'Lone Ranger' itu bernama Kwik Para sahabat boleh marah, tapi Kwik Kian Gie akhirnya meminta maaf akibat kritik kerasnya kepada PDIP. Mega meminta agar ia jaga mulut. Siapa yang disasar Kwik? |
HUJAN sore membuat bangunan besar di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu terasa sejuk. Sisa-sisa air hujan tergenang di beberapa bagian jalan. Sejumlah mobil parkir berderet. Tapi segarnya udara di luar tak sampai merembet ke dalam. Di situlah, di rumah Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR Arifin Panigoro, sejumlah politisi Banteng berkumpul, Jumat malam pekan lalu.
Wajah mereka tampak tegang. Dari balik kaca tampak tuan rumah Arifin Panigoro duduk bersisian dengan Meilono Suwondo dan Julius Usman?keduanya anggota DPR asal PDI Perjuangan. Selain itu, kelihatan pula pengurus lainnya, Sophan Sophiaan. Malam itu mereka membicarakan kabar terpanas di tubuh Partai. Yang digunjingkan tak lain salah seorang ketua dewan pimpinan yang juga memimpin Badan Penelitian dan Pengembangan, Kwik Kian Gie.
Cuma, kali ini mereka mencibir. Jelas bukan kabar baik bagi figur yang dikenal mengecam keras praktek busuk konglomerasi itu. Kwik, yang biasanya sehaluan dengan Meilono dan kawan-kawan, kini mendadak bak jadi musuh yang tak terampuni. "Habislah dia di mata saya. Buat saya, dia hanya cari popularitas," kata Meilono geram. Sophan dalam kesempatan yang lain bersuara tak kalah ketus. "Menurut saya, Kwik sangat oportunistis," katanya.
Kemarahan rekan seiring ini lepas dari perubahan sikap Kwik yang begitu cepat. Ekonom berusia 68 tahun yang sebelumnya melancarkan kritik keras kepada partainya itu mendadak seperti kucing tersiram air. "Semua sudah selesai. Saya kira (kritik saya) itu bagian dari penyakit saya," kata Kwik. Pernyataan ini membuat geram Arifin, Meilono, Julius, juga Sophan. Kenapa Kwik begitu mudah menyerah?
Ceritanya berawal pada Senin pekan lalu. Hari itu, ketika ditanya pers tentang politik uang yang terjadi di partai politik, Kwik mencuap. "PDIP saat ini adalah partai terkorup," katanya. Sebelumnya Kwik memang kerap melancarkan kritik tajam kepada partainya. Tapi inilah untuk pertama kalinya Menteri Negara Perencanaan Pembangunan yang juga Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ini menyebut partainya sebagai yang paling brengsek.
Pernyataan Kwik ini menjadi pemantik yang segera meledakkan bom pro dan kontra. Kalangan yang seide seperti Meilono langsung mengacungkan jempol. "Itu kan otokritik untuk Partai agar mawas diri," katanya. Sebaliknya, yang berseberangan meradang. "Pak Kwik periksa kesehatanlah. Masa, merasa benar sendiri, sedangkan 38 juta warga PDIP lainnya salah," kata Taufiq Kiemas, anggota parlemen dan suami Presiden Megawati. Wakil Ketua MPR asal PDIP Sutjipto berujar sinis, "Pak Kwik ngomong begitu karena gagal jadi Gubernur Bank Indonesia."
Kwik tak surut langkah. Ia bilang akan maju terus dan tak akan mengoreksi sikapnya. Tapi usia sebuah keteguhan belum tentu bisa panjang. Kamis pekan lalu, tiga hari setelah kritik keras Kwik itu, masalah ini dibawa ke Presiden Megawati. Menurut seorang sumber di PDIP, setelah menghadiri rapat kabinet terbatas tentang rencana pembangunan jalan tol, Kwik dipaksa dua koleganya?Menteri BUMN Laksama Sukardi dan Menteri Tenaga Kerja Jacob Nuwa Wea?untuk mengklarifikasikan masalah ini ke Presiden.
