Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXI/24 Februari - 02 Maret 2003
   
Gaya Hidup

Simfoni di Dalam Pinggan

Memasak untuk tamu-tamu pribadi adalah salah satu "tradisi" dalam kelas menengah masyarakat urban. Siapa saja chef amatir itu?

TANYAKAN kepada Nono Anwar Makarim, bagaimana dia menyatukan elegansi dan rasa. Tanyakan kepadanya, apa yang dia lakukan untuk mendapatkan paduan sempurna dari alunan suara jazzy Billie Holliday, tangkai-tangkai lilin bercahaya, suara gemericik air dalam udara malam yang hangat, serta berpinggan-pinggan makanan dengan rasa istimewa plus sebotol anggur putih yang dicomot dari bar pribadi.

Nono Makarim, pengacara dan ahli hukum internasional ternama, memadukan setiap elemen itu dengan ketelitian dan kesabaran yang mencengangkan saban kali dia menggelar acara yang disebutnya "panggil makan". Ini cara Nono menghibur diri dan kawan-kawannya. Melalui dapur dan meja makan, dia memperteguh pertalian dengan teman-teman lama sekaligus membuka interaksi sosial dengan kawan-kawan baru.

Di rumahnya yang asri—Nono menyebutnya "kediaman tropis"—di kawasan elite Jalan Darmawangsa, Jakarta Selatan, Nono menyiapkan acara panggil makan ini dengan semangat melakukan "ritus" pribadi: dari memilih menu, menentukan koki yang membantunya, meracik, mencampur, mencicip setiap item masakan, hingga menghidangkannya di atas meja. Pada akhir acara—umumnya dia langsungkan pada malam hari—untuk empat atau lima orang tamu itu, Nono menghidangkan makanan penutup yang tersaji panas-panas: kue srikaya dan kopi arabika. "Seperti sebuah simfoni, masing-masing bagian bisa dinikmati, tanpa ada satu yang lebih menonjol dari yang lain," ujarnya kepada TEMPO.

Di Jakarta—dan barangkali kota besar lain—apa yang dilakukan Nono Makarim sebetulnya bukan fenomena baru. Tapi kian banyak saja kalangan muda—umumnya mereka yang pernah berdiam di luar negeri—yang melakukan hal ini. Sekadar contoh, bintang film Ferry Salim meneruskan kebiasaan yang biasa dia lakukan di Seattle, AS. Anggota DPR Alvin Lie mulai melakukan kebiasaan ini saat bersekolah di Singapura dan melanjutkannya ketika dia kembali ke Indonesia.

Berbeda dengan undangan makan massal—dalam acara sunatan atau perkawinan—mengundang makan ala Nono dan kawan-kawan ini jauh lebih pribadi, dengan tamu dalam jumlah kecil saja. Tuan rumah akan memasak, menghidangkan masakan, melayani tamu-tamunya, membuat mereka merasa nyaman. Dan kenyamanan tidak hanya lahir dari makanan. Suasana, karakter rumah, penataan meja, semuanya memberikan sumbangan sendiri-sendiri.

Laksmi Pamuntjak, penulis Jakarta Good Food Guide, menyebutkan bahwa kebiasaan memasak dan menjamu tamu secara pribadi adalah "...bagian dari gaya hidup modern." Mengapa di rumah? Karena rumah lebih memberikan suasana personal. Orang bisa lebih leluasa memilih musik yang hendak didengar atau anggur yang akan dicecap. "Makanan dan suasana itu akan mendekatkan orang, membuat setiap tamu lebih terbuka, intim, dan lepas," Laksmi menjelaskan.

Suasana itulah yang tampaknya betul-betul dibangun oleh Nono sebelum sampai ke "puncak acara": makan malam. Alhasil, sembari mencampurkan minuman beralkohol untuk tamu-tamu, dia memperdengarkan alunan musik blues dan jazz. Tuan rumah akan memastikan setiap tamunya mendapatkan apa yang mereka inginkan, lalu bolak-balik ke dapur dan ruang tamu untuk menyiapkan masakan malam itu. Menu yang biasa dia sajikan adalah makanan Eropa, Prancis atau Italia misalnya.

Lantas siapa saja yang menjadi tamunya? "Umumnya yang sudah punya poin di bidangnya masing-masing." Ada pengusaha asing, diplomat, bankir nasional atau internasional, dan kawan-kawan dekatnya sendiri. Acara biasanya dimulai pada pukul tujuh malam dan berakhir menjelang tengah malam: berawal dari hidangan pembuka, makanan utama, lalu kopi dan penganan manis-manis sebagai penutup santap malam.

