-hal keduniawian. Termasuk dilarang bertemu dengan anak, istri, atau keluarga. Selama itu para tangsin menjadi vegetarian dan rutin membaca kitab suci. Glodok, yang sehari-hari dikenal sebagai pusat bisnis dan keremangan malam, hari itu tiba-tiba menjadi "unik": para tangsin turun ke jalanan.

Seno Joko Suyono, Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data