Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXI/24 Februari - 02 Maret 2003
   
Nasional

Api Telah 'Merenovasi' Tanah Abang

Bukan sekali ini pasar pakaian terbesar Asia Tenggara itu terbakar, tapi sarana pengamanan tetap saja langka di sana—juga di pasar yang lain.

HAJAH Nurcahya, 68 tahun, sejak Kamis pekan lalu harus mengubah kebiasaannya. Lazimnya, tiap pukul 08.30 pagi, Ama—begitulah warga Kebon Pala itu dipanggil, dan begitu pula ia membahasakan dirinya—sudah melangkah dari rumahnya menuju tokonya di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun, sejak si jago merah melahap kiosnya Rabu pekan silam, ia menjadi goyah.

"Waktu anak saya membangunkan, saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Biasanya sepagi itu Ama sudah membuka toko, tapi kini toko sudah habis. Saya bingung mau ngapain," ujar ibu tujuh anak itu dengan bola mata berkaca-kaca.

Ama amat pantas bersedih. Tujuh kios milik anak-anak dan adiknya ludes dimakan api. "Satu toko, isinya saja, sekitar Rp 300 juta. Jadi, semuanya lebih dari dua miliar rupiah," tuturnya. Pedagang tekstil ini merintis usahanya dari bawah. Ia sudah membuka kios sejak Pasar Tanah Abang mulai berbentuk bangunan kukuh pada 1975.

Saat api mulai melahapi bangunan pasar, Ama mengaku sedang termenung menunggu kios yang sepi pembeli. "Hari itu sekitar pukul setengah satu siang. Saya baru dapat Rp 500 ribu. Tiba-tiba datang kuli-kuli pasar mengingatkan agar segera pergi karena ada kebakaran," ceritanya. Asap sudah memenuhi lorong-lorong. Asal api ternyata berdekatan dengan kios Ama—dari gardu listrik yang mengalami korsleting—hanya berjarak 200 meter. "Padahal sudah sering terjadi korslet di gardu itu. Herannya, tak pernah diperbaiki dengan serius," tutur Ama, menyesali.

Tak sepotong pun barang Ama terselamatkan. "Karena asap yang hitam dan api begitu cepat membakar, saya hanya bisa menonton dengan sedih dari Jalan Wahid Hasyim," ujarnya. Bahkan ia sempat melihat masjid di tingkat atas ambruk. Tidak ada hidrankah di dekat situ? "Ada, tapi sudah karatan dan tidak keluar airnya," kata Ama, kesal. Katanya, di Tanah Abang, asal ada uang, orang bebas membangun kios di mana saja. "Jadi, ya, semrawut."

Kepala Dinas Kebakaran DKI Jakarta, Johnny Pangaribuan, pun mengeluhkan hal sama. "Pasar Tanah Abang telah overload. Tak ada ruang untuk bergerak. Mestinya jumlah pedagang setengah jumlah sebelum terbakar. Akibatnya, petugas yang ingin masuk susah, asap terkurung dan menyebar dalam ruangan," katanya.

Tak aneh, saat kebakaran, sekitar 5.700 kios, meliputi Blok A, B, C, D dan (sebagian) Blok E, dilalap mentah-matang. Api susah dipadamkan. Padahal Blok A—tempat awal kebakaran yang berlantai empat dengan 2.742 kios—tak jauh dari tempat mangkal barisan pemadam kebakaran cabang Pasar Tanah Abang, yang berada di depan Blok B. Saking semrawutnya penataan kios di pasar kain dan pakaian terbesar di Asia Tenggara itu, kebakaran lanjutan di berbagai tempat masih terjadi hingga Jumat siang pekan kemarin.

Johnny mengakui hidran air di pasar itu banyak tak berfungsi. "Ada 34 hidran beserta pompanya, tapi tak satu pun keluar airnya. Yang berada di luar bangunan juga berkondisi sama, kering. Pompa-pompa juga tidak dirawat sehingga tidak berfungsi," ujarnya.

Menurut dia, tiga bulan sebelumnya ia sudah meminta kepada pengelola pasar, Perusahaan Daerah Pasar Jaya, agar memperbaiki peralatan pemadam api itu. "Tapi mereka cuek saja. Padahal terus terang Pasar Tanah Abang adalah bangunan yang paling saya takuti jika terjadi kebakaran. Sebab, saya tahu, kondisi dan sarananya mengkhawatirkan," ujar Johnny. Pasar lain yang sama rawannya adalah Pasar Jatinegara, Senen Blok 3, Kramat Jati, Hayam Wuruk (Lindeteves), dan Blok M.

Sudah kondisi peralatannya jelek, Pasar Tanah Abang juga tak punya petugas Pasar Jaya yang khusus menangani kebakaran. Pasar ini, menurut Johnny, terakhir diaudit pada 1997, dan hasilnya: kondisinya amat memprihatinkan. "Jika ketentuan standar dipenuhi, sebenarnya petugas tak perlu naik ke gedung memikul alat pemadam, karena peralatan sesuai dengan standar sudah mencukupi. Kalaupun terjadi kebakaran, segera bisa dilokalisir," katanya.

Sikap masa bodoh pengelola pasar itu dalam memenuhi standar pengamanan memicu bau tak sedap: pasar kain dan pakaian ini sengaja dibakar. Apalagi, beberapa pekan sebelum kebakaran beredar daftar permohonan persetujuan renovasi pasar dari pedagang. "Memang beredar daftar permohonan persetujuan dengan kop surat berlambang banteng bulat dan nama sebuah yayasan. Tapi banyak pedagang menolak renovasi pasar dalam waktu dekat," kata Syafruddin, 60 tahun, pemilik kios tekstil korban kebakaran.

