Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXI/24 Februari - 02 Maret 2003
   
Nasional

Elite tapi Terjepit

JARAK antara jadi pahlawan dan setan ternyata hanya setipis kulit ari ibaratnya. Lihat saja Anang Sumpena. Sebagai anggota Gegana, pasukan khusus dari kesatuan elite polisi Brigade Mobil (Brimob), dia adalah salah satu elite dari yang paling elite. Ajun komisaris polisi itu punya tugas mulia: menjinakkan bom. Sampai kemudian narkotik memperbudaknya, dan menyeretnya ke perbuatan yang sulit dibayangkan: meledakkan gedung milik korpsnya sendiri.

Tapi, bahkan jika semua tudingan kepadanya terbukti, aksi Anang Sumpena sebenarnya cuma satu dari segudang aksi kriminal yang melibatkan anggota Brimob. Impitan ekonomi dan tekanan pekerjaan membuat mereka rentan godaan.

Pekan lalu, seorang polisi berpangkat bhayangkara satu (bharatu) ditangkap karena menembakkan senjatanya secara membabi-buta dan membuat satu nyawa melayang. Mantori namanya. Berpakaian preman, dia sering mengutip uang dari bandar judi togel murahan yang semestinya justru dia tangkap.

Di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Mantori tersinggung gara-gara Rico, seorang bandar, hanya memberinya uang kutipan Rp 5.000. Dan dia lebih marah ketika Rico menanyakan kartu anggota Polri agar Rico bisa memberi uang kutipan lebih banyak. "Ini kartu anggotaku," kata Mantori sambil mengokang senjata AK-74 miliknya. Dor! Peluru bersarang di paha kiri Rico. Bunyi tembakan membuat warga setempat berdatangan. Merasa terkepung, Mantori malah membabi-buta. Ketika asap mesiu berangsur lenyap, drama ini berakhir dengan penangkapan Mantori. Namun dua warga lagi sudah terkapar, satu meninggal seketika.

Daftar ini akan bertambah panjang bila kita mau membuka lembaran silam, setidaknya di Jakarta. Tahun lalu, misalnya, Bharada Ali Sianturi ditangkap karena memimpin sebuah komplotan perampok yang kejam dan ganas. Setahun sebelumnya, tujuh orang polisi diberhentikan dengan tidak hormat karena alasan desersi dan aneka pelanggaran. Tiga dari mereka adalah anggota Brimob. Sebagai catatan penting, pada saat yang sama, 204 orang polisi lainnya berada dalam status terancam diberhentikan tidak hormat.

"Bila tetap melanggar, nasib mereka akan sama dengan yang tujuh ini," kata Makbul Padmanagara, yang masih menjabat Wakil Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya ketika melucuti seragam tujuh polisi yang dipecat beberapa waktu lalu. Makbul kini Kepala Polda Metro Jaya.

Angka ratusan tadi bahkan hanya angka untuk Jakarta. Para desertir Brimob di daerah konflik Aceh dan Maluku, yang ditengarai berjual-beli senjata dan narkotik, di luar catatan ini.

Mengapa para polisi terbaik ini yang justru kerap mencoreng muka kepolisian? Kriminolog Adrianus Meliala melihat tingginya tingkat tekanan yang dihadapi anggota pasukan elite ini sebagai salah satu penyebabnya. Tekanan psikologis ini bertambah dengan tingginya risiko luka dan kematian yang mengancam mereka saat bertugas. Di pihak lain, keharusan untuk selalu berada dalam kondisi siap tugas membuat anggota Brimob (dan Gegana termasuk di dalamnya) tak bisa mencari tambahan di luar gaji. Bukan rahasia, di kepolisian, korps ini tergolong wilayah kering. "Makanya, kalau diizinkan, saya yakin 60 persen anggota Brimob itu akan memilih keluar dari kesatuannya," kata Adrianus.

Sejatinya, posisi elite mereka memang tidak sebanding dengan berkah ekonomi yang mereka nikmati. Meski 30-an ribu personel Brimob merupakan pilihan dari sekitar 250 ribu anggota polisi, tak ada fasilitas lain di luar gaji. Berbeda dengan kesatuan lain yang masih bisa bekerja sambilan, sebagaimana layaknya pasukan khusus tentara seperti Kopassus, Paskhas, dan Marinir, waktu mereka kebanyakan diisi aneka latihan rutin di markas.

Komandan Korps Brimob Irjen Polisi Silvanus Wenas mengakui bahwa rutinitas dan aneka penugasan beruntun terkadang membuat jenuh sebagian anak buahnya. Apalagi karena pendapatan yang kecil. "Ada yang bosan, tapi banyak juga yang bisa bertahan hingga akhir bulan walau pas-pasan," katanya. Bagi sebagian polisi, gaji itu juga dipakai untuk mengontrak rumah. Padahal, sebagai pasukan khusus dengan kesiapan penuh, selayaknya mereka tinggal di asrama. "Hanya sekitar sepuluh persen anak buah saya yang tinggal di asrama," ujar Wenas.

Keadaan inilah yang merisaukan pengamat kepolisian Erlangga Masdiana. Menurut dia, keterampilan Brimob melakukan kekerasan, bahkan mengetahui seluk-beluk bom, justru disalahgunakan karena desakan ekonomi. "Bukan rahasia, banyak dari mereka yang kemudian bermain mata dengan dunia abu-abu seperti bisnis perjudian dan hiburan malam," katanya.

Godaan untuk menyalahgunakan kekuasaan di kalangan anggota Brimob, menurut Adrianus, lebih besar setelah terjadinya pemisahan antara tentara dan polisi. "Para baron dunia hitam lebih memilih Brimob sebagai beking mereka dibanding tentara," katanya.

Darmawan Sepriyossa


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data