Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXI/24 Februari - 02 Maret 2003
   
Nasional

Pesan Kecewa Sebuah Bom

Kisah penangkapan penjinak bom yang meledakkan bom buatannya sendiri di Mabes Polri.

ANANG Sumpena punya pekerjaan yang umumnya dihindari orang. Dia mempertaruhkan nyawa, menguras nyali dan kecermatan, di tengah kesunyian yang menegangkan. Dia menjinakkan bom. Tapi itu dulu. Dua pekan lalu, anggota tim elite penjinak bom Gegana itu ditangkap karena justru membahayakan nyawa orang: meledakkan bom buatannya sendiri.

Semula tak ada yang mengira tindakan teror itu dilakukan polisi sendiri. Bom itu meledak awal Februari lalu di kompleks Markas Besar Kepolisian RI. Di tengah giat-giatnya polisi memeriksa para tersangka teror bom Legian, Bali, yang menewaskan 180 orang lebih, mudah orang berspekulasi bahwa bom dilakukan oleh kelompok teroris yang sama, dengan motif balas dendam.

Spekulasi itu antara lain datang dari Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar sendiri—meski secara tersirat. Dalam acara dengar pendapat dengan anggota DPR dari Komisi Pertahanan dan Keamanan, Da'i mengatakan, "Ada pesan politik yang ingin disampaikan oleh pelaku peledakan."

Ternyata keliru. Dari pemeriksaan awal, diperoleh keterangan bahwa Anang, perwira yang pernah belajar ilmu antiteror bom di Inggris, secara dingin merakit bom, memasukkannya ke dalam tas, dan meletakkannya di tangga masuk Wisma Bhayangkari, kompleks Mabes Polri. Menurut Komisaris Jenderal Erwin Mappaseng, Kepala Badan Reserse dan Kriminologi Mabes Polri, Anang merencanakan peledakan itu selama satu bulan. "Dia membeli potasium klorat di sebuah apotek di kawasan Jatinegara, Jakarta, yang tak jauh dari tempat tinggalnya," ujar Erwin.

Potasium klorat adalah bahan peledak tingkat rendah. Anang mencampurnya dengan bubuk mesiu sebelum memasukkannya ke pipa besi yang dibuat dengan bantuan pengelola sebuah bengkel di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Sebagai ahli penjinak bom, tak sulit pula dia memasang timer yang memerintahkan bom meledak pada jam tertentu.

Akibat ledakannya, Wisma Bhayangkari rusak berat. Tapi, untunglah, pada jam terjadinya ledakan, gedung yang biasa dipakai untuk acara para istri polisi itu tidak berpenghuni.

Menurut keterangan polisi, Anang diidentifikasi dan ditangkap melalui rute yang unik. Para petinggi polisi sempat dibuat pusing karena tidak ada satu pun saksi yang melihat siapa peletak bom. Polisi benar-benar berada dalam kegelapan. Dengan asumsi awal bom itu dibuat oleh teroris, polisi kemudian mengirim remah-remah ledakan ke Bali—tempat Ali Imron ditahan. Ali Imron adalah salah satu tersangka ledakan dahsyat di Bali yang mengaku belajar seluk-beluk bom di Afganistan.

"Sebagai orang yang mengerti bom, saya langsung bisa menganalisis siapa pelaku bom Mabes itu," kata Ali ketika diwawancarai TEMPO dua pekan lalu. Menurut Ali, bom itu bukanlah bikinan kelompok terornya. "Itu bom jenis kuno, buatan tentara atau polisi."

Menurut polisi, berkat jasa Ali Imron itulah mereka kemudian membuat daftar pendek dari kemungkinan pelaku di lingkungannya sendiri. Polisi menemukan nama yang mencurigakan: Anang Sumpena. Anang telah diketahui lama pergi dari asramanya, Asrama Brimob Kelapa Dua, Jakarta. Perwira polisi berpangkat ajun komisaris itu adalah anggota Gegana yang berada di bawah komando Brimob. Lulus dari Akademi Kepolisian Semarang pada 1991, dia melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Tapi, menurut hasil pemeriksaan polisi, pada 1999 dia dipecat dari sekolah itu karena terbukti positif sebagai pemakai narkotik sekaligus terlibat dalam jaringan pengedar. Dia menghilang setelah itu dan dianggap desersi.

Dugaan ini ternyata tak meleset. Menurut polisi, hasil penelitian laboratorium forensik menemukan kecocokan antara sidik jari di tempat kejadian dan sidik jari Anang Sumpena.

Tapi apa sebenarnya motif peledakan itu? Menurut sebuah sumber di Mabes Polri, Anang mengaku bertindak sendirian dengan maksud "institusi Polri memperhatikan dirinya." Anang, kata sumber tadi, merasa memperoleh perlakuan tidak adil karena pemecatannya.

Komisaris Agus Nugroho, rekan seangkatan Anang di sekolah tinggi kepolisian, mengatakan Anang memang jarang masuk kuliah. "Ia suka parno (paranoid) akibat pengaruh narkoba, sehingga jarang masuk kelas," ujar Wakil Kepala Reserse Kepolisian Kota Besar Bandung tersebut. Temannya yang lain mengatakan kondisi kejiwaan Anang, drummer dan gitaris band mahasiswa kepolisian, memang labil. "Di kampus lebih sering molor. Kalau sedang on, dia tak malu-malu mengisap ganja di depan temannya," kata sang teman, perwira di Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Menurut Agus Nugroho, Anang bukanlah mahasiswa pemadat satu-satunya. Ada tak kurang dari 21 mahasiswa yang terjaring tes urine rutin di perguruan kepolisian itu. Namun tidak semuanya kena pecat. Dan Anang tidak termasuk yang beruntung.

Penyidikan polisi masih berlanjut. Tapi kabar tentang penangkapan Anang telah membuat ayahnya, Adung Suganda, tertekan. Adung sendiri adalah pensiunan polisi dengan pangkat terakhir sersan mayor. Setelah menghilang selama dua tahun, kini anak sulungnya dia temukan dalam kondisi yang jauh dari harapannya. "Saya tetap tidak percaya anak saya melakukan tindakan itu," katanya, "Saya mendidiknya untuk taat sembahyang sejak kecil."

Edy Budiyarso, Cahyo Junaedy (Jakarta), Upiek Supriyatun (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data