Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXI/24 Februari - 02 Maret 2003
   
Hiburan

Menembus Waktu, Mengintip Masa Depan

Laksana perjalanan lintas waktu, Deddy Corbuzier meramalkan headline sebuah surat kabar seminggu sebelum terbit.

Belakangan, Deddy Corbuzier menyodorkan sesuatu yang lebih serius, bahkan spektakuler. Pentasnya lebih meraksasa, tidak terbatas pada ruang pertunjukan, dan permainan yang dilakoninya makan waktu hingga berhari-hari, bahkan berminggu. Ia memancing rasa ingin tahu lebih intens, membangun suspens yang bertahan lebih lama. Deddy Corbuzier memang sengaja menjaga agar pirsawan tetap sabar menanti surprise yang dijanjikan sampai berhari-hari.

Lewat sebuah perhelatan akbar yang digelar pada Ahad pekan lalu di Lapangan Parkir Senayan, Jakarta, ia meramalkan headline yang bakal muncul di sebuah koran terkemuka pekan depan. Sebelumnya, ramalan itu telah ditulis pada selembar kertas dan direkam dalam pita kaset. Deddy juga menggantung sebuah papan besar yang dijaga ketat oleh polisi di Lapangan Parkir Senayan. Untuk menjamin keabsahannya, ia bahkan menuliskan prediksinya itu di hadapan notaris. Di mana letak keistimewaannya? Mungkin pada cara dia mendramatisasi langkah-langkah pertunjukannya. "Kata orang tua, ide-ide saya memang gila, ha-ha-ha...," ujarnya, terbahak dengan nada puas.

Tentu, itulah jenis kegilaan yang mendatangkan rasa bangga. Adalah Nostradamus, seorang peramal kelahiran St. Remi, Prancis, pada awal abad ke-16, yang merupakan sumber ilham Deddy. Pada abad itu, sang peramal pernah menebak serangan yang bakal terjadi terhadap simbol-simbol kedigdayaan Amerika Serikat. Dan ramalannya terbukti beberapa abad kemudian. Selain itu, Deddy juga terinspirasi oleh serial televisi Early Edition, yang tokohnya memiliki kemampuan menebak berita utama surat kabar esok harinya.

Sebetulnya Deddy tidak sembarang menebak. Menurut pengakuan pria yang pernah tercatat sebagai mahasiswa psikologi Universitas Atmajaya ini, ia telah melakukan persiapan panjang untuk aksi panggung terbesarnya ini. Setahun sebelumnya, ia mengumpulkan aneka informasi seputar berita utama yang kerap muncul dalam surat kabar tersebut setiap hari Senin. "Ada ritme yang kerap berulang," tuturnya. Setelah itu, ia lalu menyingkirkan sejumlah kemungkinan yang jarang sekali muncul di hari itu.

Tapi itu saja tentu tidak cukup. Selaku mentalis—ia menyebut dirinya demikian—Deddy akan menggunakan ilmu prakognisi (precognition) yang memang bertugas meramalkan apa yang terjadi di masa datang. Sebagaimana diketahui, permainan seorang mentalis biasa mencakup beberapa bidang: mind reading (kemampuan membaca pikiran orang), psikokinesis (pikiran yang mampu mengendalikan benda-benda), calirvoyance (mengetahui sesuatu dengan bantuan benda), psikometri (mengetahui subyek berdasarkan aura), dan prakognisi.

Prakognisi bekerja melalui pelbagai jalan, termasuk mimpi. Dua pekan sebelum terbunuh pada Jumat malam 14 April 1865, Abraham Lincoln pernah bermimpi. Ia melihat sebuah pemakaman di Gedung Putih, dan ia bertanya kepada seorang prajurit jenazah siapa yang terbaring di dalam peti mati itu. "Presiden Amerika Serikat," jawabnya. Begitu bangun, ia menceritakan hal itu kepada istrinya. Wanita itu kemudian berujar bahwa Lincoln akan meninggal dalam masa jabatannya sebagai Presiden.

