Setelah Sepatu Melayang Di balik keramahannya, Alex Ferguson dikenal sebagai manajer yang keras. Konflik sering meletup, termasuk dengan David Beckham. |
GOL itu dirayakan dengan emosional. Tak hanya menonjokkan tangannya ke langit, David Beckham pun langsung memutar dua bola matanya menatap Sir Alex Ferguson. Namun, manajer Manchester United ini tak melihatnya. Dia asyik jejingkrakan, larut dalam kegembiraan atas gol yang dibuat Wes Brown pada saat permainan baru berlangsung tiga menit.
Malam itu David Beckham benar-benar menjadi bintang di Old Trafford, kandang Manchester United (MU). Dua gol Setan Merah lahir akibat operan matangnya. Melawan Juventus dalam ajang Piala Champions, Beckham bermain dengan kesetanan. Umpan-umpan segar mengalir dari kaki kanannya. Napasnya pun seperti tak pernah habis. Bahkan di menit terakhir, saat kakinya terpincang-pincang akibat disikat Edgar Davids, pemain Juventus, ia ogah digantikan.
Permainan gemilang itu seolah menjawab gosip yang meruap gara-gara insiden di kamar ganti klub kaya ini. Rumornya, si tendangan lengkung itu akan segera hengkang dari Old Trafford. Dikabarkan pula, Arsenal—musuh bebuyutan MU—telah menyiapkan duit sekitar Rp 400 miliar untuk melamar Beckham. Insiden itu terjadi akibat kekalahan mereka dari Arsenal dalam lanjutan perebutan Piala FA, Ahad pekan lalu. Kalah di rumah sendiri membuat Fergie mengamuk. Sepatu pun melayang dan menabrak pelipis kiri Beckham.
Perseteruan Beckham dengan Ferguson ini bukan kejadian pertama. Dua tahun silam, hubungan mereka juga sempat tegang. Karena telat berlatih, Fergie ogah menurunkan sang bintang saat duel melawan Leeds United. Waktu itu pun sempat tersiar kabar ia akan minggat dari Manchester.
Sadar insiden kali ini akan menjadi rumor yang beranak-pinak, keduanya buru-buru kompak lagi. "Aku yakinkan, hubungan kami dengan Fergie baik-baik saja. Kejadian di ruang ganti itu sudah berlalu," kata Beckham. Sang manajer pun menyatakan peristiwa seperti itu tidak akan terulang lagi.
Ketegangan gampang mereda lantaran hubungan keduanya sebelumnya memang lengket. Fergie mengenal Beckham saat dia masih bercelana pendek. Dan hubungan mereka tidak sekadar pemain dan manajer. Dalam biografinya, My World, Beckham menulis bahwa Fergie merupakan satu-satunya orang di luar keluarganya yang diberi tahu soal rencana pernikahannya dengan Victoria Adams, eks anggota Spice Girls. "Karakter Fergie itu tak jauh beda dengan ayahku," katanya.
Berperan sebagai ayah atau sebagai teman mengobrol, itu agaknya yang membuat para pemain menghormatinya. Hal itu pula kemudian yang membuat pemain bengal macam Eric Cantona pun kerasan di klub itu. Padahal, siapa pun tahu Cantona merupakan trouble maker yang terkenal. Wataknya sulit dikendalikan. Sampai-sampai Aime Jacquet, pelatih Prancis dalam Piala Dunia 1998, enggan menaruhnya dalam skuad inti tim Ayam Jago itu.
Namun, Ferguson berani melawan arus. Saat Cantona terkena kasus tendangan kungfunya pada pendukung Crystal Palace delapan tahun silam, yang kemudian membuatnya harus dihukum dilarang tampil selama enam bulan, Fergie sama sekali tidak menyudutkannya. Semuanya dipendam dan hanya menjadi konsumsi dirinya dan Cantona.
Pun demikian saat David Beckham dikartumerahkan dalam Piala Dunia 1998 di Prancis. Ketika itu manajer tim Inggris, Glenn Hoddle, ikut menyalahkan Beckham, yang terprovokasi oleh ulah Diego Simeone. Sontak Fergie marah besar. Baginya, seorang manajer semestinya tidak menempatkan pemainnya sebagai obyek kemarahan publik.
Hanya, Fergie, yang dikenal dengan sebutan hairdryer—karena omelannya yang kerap bikin kuping panas—bertindak kontroversial saat menjual Jaap Stam, palang pintu Manchester United, ke Lazio pada Agustus 2001. Sebab, Stam termasuk pemain belakang terbaik dunia dan merupakan salah satu pemain pilar klub itu.
Banyak orang beranggapan pemecatan itu dipicu karena pernyataan Stam dalam buku autobiografinya, Head to Head, yang memaparkan tingkah laku para pemain Manchester United. Tapi, Fergie punya dalih, penjualan dilakukan karena si jangkung tidak memenuhi standar permainan terbaiknya.
Kekerasan dan keramahan bak sisi mata uang dalam diri Ferguson. Menurut dia, itu semua agar pemainnya memiliki mental baja. "Mereka harus bisa menangani semua hal, termasuk wartawan dan tekanan dari suporter," ujarnya.
Irfan Budiman
|