Geger di Balik Penggerebekan Ibra Azhari, adik kandung aktris Ayu Azhari, kembali tersandung kasus narkoba. Anak Wakil Presiden Hamzah Haz diisukan terlibat. |
PETANG baru menjelang. Dengan berpakaian sipil, sekitar sepuluh anggota reserse Polda Metro Jaya mengepung Wisma Bumi Rajawali di Jalan Pancoran Barat II No. 2, Jakarta Selatan. Tak lama kemudian, sekitar pukul 18.00, mereka merangsek ke kamar nomor 15. Pintu kamar digedor keras. Dari dalam kamar kos berukuran 4x7 meter persegi itu, wajah Ibra Azhari menyeruak. Polisi langsung membekuk adik artis Ayu Azhari ini. Tak ada perlawanan.
Saat digerebek, Ibra—begitu pemilik nama lengkap Ibrahim Salahudin Azhari itu biasa dipanggil—ditemani seorang perempuan muda bernama Laura Wendari. Di meja di dalam kamar itu terdapat beberapa piring kotor, dan banyak tulang ayam dan sisa makanan lainnya terserak. Sepertinya, beberapa saat sebelum digerebek Kamis pekan lalu itu, mereka baru saja makan.
Setelah melakukan penggeledahan, polisi mendapati sebuah tas. Ketika dibuka, segepok barang haram berhamburan. Di situ terdapat kantong plastik berisi 230 butir ekstasi dengan beragam warna, 12 gram shabu-shabu, 5 gram putaw, dan benda yang diduga kokain. Selain menemukan barang-barang haram yang diduga milik Ibra itu, polisi juga menemukan sejumlah benda yang biasa dipakai untuk mengkonsumsi barang terlarang itu, seperti bong (alat isap), gulungan kecil kertas aluminium foil, dan korek api.
Kabar penangkapan ini segera menggegerkan publik negeri ini. Bukan lantaran sosok Ibra yang dikenal sebagi aktor film panas, tapi gara-gara beredar isu yang lebih menyengat. Dikabarkan dalam penggerebekan ini, anak Wakil Presiden Hamzah Haz juga ditangkap. Sampai-sampai Iwan Budi Setiawan, 36 tahun, pengelola Wisma Bumi Rajawali, kelabakan dan cemas. Ketika TEMPO ingin menggandakan fotokopi surat izin mengemudi (SIM) milik Laura yang disimpan di meja resepsionis, dia pun berkeberatan. "Janganlah, saya tidak tahu dampak kasus ini bagi bisnis saya," ujar Iwan, yang juga dikenal sebagai seorang pelukis.
Yang pasti, sejak semula Ibra-lah yang menjadi sasaran utama polisi. Dia sudah lama diintai. Lelaki 31 tahun ini dikabarkan bukan sekadar sebagai pemakai, tapi sudah menjadi pengedar narkoba. Sebelum digerebek, menurut sumber TEMPO, Ibra sudah dikuntit sekitar dua jam. Saat itu, dia tengah membeli barang haram dari seseorang di kawasan Mangga Besar, Jakarta. Dari pengintaian ini lalu polisi merancang penangkapan.
Ketika dibekap di Pancoran, Ibra tidak sedang mengkonsumsi barang-barang. "Itu sebabnya, untuk sementara kami menduganya dia telah menguasai barang-barang itu tanpa izin," ujar Komisaris Guntur Setyanto, Kepala Satuan Psikotropika Polda Metro Jaya. Dijerat dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 Psikotropika dan Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, menurut Guntur, terbuka pula kemungkinan dia disangka sebagai pengedar.
Di dunia pil dan serbuk setan, Ibra bukan orang baru. Tiga tahun silam dia pernah ditangkap polisi karena membawa 9,7 gram shabu-shabu, lima paket putaw 4,8 gram, sebutir pil Esilgan (obat penenang), seperangkat alat pengisapnya.
Dalam pengadilan, lelaki berdarah Pakistan ini divonis hukuman 1,5 penjara pada September 2000.
Sesudah penggerebekan di Pancoran, keesokan harinya tim reserse Polda Metro Jaya juga menangkap dua pemuda di Bengkel Cafe, kawasan Semanggi, Jakarta Selatan. Mereka adalah Firza, 20 tahun, dan Dave. Menurut sumber TEMPO, Firza sering membeli narkoba dari Ibra. Dia juga sudah mengenalnya lama. "Selain pemakai, Ibra juga penjual," ujar menurut sumber tersebut.
Ketika Firza dan Dave diperiksa Jumat malam pekan lalu, tampak pula Firman, mahasiswa Universitas Pelita Harapan, Jakarta, menjenguk mereka. Bersama mereka, ia kerap mencicipi "dugem" (dunia gemerlap) di Diskotek Stadium, bilangan Kota, Jakarta. Hanya Firman mengaku sama sekali tak kenal dengan Ibra.