Pertemuan dengan Ketua Umum Partai Banteng itu dilakukan di Istana Negara. Tapi Kwik mengaku, dialah yang berinisiatif mengadakan pembicaraan dengan RI-1. "Saya bisik-bisik supaya bisa bicara dengan Ibu Mega 5-10 menit. Jadi saya bukan dipanggil Ketua Umum," katanya. Bos besar kabarnya menegur. Kwik diminta menjaga mulutnya. "Dalam perpolitikan 2004, Pak Kwik mesti hati-hati karena semua pernyataan bisa dipolitisir," kata Mega seperti ditirukan Kwik. Sejurus kemudian, Laksamana menukas, "Pernyataan itu bisa dieksploitasi oleh partai-partai lain, Pak."
Kwik terdiam ketika dinasihati. Beberapa saat kemudian ketiganya keluar meninggalkan kamar kerja Megawati. "Saya tak akan mengurangi kekritisan saya. Tapi saya tahu, saya sering mengeluarkan perkataan yang bisa menyakiti hati orang," kata Kwik kepada wartawan.
Kwik tampaknya sadar, meski kritiknya mengandung kebenaran, ia tak punya bukti kuat. Kelemahan itulah yang terungkap dalam pertemuan di rumah Kwik di Jalan Denpasar, Jakarta, sehari sebelumnya. Dalam pertemuan itu hadir sekitar 20 anggota PDIP, antara lain Arifin Panigoro, Haryanto Taslam, Julius Usman, dan Meilono.
Di situ Kwik mengklarifikasi pernyataannya. "Kritik itu tidak dicabut, tapi bahwa PDIP yang paling korup itu tidak benar," kata Meilono meresumekan hasil rapat. Lalu, lebih dari sekadar membahas pernyataan Kwik, pertemuan juga masuk ke isu-isu sensitif. Mereka membahas aksi tokoh-tokoh Partai Banteng yang kerap meraup uang negara secara tak halal.
Siapa saja yang jadi obyek pembicaraan? Sophan Sophiaan, yang hadir dalam pertemuan itu, tak mau buka rahasia. "Nggak enaklah, nanti jadi tambah ruwet," katanya. Tapi, menurut Meilono, dalam beberapa kesempatan, Kwik kerap ngedumel tentang kongkalikong yang dilakukan Menteri BUMN Laksamana Sukardi dan Taufiq Kiemas. Laksamana dianggap ambil untung dalam divestasi Indosat yang dianggap merugikan negara. Taufiq dituding main mata dengan sejumlah konglomerat hitam.
Taufiq Kiemas dan Laksamana Sukardi berkali-kali menantang bukti kepada orang-orang yang menuduhnya. "Silakan buktikan dan saya siap diperiksa," kata Laks. Menurut seorang sumber PDIP, karena menyangkut suami Presiden itulah Kwik kali ini dengan keras diminta menjaga lidah. Hubungan Kwik dan Taufiq telah lama seperti tungku panas. Kwik yang "ringan mulut" tak segan mengkritik Presiden Megawati. Sedangkan Taufiq menilai tak sepatutnya seorang menteri membuka borok pemerintahan kepada publik dan pers.
Perang mulut keduanya terjadi tengah Januari lalu. Melalui telepon, Taufiq mendamprat Kwik karena meminta Megawati mundur dari posisi presiden, berkaitan dengan keputusan menaikkan harga BBM. "Perkataannya keras sekali, semrawut," kata Kwik. Taufiq meminta Kwik mundur dari jabatan menteri. Kwik membalas dengan mengatakan Taufiq tak punya hak memerintah dia. Menurut seorang kerabat Kwik yang mengetahui kemelut itu, pembicaraan sekitar 20 menit itu dipenuhi sumpah serapah. Meski lebih sopan, perang argumen juga pernah terjadi antara Kwik dan Laksamana.
