Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXI/24 Februari - 02 Maret 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Liku-liku Sebuah Gerilya

Di mata awam, laporan itu tak tampak istimewa. Tapi, bagi para analis perbankan, laporan keuangan tersebut sungguh mengejutkan. Hanya dalam tempo satu bulan, keuntungan Bank Lippo hangus, seperti habis dilalap api.

Bayangkan, November 2002, bank papan tengah itu mencatat laba bersih Rp 99 miliar. Tapi, sebulan kemudian, keuntungan itu lenyap dan digantikan kerugian Rp 1,3 triliun. Ke mana larinya uang sebanyak itu? Para analis ternganga tak percaya.

Kejutan dari laporan keuangan ajaib itu belum mereda, eh, sebuah "bom" baru meledak lagi. Kali ini sumbernya berasal dari Presiden Direktur Bank Lippo, I.G.M. Mantera. Untuk menambal kerugian yang besar itu, Mantera mengatakan, Bank Lippo akan melakukan penambahan kapital. Besarnya tambahan modal memang belum dipastikan, tapi diperkirakan lebih dari Rp 1 triliun. Para analis lagi-lagi melongo. Tiga tahun lalu, bank yang didirikan keluarga Riady itu sudah diinjeksi modal Rp 7,7 triliun dari pemerintah. Kok, mau menambah kapital lagi?

Sementara itu, di pasar modal, harga saham Bank Lippo terus merosot. Dalam tempo tujuh bulan sejak April 2002, harga saham bank terbesar nomor tujuh Indonesia itu telah melorot turun hingga 75 persen. Padahal, harga saham bank lain di bursa Jakarta justru sebaliknya, malah terus membaik (lihat grafik).

Apa yang Terjadi?

Menurut analis perbankan Mirza Adityaswara, sejak Juni lalu para pemain pasar modal telah mencium adanya upaya pengelola Lippo untuk menggembosi harga saham Bank Lippo. Gelagat ini juga dilihat oleh Lin Che Wei. Ia menunjukkan kejanggalan transaksi saham Lippo, yang dilakukan Ciptadana Sekuritas (milik Grup Lippo) bersama sejumlah perusahaan efek tertentu. Beberapa menit menjelang akhir perdagangan, biasanya mereka melakukan jual beli satu atau dua lot saham (500-1.000 unit saham, batas minimal transaksi di bursa Jakarta) dengan harga rendah. Akibatnya, kian hari harga saham Lippo kian merosot.

Ada yang menduga, penurunan harga saham, "hilangnya" pos keuntungan dalam laporan keuangan, dan rencana penambahan kapital merupakan upaya gerilya pemilik lama Bank Lippo (keluarga Riady) untuk membeli kembali bank papan tengah tersebut dengan harga murah. Menurut catatan TEMPO, mayoritas saham Bank Lippo kini dikuasai oleh pemerintah (hampir 60 persen) dan investor publik. Keluarga Riady hanya memiliki 8 persen saham (lihat grafik).

Anjloknya harga saham bank yang memiliki 370 kantor cabang itu diharapkan akan membuat publik pemegang saham Lippo panik lalu melepas sahamnya. Surat saham gentayangan inilah yang kemudian dicaplok pemilik lama Lippo dengan harga rendah.

Bersamaan dengan penurunan harga saham, nilai buku (modal bersih) Lippo juga harus ditekan turun. Caranya gampang: nilai aset-aset Lippo diturunkan. Berdasarkan lelang yang digelar akhir tahun lalu, sejumlah aset Lippo di bidang properti ditawar dengan harga hanya 16 persen dari nilai sebenarnya (lihat Tipu-tipu AYDA). Itu sebabnya, ada kerugian besar yang kemudian dicatatkan pada laporan keuangan Desember 2002.

Penurunan nilai buku ini penting untuk memberi alasan yang rasional pada penurunan harga saham. Selain itu, penurunan modal juga akan memaksa pemilik saham Lippo melakukan injeksi kapital (agar rasio kecukupan modalnya tak turun di bawah ketentuan minimal 8 persen). "Ini indikasi pemilik lama Lippo ingin kembali menguasai banknya," kata Che Wei.

Jika Lippo harus menambah modal, pemerintah (sebagai pemegang saham mayoritas), pasti tak bisa ikut melakukan injeksi. Soalnya, pemerintah tak punya dana. Alih-alih menambah modal, bagian kepemilikan pemerintah di perbankan malah harus segera dijual untuk menutup kekurangan anggaran. Selain itu, apa pun alasannya, DPR pasti tak menyetujui injeksi modal tambahan ke Bank Lippo. "Ini seperti rekapitalisasi babak kedua," kata seorang anggota parlemen.

Dengan cara seperti itu, keluarga Riady bisa menguasai kembali saham Lippo. Caranya, mereka akan membeli "hak" penambahan modal yang tak diambil pemerintah. Nah, jika pemerintah tak lagi menjadi pemegang saham mayoritas, upaya untuk merebut kembali Bank Lippo akan lebih mudah.

Untunglah, skenario amis ini bisa diendus sebelum telanjur dieksekusi. BEJ telah memberi peringatan keras kepada pengelola Bank Lippo. Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) juga tengah menyelidiki kemungkinan adanya manipulasi harga saham. Sementara itu, Menteri Negara BUMN, Laksamana Sukardi, berjanji akan segera melakukan koreksi.

Tapi apa bentuknya? Itu yang masih kita tunggu.

M. Taufiqurohman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data