Beberapa saat sebelum kapal Titanic tenggelam di Samudra Atlantik, 14 April 1912, setidaknya ada dua lusin laporan mengenai orang-orang yang membatalkan perjalanan dengan kapal itu karena pernah bermimpi tentang kapal. Tak ada yang tahu bagaimana para penumpang lain yang juga sudah mengetahui peringatan ini tapi mengabaikannya. Malah ada seorang pengusaha yang sudah tiga kali bermimpi soal musibah itu, tapi memilih mengabaikannya. Dia tetap ngotot ikut perjalanan, tapi batal karena ada urusan bisnis mendadak yang memaksanya tidak jadi berangkat.

Apakah prakognisi itu sebuah bakat, gaib, atau sesuatu yang bisa dipelajari? Deddy sendiri mengaku, kemampuan itu merupakan sesuatu yang bisa diasah dan dilatih. "Ini sebuah ilmu yang bisa dipelajari siapa pun karena selalu ada logika dan penjelasannya," ujarnya kepada TEMPO. Dalam menjalankan profesinya, ia mengaku tak pernah berurusan dengan sesuatu yang berbau klenik atau gaib. "Apalagi punya jin dan tuyul segala," ujarnya tergelak, mengomentari tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Di dalam jagat magic, selain mentalis, ada ilusionis (yang memainkan ilusi orang) dan eskapologis (memiliki kemampuan melepaskan diri dari ikatan/kurungan). Keahlian ilusionis meliputi kemampuan untuk hilang, muncul, tembus, dan terbang—seperti David Copperfield. Sedangkan contoh eskapologis adalah Harry Houdini, yang sangat jago membebaskan diri dari belitan rantai super-ketat dan kurungan dalam waktu singkat.

Dalam setiap permainan pikiran, katanya lagi, selalu ada penjelasan dan logikanya. Ia menunjuk soal meramal headline surat kabar. Hal itu berani dilakukannya setelah melakukan riset selama enam bulan terhadap salah satu surat kabar, mempelajari ritme berita utama yang muncul di hari Minggu, mengeliminasi sejumlah kemungkinan yang tidak atau jarang muncul di setiap edisi minggu. "Setiap media punya ritme tersendiri dalam menampilkan berita utamanya, kecuali ada peristiwa-peristiwa yang mendadak," ujarnya.

Menurut pria yang pernah kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya Jakarta ini, prakognisi dan bidang keahlian mentalis lainnya merupakan salah satu kajian psikologi, khususnya psikologi eksperimen.

Tapi, psikolog Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan, mengungkapkan bahwa prakognisi bukan bagian dari psikologi. Sedangkan kalau kognisi saja memang masuk. Kognisi atau psikoanalisis merupakan ketidaksadaran (unconsciousness) yang berguna untuk menjelaskan teori analisis kepribadian, penyakit jiwa, atau untuk kepentingan terapi. "Prakognisi itu lebih merupakan kegiatan paranormal," ujarnya mengomentari aksi Deddy Corbuzier.

Boleh jadi, prakognisi merupakan bagian dari parapsikologi. Menurut buku Bibliografi Parapsikologi suntingan Djojor Situmeang, parapsikologi adalah ilmu tentang gejala-gejala paranormal yang tidak atau belum dijelaskan oleh ilmu-ilmu, khususnya psikologi konvensional. Ilmu ini memiliki dua cabang besar, yaitu persepsi luar indra (kemampuan untuk melihat kejadian yang tampak langsung, telepati, dan prakognisi), dan psikokinesis.

Namun, menurut Sarlito, parapsikologi tidak dipelajari di fakultas psikologi. Pasalnya, hingga saat ini prakognisi belum mampu membuktikan dirinya punya metodologi sendiri agar bisa diterima sebagai ilmu, misalnya psikologi. Karenanya, "Orang dan dunia sains masih menentangnya sebagai salah satu cabang ilmu," ujar Dekan Fakultas Psikologi UI ini.

Ia mencontohkan, dulu hipnotisme tidak masuk psikologi. Tapi, setelah kedua bidang keahlian itu mampu membuktikan dirinya memiliki metode-metode tertentu, akhirnya diterima. Dalam pertunjukan, orang tak mempersoalkan apakah cara yang ditempuh itu ilmiah atau tidak. Yang penting adalah hasil akhir. Sebuah pertunjukan yang indah berakhir dengan sesuatu yang "tak ilmiah": ada enigma dan misteri yang berdaya pukau.

Dewi Ria Cahyani, Budi Putra


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data