Di luar itu, tak henti-henti Kwik mengkritik kinerja rekan sejawatnya di kabinet. Ia menghujat kenaikan harga BBM, kebijakan pengampunan kepada konglomerat (release and discharge), penjualan saham BUMN, dan ketidakberdayaan aparat hukum menghentikan korupsi. Ia juga mencak-mencak lantaran Indonesia sangat bergantung pada bantuan Dana Moneter Internasional (IMF).
Aneh, kata orang. Kwik, anggota Kabinet Gotong-Royong, bukannya memperbaiki keadaan dari dalam, tapi malah berkoar-koar dari luar arena. Selain menteri negara, bukankah dia memimpin Bappenas, lembaga yang selama ini dikenal sangat berperan penting dalam menentukan kebijakan ekonomi? "Bappenas tak punya tangan. Tugas kami hanya monitoring," kata Kwik.
Peran Bappenas ternyata sudah banyak dipangkas. Ironisnya, fungsi seperti inilah yang memang dikehendaki Kwik. Badan yang berkantor di kawasan Taman Suropati itu kini dilepaskan dari koordinasi Menteri Koordinator Perekonomian, yang kini dijabat Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, agar bebas menjadi lembaga pemikir.
Tapi, alih-alih bisa mensuplai nasihat ke semua departemen, sang Ketua Bappenas malah tak digubris. Kwik mengaku tak diajak bicara sama sekali, ketika kabinet hendak memutuskan kenaikan harga BBM. "Secara etik, minimal menteri-menteri yang mengambil keputusan mengajak ngobrol saya. Kalau tidak, bagaimana kami bisa ikut menentukan dan memberikan masukan?" katanya jengkel.
Kendala birokrasi itu, ditambah dengan sikapnya yang suka bicara ceplas-ceplos, membuat Kwik menjadi lone ranger?sherif kesepian dalam film-film koboi. Pernah suatu ketika Kwik mengundang sejumlah ketua partai untuk membicarakan soal obligasi rekap?suntikan dana pemerintah untuk perbankan. Ketika itu, DPR setuju jika pemerintah memberikan dana untuk bank sakit, sedangkan Kwik berkeras menolaknya.
Tapi Kwik tak digubris wakil rakyat di Senayan. Merasa penasaran, ia lalu mengundang sejumlah ketua partai ke rumahnya. Misinya, agar para pemimpin bisa mempengaruhi anggota mereka di parlemen. "Saya katakan, tolong bantu saya," kata Kwik. Nyatanya tak mempan. Yang hadir hanya Edi Sudradjat (Partai Keadilan dan Persatuan), Hidayat Nurwahid (Partai Keadilan), dan Bomer Pasaribu (Golkar). "Bahkan dari PDIP pun tak ada yang datang," kata Kwik lirih.
Kwik juga kaya akan cerita murung lainnya. Alkisah, pendiri sekolah wirausaha Institut Bisnis Indonesia (IBI) ini pernah berjuang menolak IMF. Di rapat kabinet, Kwik berbusa-busa berusaha meyakinkan koleganya agar Indonesia segera menyetop campur tangan IMF di Indonesia. Menurut dia, bantuan lembaga asing itu, selain mengikat, justru akan menenggelamkan Indonesia ke lembah utang.
Saking ngototnya, Kwik sampai membawa perangkat video ke ruang rapat. Ia memutar film dokumenter buatan sineas Australia, John Pilger, berjudul The Ruler of the World. Film itu mengisahkan upaya Amerika dan negara-negara maju lainnya mendominasi negara berkembang melalui perusahaan multinasional dan lembaga internasional pemberi utang. Film yang sama juga ia berikan kepada pengurus PDIP untuk diperbanyak dan ditonton warga Banteng.