Diakui pula oleh Jamaluddin Lamanda, pengacara Ibra, kliennya sering ber-"dugem ria" di Stadium. Selama ini lelaki yang sudah bercerai dari istrinya itu memang dikenal sebagai "pemakai". Dia sering "membagi-membagikan" barang haram buat kawan-kawannya, termasuk Firza. "Saat ditangkap polisi, dia sedang sakau (ketagihan), didampingi Laura, pacarnya," tutur Jamaluddin
Berbeda dengan Ibra yang langsung dijerat, sejauh ini Firza dan Dave hanya dianggap sebagai saksi. Dari hasil pemeriksaan urine, mereka dinyatakan bersih dari narkoba. Demikian juga Laura Wendari. Bahkan gadis berusia 25 tahun berkulit putih dan berambut hitam lurus ini sudah diizinkan pulang.
Dilepasnya Laura agak mengherankan karena tidak ada alasan yang meyakinkan bahwa dirinya tak terlibat kasus ini. Bersama Ibra, perempuan langsing bertinggi 160 meter ini sudah empat bulan tinggal di Wisma Bumi Rajawali, Pancoran. Sewa kamarnya atas nama Laura, sebesar Rp 1 juta lebih sebulan. Dibandingkan dengan penghuni kamar lain, mereka agak tertutup. Laura, yang lebih sering tinggal di sana ketimbang Ibra, biasa membersihkan kamarnya sendiri, dan tak pernah minta bantuan pelayan di wisma tersebut. "Kalau penghuni lain, ya, biasanya minta dibersihkan kamarnya setiap hari," ujar seorang petugas kos-kosan itu.
Nah, hampir bersamaan dengan dilepasnya Laura, beredarlah rumor lewat pesan pendek alias SMS (short message service). Disebutkan bahwa bersamaan dengan penangkapan Ibra, polisi juga mencokok seorang anak Wakil Presiden Hamzah Haz. Namanya? Simpang-siur. Ada yang menyebut Laura sebagai anak dari istri kesekian Hamzah Haz. Tak sedikit pula yang menebarkan kabar: Ivan Haz yang ditangkap polisi. Ivan, yang dikenal sebagai pengusaha konstruksi, merupakan putra Hamzah dari istri pertamanya, Asmaniah (bisa dipanggil Nani), yang tinggal di Jalan Tegalan, Jakarta Timur.
Benarkah? Isu bahwa Laura sebagai anak dari Hamzah Haz terpatahkan karena dari foto surat izin mengemudi yang didapat TEMPO, dia beralamat di Jalan Lontar VII, Menteng Atas, Jakarta Selatan. Sekitar lima tahun lalu, keluarga Laura memang pernah mengontrak sebuah rumah di kawasan ini. Ia tinggal bersama ibunya, Helmi Tatik (sekitar 49 tahun), dan saudara-saudaranya. "Sesudah itu, saya tidak tahu lagi, dia tinggal di mana," ujar Nyonya Isbandiah, 43 tahun, pemilik rumah itu.
Dari perbincangan TEMPO dengan Isbandiah, kecil sekali kemungkinan keluarga Laura yang berasal dari Bengkulu punya pertalian dengan Hamzah Haz. Kehidupan mereka pun biasa saja. "Bahkan dulu pernah menunggak tagihan listrik," kata Isbandiah. TEMPO sudah berusaha melacak keluarga Laura lewat pengacara Ibra, tapi sampai akhir pekan lalu belum tembus.
Keterlibatan Ivan? Kabar ini pun telah ditepis oleh Direktur Satuan Reserse Narkotika Polda Metra Jaya, Ajun Komisari Besar Polisi Carlo Tewu. "Tidak ada anak pejabat yang kami periksa sehubungan dengan kasus ini. Kami hanya memeriksa Ibra," katanya kepada TEMPO. "Kami bingung, dari mana sumber berita itu," ujarnya.
Tangkisan yang lebih lebih sigap datang dari kantor Wakil Presiden. Menurut Staf Khusus Wakil Presiden, Said Budairi, tidak ada putra atau putri Hamzah yang terlibat kasus narkoba. Dia bisa memastikan karena sudah menghubungi ketiga istri Hamzah Haz. Dari ke-12 anak Hamzah dari istri-istrinya (4 laki-laki, 8 perempuan), tidak ada yang bernama Laura Wendari. Begitu juga tentang isu Ivan Haz yang tidak benar.
Jangan heran jika Hamzah Haz cukup gerah mendengar kabar tak sedap itu. "Anda jangan membuat fitnah," katanya usai mengantar Presiden Megawati Soekarnoputri di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Sabtu silam. Menurut Hamzah, isu semacam itu sengaja diembuskan berkaitan dengan Pemilihan Umum 2004.
Tak cuma Hamzah yang gundah. Gara-gara rumor lewat SMS, Ibra pun menjadi gelisah karena perkaranya semakin disorot khalayak. Saat digiring dari tahanan ke gedung reserse Polda Metro Jaya untuk diperiksa Sabtu silam, dia kelabakan menghadapi sorotan kamera dan hujan pertanyaan dari wartawan. Lelaki berkulit putih ini hanya menjawab no comment sambil mempercepat langkah. Tiada senyuman dari wajahnya yang tampan.
Nurdin Kalim, Ardi Bramantyo, Endri Kurniawati
|