Namun, Kepala PD Pasar Tanah Abang, Buhar Tambunan, membantah tudingan kesengajaan pembakaran pasar kelolaannya. "Waduh, saya jadi kaget nih," kata Buhar. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga membantah ada unsur kesengajaan dari aparat Pemda DKI untuk menjadikannya lautan api. "Apa tujuan kita membakar fasilitas seperti itu? Tidak masuk akal itu," ujarnya kepada wartawan usai mengikuti silaturahmi keluarga besar TNI AD di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, pekan lalu. Dalam dugaan sementara, begitu Sutiyoso, hubungan pendek listrik adalah penyebab terbakarnya pasar grosir itu.

"Agar tidak menimbulkan spekulasi yang beragam, kami menyerahkan kepada aparat kepolisian untuk menyelidikinya. Kalau bisa membuktikan ada yang membakar, ya, silakan saja diseret ke muka hukum," kata bekas Panglima Daerah Militer Jaya itu.

Toh Sutiyoso tidak membantah soal rencana renovasi pasar itu dalam waktu dekat. "Lokasi yang terbakar sekarang sebenarnya sudah direncanakan direnovasi dan ditambah lantainya. Kios-kios juga akan dipasangi AC. Tidak seperti sebelumnya, yang tanpa pendingin sehingga udara di dalam sangat pengap. Dananya sudah ditetapkan dalam APBD 2003," katanya. Program renovasi itu, kata Bang Yos, telah disepakati para pedagang Pasar Tanah Abang. "Renovasi akan dilakukan pada masa berakhirnya hak pakai kios pada 2004. Renovasi direncanakan akan mulai dilaksanakan pertengahan 2003, yang meliputi perbaikan tempat, pengadaan lift dan eskalator, serta fasilitas lainnya. Dan itu telah disetujui direksi," ia menambahkan.

Bahkan Wali Kota Jakarta Pusat, Khosea Petra Lumbun, sudah punya rencana terinci penataan kawasan Tanah Abang secara menyeluruh. Menurut dia, buat menertibkan seluruh kawasan itu, Pemerintah Kota Jakarta Pusat membuat proyek "Sentra Bisnis Primer Tanah Abang". Kawasan seluas 100 hektare itu akan ditata lebih rapi dan bebas pedagang kaki lima. Ia akan disulap menjadi kawasan bisnis modern dengan meniadakan hunian di sekitar pasar. Di sana nantinya akan berdiri pergudangan, hotel, pusat hiburan, kantor ekspedisi, kios modern, dan kios pedagang kaki lima.

"Lahan parkir seluas 1.000 meter nantinya menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima. Tapi mereka berdagang mulai pukul 18.00 sampai tengah malam. Tak ada pedagang kaki lima yang berjualan siang hari di sana," ujar Lumbun. Ia menyebut perkiraan dana pembangunannya: Rp 50 miliar.

Riwayat Pasar Tanah Abang bermula sejak 1735. Ketika itu Justinus Vinck, pengusaha Belanda yang kaya-raya, membangun pasar transaksi tekstil dan sayuran yang dinamai Weltervreden—"Pasar Sabtu". Dan lima tahun kemudian, untuk pertama kali pasar ini terbakar, bersamaan dengan pembantaian orang Cina. Baru dibangun kembali tahun 1881, sejak itu hari pasarannya menjadi dua kali seminggu, Rabu dan Sabtu. Lalu, pada 1926, pasar yang sama direnovasi menjadi pasar modern dengan mendirikan tiga los panjang berdinding bata dan beratap genting. Tahun 1975, pemerintah merenovasi ulang pasar tersebut dengan membongkar sekolah dan taopekong (kelenteng) Cina. Awalnya, dibangun 4.351 kios dengan luas total 11.154 meter persegi. Namun, kemudian luas areal menjadi 39.300 meter persegi dengan luas bangunan 82.386,5 meter persegi (7.546 kios). Kini sewa kiosnya beragam, mulai Rp 25 juta sampai Rp 90 juta setahun.

Terbakarnya Pasar Tanah Abang tidak saja ditangisi pedagang dan konsumen dari Indonesia, tapi juga para pedagang dari Afrika yang kehilangan dagangan relatif murah. David Johnson, pedagang pakaian jadi dari Nigeria, mengaku syok atas musibah itu. "Saya tak menyangka kios tempat saya mengambil barang ludes terbakar," katanya. Pulang ke negerinya tanpa belanjaan, ia merasa merugi.

Taufiq Kiemas, suami Presiden Megawati Soekarnoputri, dan sejumlah menteri pun bergegas meninjau lokasi kebakaran segera setelah dilahap api. Bahkan kabarnya lahan milik BPPN di Waduk Kebon Melati, di belakang bekas Hotel Kartika Plaza yang berdekatan, yang dulunya milik Bambang Trihatmodjo, siap dijadikan lahan penampungan sementara pedagang korban kebakaran. "Asal para pedagang itu mau ikut aturan," kata Wali Kota Lumbun, yang pekan lalu sempat bersitegang dengan mereka. Dan asal pejabat pemda dan pengelola pasar rajin mengontrol.

Ahmad Taufik, Bagja Hidayat, Djadjang Jamaluddin dan Juli Hantoro (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data