Di kabinet, semua menteri, juga Presiden, tekun menonton. Menteri Keuangan Boediono kabarnya jengkel sampai keluar ruangan. Ada koleganya yang nyeletuk, "Wah, ini berbau kekirian, soalnya sumbernya cuma tokoh buruh." Setelah itu, tak secuil pun usul Kwik menolak IMF dibahas. Reaksi markas besar Banteng juga adem-ayem. "Entah mengapa sekretariat Partai hanya membuat beberapa kopi film itu dengan kualitas yang jelek," katanya kecut.
Kwik juga punya kebiasaan baru. Ia ke mana-mana membawa dan membagi-bagikan buku kecil setebal 52 halaman yang dikarang dan diterbitkannya sendiri. Judulnya Pemberantasan Korupsi untuk Meraih Kemandirian, Kemakmuran, Kesejahteraan, dan Keadilan. "Saya cetak 10 ribu eksemplar dan sudah tersebar 7.000," katanya. Ia juga menyebar gratis, pin berwarna merah putih, sebagai lambang keprihatinan. Pin itu pulalah yang selalu disematkan di jas yang sehari-hari ia pakai.
Kwik Kian Gie lahir di Juwana, Jawa Tengah, 11 Januari 1935. Sempat sekolah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, putra seorang pengusaha hasil bumi bernama The Kwie Kie ini mengambil gelar ekonomi di Nederlandsche Economische Hogeschool, Rotterdam, Belanda. Di sana pula ia bertemu dengan Dirkje Johanna de Widt, gadis Rotterdam yang kemudian menjadi istrinya.
Kwik kembali ke Tanah Air pada 1970. Ia mulai berbisnis dengan mendirikan PT Indonesian Financing & Investment Company. Ia juga memimpin PT Altron Niagatama Nusa, sebuah perusahaan konsultan manajemen yang berkantor di jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat. "Saya sudah punya cukup uang untuk membiayai semua yang saya inginkan," katanya suatu ketika. Ia mulai jadi kolumnis yang kritiknya tajam, terutama ketika mengulas bisnis simsalabim para konglomerat.
Belakangan ia tertarik berpolitik. Ia bergabung dengan PDI ketika partai itu masih dipimpin Soerjadi. Ketika Soerjadi dan Megawati pecah, ia memilih bergabung dengan Mega. Pada masa-masa awal karier politiknya, Kwik canggung jika berpidato. Dalam sebuah kampanye Pemilu 1987, di Mangga Besar, Jakarta, Kwik berpidato dengan membaca teks. Sejak itu, kariernya terus berkibar. Ia diangkat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian (sebelum akhirnya mengundurkan diri), di era Abdurrahman Wahid.
Pada zaman Megawati, Kwik tetap mendapat tempat. Cuma posisinya sedikit merosot, sebagai Menteri Negara dan Ketua Bappenas yang tak lagi bergigi. Lalu, dengan prahara gosip "partai terkorup", akankah Kwik semakin tersingkir? Mungkin tidak. Sejumlah anggota Partai, meski tak mayoritas, menyatakan sikap mendukung Kwik. Beberapa cabang PDIP seperti dari DKI, Malang, Madiun, dan dan Sulawesi Tenggara menyatakan menyokong Kwik (lihat infografik).
Tapi sokongan itu sekadar dukungan moral. Tak ada pengaruhnya secara politik. Kwik mungkin tetap saja bercokol di kabinet, juga di Partai. Bukan mustahil jika PDIP, partai penguasa yang sedang keras digedor dari dalam dan luar, popularitasnya akan menurun dalam Pemilu 2004 nanti. "Tapi Megawati sebagai calon presiden dalam pemilihan langsung masih tetap kuat. Pemilih masih sangat emosional mendukung Mega," kata Kwik. Jagat politik memang tak akan banyak berubah hanya karena ulah seorang lone ranger.
Arif Zulkifli, Tomi Lebang, Edy Budyarso, Suseno (Tempo News Room)
|