Mengundang makan secara pribadi memang bukan hal umum di Indonesia. "Hanya orang keturunan Arab dan yang dipengaruhi budaya Barat yang melakukan hal itu," kata Nono. Nono, misalnya, memulai hobi ini ketika dia kuliah di Massachusetts, AS. Sekembali ke Indonesia, ahli hukum ini meneruskan kebiasaan tersebut sampai sekarang.

Laksmi Pamuntjak melihat, jamuan makan bisa dianggap sebagai suatu gerakan anti-makan di luar yang berkembang di daerah kota besar. Saat begitu banyak tersedia rumah makan dan kafe, orang ingin melakukan hal yang berbeda sekaligus istimewa. Apa pun "teori"-nya, mengundang orang makan di rumah dengan masakan sendiri mestinya momen yang istimewa. Si pengundang akan mempersiapkan acara itu dengan detail, dari belanja, jenis makanan yang dimasak, peranti yang dipakai untuk menghidangkan, sampai minuman yang disajikan. "Semuanya harus serasi," kata Nono sembari menunjukkan koleksi gelas minuman dan perangkat sendok, garpu, serta pisau khusus yang biasa dipakainya untuk menjamu tamu.

Para chef amatir ini dengan senang hati melakukan semuanya. Sebab, proses menyiapkan adalah "ritus" yang nikmat bagi mereka. Ferry Salim selalu berburu sendiri semua bahan dan bumbu. Nono akan menjenguk ruangan kecil berpendingin udara di salah satu sudut rumahnya untuk memilih koleksi anggur yang tertata rapi di rak-rak. Laksmi Pamuntjak mengaku jarang mengundang orang makan. Tapi, sekali dia melakukannya, ketelitian Laksmi pada detail bolehlah dipuji.

Jangankan menu. Dari perangkat makan hingga bunga, semuanya akan terkena sentuhan tangan Laksmi. "Hal itu wajar saja karena kita yang mengundang, bukan mereka mampir kemudian kita masakin," ujarnya. Selain melakukan persiapan, para tuan rumah biasanya berupaya keras memberikan kejutan kepada tamunya. Caranya? Rahasia masak-memasak yang mereka peroleh dari "dapur nenek" hingga wejangan para chef profesional di hotel ataupun restoran ternama akan mereka coba dalam dapur pribadi, untuk tamu-tamu pribadi.

Dalam hal ini, si tuan rumah akan membongkar seluruh pengetahuannya—kalau perlu, menelusuri masa kanak-kanak untuk mengingat-ingat menu yang begitu melekat dalam memori. Inilah kisah Alvin Lie. Anggota DPR dari Fraksi Reformasi itu kerap membantu ibunya meracik aneka bahan masakan di waktu kecil. Sang ibu rupanya menurunkan rahasia saus daging dan sayuran untuk masakan steamboat.

Cara Alvien menguraikan proses dan bahan masakan teppanyaki dan shabu-shabu tak kalah lancarnya dengan saat dia membicarakan soal-soal politik. Masakan pertama yang menjadi favoritnya dan akhirnya dia sendiri mampu membuatnya adalah masakan ibundanya. Ayam lapis—daging ayam diiris tipis, tengahnya diisi pastel, kemudian digulung dan dilapisi tepung roti, lalu digoreng dengan mentega—adalah masakan pertama dan favoritnya, yang kemudian dia tularkan kepada tamu-tamunya. "Ketika bersekolah di luar negeri pun saya sering membuatnya sendiri," kata Alvin.

Sedangkan Ferry Salim amat mementingkan unsur udang dalam setiap masakannya. Tidak cenderung menganut aliran masakan tertentu, Ferry mengatakan lebih menyukai hidangan "ala saya"—entah nasi goreng entah makanan Italia. Di rumahnya, Ferry selalu memastikan minyak zaitun dan keju parmesan cukup tersedia. Aktor ini juga mahir dalam mengolah masakan Cina.

Dia mengaku, yang terpenting dalam acara makan ini bukan melulu makanannya, melainkan mengobrol dengan "teman-teman sejiwa". Para penganut acara "panggil makan" tampaknya mementingkan betul keselarasan lidah, rasa, dan hati setiap kali menantikan tamu di pintu rumah mereka. Nono Makarim bahkan berani berkata, "Jika Anda ingin melayang sampai ke nirwana, datanglah ke rumah." Dia tampaknya tidak sesumbar. Hidangan hati angsa dipadu anggur putih yang disajikannya kepada TEMPO pada sebuah petang pekan lalu adalah harmoni rasa di atas lidah—seperti yang dikatakan dalam sebuah ujaran lama di pedesaan Bretagne, Prancis: di dalam pinggan, Anda bisa menyajikan rasa bahagia, le joie de vivre.

Bina Bektiati, Levi Silalahi, Purwani Diyah Prabandari


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data