Lebih Senang di Tanah Abang |
HARI-hari "kritikus menteri" Kwik Kian Gie, 68 tahun, dimulai dengan dua potong roti dan secangkir kopi. Jika pekerjaan tidak sedang menggunung dan tak ada tamu yang datang pagi, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Ketua Bappenas itu menyempatkan diri berolahraga pagi dengan berenang di belakang rumahnya di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan.
Menteri ini memang lebih suka menempati rumah pribadinya ketimbang menempati rumah dinas menteri yang disediakan negara di kawasan elite Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan. Jika badan sudah terasa segar, mulailah ia masuk ke ruang kerjanya. Di sana sudah tersedia lebih dari tiga koran pagi. Selesai membaca berita, ia beralih mempelajari berkas-berkas pekerjaan, sebelum berangkat ke kantor Bappenas, di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.
Kantor itu sudah ditempatinya sejak November 1999, ketika ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi Kabinet Persatuan Nasional di bawah Presiden Abdurrahman Wahid. Kwik sempat meninggalkan kantor Bappenas setelah mengundurkan diri sebagai pembantu Presiden Abdurrahman pada Agustus 2000. Baru setelah diangkat menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional pada era Presiden Megawati, sarjana ekonomi dari Nederlandsche Economische Hogeschool, Rotterdam, Belanda, itu kembali ke Taman Suropati.
Namun, di kantor resminya, menteri yang suka mengkritik kebijakan pemerintah ini hanya menghabiskan waktu sampai siang atau sore. Setelah tamu berlalu dan rapat dengan para staf selesai, ia kemudian boyongan ke kantor pribadinya di Jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat. Berkas-berkas pekerjaan yang membutuhkan pemikiran yang tenang, disposisi-disposisi penting, ia bawa dengan sedan Volvonya ke Tanah Abang.
Suasana kerja seperti itulah yang terjadi pada Jumat pekan lalu. Setelah menerima beberapa tamu, termasuk kedutaan besar negara Eropa, Kwik segera meluncur ke Tanah Abang. Di sana ia bertahan sampai sore, biasanya juga sampai malam. "Kalaupun harus kembali ke kantor, toh hanya 12 menit dari Tanah Abang ke Bappenas," katanya enteng.
Ia punya alasan, tentu. Di kantor lamanya, ia lebih merasa nyaman sehingga bisa tenang bekerja. "Di sana saya lebih at home untuk pekerjaan yang membutuhkan pemikiran yang mendalam," kata Kwik saat ditemui di rumahnya di kawasan Radio Dalam. Namun ia mengaku sangat enjoy bekerja di lembaga yang menelurkan strategi perencanaan pembangunan yang diperkuat oleh 400 karyawan yang separuhnya sarjana dan 70 di antaranya doktor lulusan universitas terbaik luar negeri itu. "Suasana rapat di kantor penuh diskusi yang menggairahkan," katanya.
Seringnya ia tak berada di kantor resmi dinilai banyak orang sebagai tindakan tak lazim. Ada saja yang menuding, itulah cara ngambek orang Juwana, Jawa Tengah. Apa pasal? Peran menteri negara yang dijabatnya tak begitu sentral. Belum lagi pemangkasan lembaga Bappenas, yang kini tak lagi punya kuasa menekan sana-sini. Lebih gawat lagi, Kwik tak direken saat kabinet berencana memutuskan banyak perkara strategis menyangkut ekonomi. Anehnya, ia tetap betah meski tak berdaya.
Edy Budiyarso
|