Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXI/24 Februari - 02 Maret 2003
   
Indonesiana

Mahasiswa Versus Anjing

NAMANYA juga solider. Karena temannya ditahan di Markas Polisi Resor Kota Solo gara-gara membakar poster Wakil Presiden Hamzah Haz, Jumat dua pekan lalu lebih dari seribu mahasiswa menuntut agar si teman dibebaskan. Dengan gagah berani, bersenjatakan megaphone dan berbagai atribut, mereka langsung merangsek. Hanya, di pintu masuk, polisi sudah menghadang. Negosiasi dilakukan, tapi nihil kata sepakat. Mereka pun bentrok. Dua orang mahasiswa terluka.

Sang koordinator lapangan langsung menenangkan massanya sambil menyusun kembali kekuatan. Sementara itu, polisi tak lenyap akal. Mereka juga menyusun strategi. Entah ide dari mana, polisi lalu mengeluarkan tiga ekor anjing pelacak dari kandangnya. Tiga herder yang biasanya mengendus jejak-jejak para penjahat dihadapkan pada massa mahasiswa. Ini rupanya senjata pamungkas. "Anjing-anjing terpaksa dikeluarkan karena mereka memaksa masuk," tutur Wakil Kepala Polresta Solo, Komisaris Polisi Setyono.

Lalu, apa tugas anjing itu? Dilepas untuk menggigit satu per satu mahasiswa? Bukan. Tiga makhluk bermoncong itu cuma dipajang dengan leher terikat. Cespleng juga. Melihat si asu dengan taringnya yang runcing dan lidah menjulur, mahasiswa yang awalnya beringas sontak ciut nyali. "Air liurnya saja najis, bagaimana endak takut," ujar Faizin, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Toh beberapa mahasiswa mencoba mendekat dan melempari anjing. Namun usaha itu tidak memberi hasil. Sang pawang mengendurkan tali kekangnya, serentak anjing itu mengejar si mahasiswa. Tak ada pilihan bagi para mahasiswa selain kabur menjauh sambil menyumpahi binatang tak berdosa itu. "Dasar anjing!" teriak seorang mahasiswa dengan muka merah padam antara menahan marah dan ketakutan.

Tapi perjuangan mahasiswa tak kendur. Biar cuma dengan kekuatan tersisa, mereka pun terus menggelar orasi. Sial, lagi-lagi mereka jadi pecundang. Disangka menantang, orasi yang dilakukan mahasiswa itu malah ditimpali gonggongan yang keras. Meski volume sound system diperbesar, tetap saja suara mereka kalah keras. "Hei anjing, bisa diam ndaaaaak!" kata salah seorang mahasiswa, frustrasi. Makin berteriak, anjing-anjing makin giat menyalak.

Sadar usahanya sia-sia, para mahasiswa membubarkan diri. Aksi mereka pun gagal total. Tapi mereka punya dalih. "Sound system kami juga kurang bagus, kalah keras dengan suara anjing," ujar seorang mahasiswa, kesal sekali.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data